Poin Penting
- Pasar forex September diprediksi volatil karena arah kebijakan The Fed, ECB, dan BOJ akan menjadi perhatian utama pasar.
- Harga minyak dan risiko global meningkat, dipicu ketegangan di Selat Hormuz, risiko fiskal, aksi jual obligasi, serta ketidakpastian perdagangan AS-Kanada.
- Pergerakan mata uang akan sangat bergantung pada kebijakan bank sentral, terutama keputusan suku bunga ECB, The Fed, dan BOJ pada September 2026.
Jakarta – Pasar valuta asing (forex) diproyeksikan menghadapi volatilitas tinggi sepanjang September 2026. Kondisi ini dipengaruhi arah kebijakan tiga bank sentral utama, yakni The Federal Reserve (The Fed), European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BOJ).
Ketiga bank sentral tersebut akan menggelar pertemuan dalam waktu berdekatan, yakni pada 10-18 September 2026. Masing-masing bank sentral disebut berpotensi menaikkan suku bunga.
Selain kebijakan moneter, pasar forex juga menghadapi sejumlah risiko lain. Di antaranya harga minyak yang masih tinggi akibat ketegangan di Selat Hormuz, aksi jual obligasi global, serta ketidakpastian negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Kanada.
Berbagai faktor tersebut menjadi perhatian para trader valuta asing (FX).
Dalam laporan “Traders Outlook”, broker global Elev8 menilai rangkaian keputusan tiga bank sentral tersebut menjadi salah satu faktor utama yang berpotensi menggerakkan pasar forex pada September.
ECB menjadi bank sentral pertama yang menentukan arah kebijakannya pada 10 September 2026. Konsensus pasar memperkirakan ECB akan menaikkan suku bunga.
Risalah rapat Juli menunjukkan adanya anggota yang bersikap hawkish dan mulai mempertimbangkan suku bunga deposito di wilayah restriktif di atas 2,50 persen.
Sementara, pergerakan nilai tukar euro terhadap dolar AS berpotensi menghadapi tarik-menarik ekspektasi kebijakan. Ekspektasi kenaikan suku bunga ECB dapat menopang euro. Sebaliknya, perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed berpotensi memperkuat dolar AS.
Baca juga: Membidik Trader Premium Lewat Program Status Match
The Fed sendiri dijadwalkan akan mengumumkan keputusan terkait suku bunga pada 16 September mendatang. Arah dolar AS akan sangat ditentukan oleh data ekonomi AS yang keluar sebelum pertemuan tersebut, terutama data ketenagakerjaan dan inflasi.
Salah satu indikator pentingnya adalah data payroll Agustus, dengan konsensus pasar di kisaran 55.000-58.000 dan pertumbuhan upah diperkirakan melambat dari 3,2 persen ke 2,9 persen. Sementara, data inflasi atau CPI Agustus dijadwalkan terbit pada 11 September.
Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan disebut bisa memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dan mendorong indeks dolar AS (DXY) lebih tinggi. Sebaliknya, jika data nonfarm payrolls (NFP) lebih lemah dari ekspektasi, The Fed berpotensi menahan suku bunga. Kondisi itu berpeluang membalikkan penguatan dolar yang terjadi pada akhir Agustus.
Sementara itu, BOJ akan menentukan arah kebijakannya dalam pertemuan pada 18 September 2026.
Pasar memperkirakan probabilitas 85-90 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25 persen.
Namun, penguatan yen diproyeksikan masih menghadapi tantangan jika The Fed juga menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut membuat selisih suku bunga AS-Jepang tidak banyak menyempit sehingga daya tarik dolar terhadap yen tetap kuat.
Baca juga: Awas, OJK Tak Pernah Keluarkan Izin Binary Option dan Robot Trading Forex
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun telah mendekati 3 persen. Kebutuhan anggaran fiskal Jepang untuk 2027 juga mencapai rekor 140 triliun yen.


