Poin Penting
- Pemerintah berencana menghidupkan kembali Bond Stabilization Fund (BSF) untuk menjaga stabilitas pasar surat utang negara dari tekanan global dan arus modal asing.
- Panin Sekuritas menilai kehadiran BSF relevan karena yield SBN tenor 10 tahun sempat naik 83 basis poin sejak awal 2026.
- Meski dinilai mampu menahan volatilitas pasar obligasi, efektivitas BSF tetap bergantung pada perbaikan kredibilitas fiskal domestik.
Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berencana menghidupkan kembali Bond Stabilization Fund (BSF) sebagai langkah menjaga stabilitas pasar surat utang negara dari gejolak akibat arus modal asing.
Instrumen tersebut disiapkan oleh pemerintah sebagai dana stabilisasi yang dapat digunakan untuk melakukan pembelian kembali (buyback) Surat Berharga Negara (SBN) ketika yield mengalami kenaikan terlalu tajam.
Baca juga: Purbaya Mau Terbitkan Panda Bond Demi Kurangi Ketergantungan Dolar
Panin Sekuritas dalam ulasan pasarnya menyampaikan bahwa pihaknya menilai urgensi penghidupan BSF ini relevan seiring tekanan aksi jual pada pasar obligasi sejak awal 2026.
Tekanan tersebut dipicu sentimen domestik terkait risiko fiskal hingga tekanan global imbas risk-off environment seiring eskalasi di Timur Tengah.
Yield SBN 10-Yr bahkan sempat meningkat 83 basis poin (bps) sejak awal tahun yang masih tercatat 6,07 persen. Sehingga, kehadiran BSF dapat membantu menjaga sentimen pasar, menahan lonjakan yield, dan memberi keyakinan bahwa pemerintah hadir saat volatilitas meningkat.
“Di sisi lain, ini juga menyiratkan ada tekanan yang lebih besar pada pasar obligasi hingga upaya pembelian SBN di pasar sekunder oleh Bank Indonesia (BI) tidak cukup,” tulis Manajemen Panin Sekuritas dalam risetnya di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2026.
BSF Dinilai Hanya Bersifat Stabilitas
Meski demikian, Panin Sekuritas mengingatkan BSF lebih berfungsi sebagai instrumen stabilisasi dibanding membalikkan tren pelemahan menjadi penguatan di pasar obligasi.
“Namun kami menilai ini dapat memperbaiki risk appetite pasar terhadap SBN dengan catatan adanya perbaikan struktural pada kondisi kredibilitas fiskal domestik,” imbuhnya.
Baca juga: Tak Hanya dari SAL, Purbaya Ungkap Sumber Dana Bond Stabilization Fund
Pemerintah Pastikan Tak Intervensi Berlebihan
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, dalam konferensi pers KSSK menegaskan bahwa tujuan utama pembentukan BSF bukan untuk melakukan intervensi berlebihan di pasar.
Menurutnya, instrumen tersebut disiapkan agar pasar obligasi domestik tetap stabil dan tidak mudah terguncang oleh aksi investor asing.
Purbaya menjelaskan desain awal BSF melibatkan sejumlah lembaga di bawah Kemenkeu, termasuk special mission vehicle (SMV), serta menggunakan Saldo Anggaran Lebih (SAL).
Namun demikian, mekanisme detail dan besaran dana yang akan digunakan masih dalam tahap pembahasan pemerintah. (*)
Editor: Yulian Saputra


