Harga Minyak dan Risiko Inflasi
Di luar kebijakan bank sentral, harga minyak juga menjadi faktor yang berpotensi menekan pasar forex.
Harga minyak mendekati USD100 per barel pada 31 Agustus 2026 akibat eskalasi konflik AS-Iran.
Kenaikan harga minyak dapat menguntungkan mata uang negara eksportir komoditas, seperti dolar Kanada dan kroner Norwegia. Sebaliknya, negara pengimpor minyak seperti India, Thailand, dan Turki berpotensi menghadapi tekanan ekonomi.
Tingginya harga energi juga dapat mendorong inflasi dan membuat bank sentral mempertahankan sikap hawkish.
Kondisi tersebut berpotensi menekan sentimen risiko. Akibatnya, aset berisiko, termasuk mata uang yang sensitif terhadap sentimen global seperti dolar Australia (AUD) dan dolar Selandia Baru (NZD), berpotensi berada di bawah tekanan.
Baca juga: Gara-gara Ini, Harga Minyak Mentah Indonesia Tembus USD89,43
Risiko Fiskal dan Pasar Obligasi Global
Risiko fiskal dan kondisi pasar obligasi global juga menjadi faktor yang perlu dicermati.
Utang global telah mencapai rekor USD353 triliun. Sementara itu, utang AS menembus USD40 triliun pada Agustus 2026.
Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi jangka panjang Jerman mencapai level tertinggi dalam 15 tahun. Imbal hasil obligasi Prancis juga mencapai level tertinggi dalam 18 tahun.
Kondisi tersebut membuat pasar perlu memperhitungkan kembali risiko fiskal masing-masing negara serta dampaknya terhadap pergerakan mata uang.
Ketidakpastian kebijakan perdagangan antara AS dan Kanada juga berpotensi meningkatkan volatilitas pasar forex.
AS memberlakukan tarif 50 persen terhadap barang-barang Kanada senilai USD20 miliar. Kanada kemudian merespons dengan tarif balasan. (*) Ari Astriawan


