Poin Penting:
- Pemerintah memastikan harga BBM subsidi tidak naik hingga akhir 2026 meski rupiah melemah terhadap dolar AS.
- Kementerian ESDM menyatakan stok Pertalite dan Biosolar nasional masih berada di atas batas cadangan minimal.
- Pemerintah memperkuat ketahanan energi melalui peningkatan produksi minyak dan pembangunan kilang dalam negeri.
Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026, meski nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah. Kepastian itu disampaikan pemerintah setelah kurs dolar AS menembus level Rp17.877 per dolar AS.
Wakil Menteri ESDM Yuliot menegaskan kebijakan harga energi subsidi tetap dijaga pemerintah demi menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global dan pelemahan rupiah yang semakin dalam.
“Untuk kenaikan harga BBM yang untuk subsidi, ini kan sudah disampaikan (tidak naik hingga akhir tahun),” ujar Yuliot ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Antara, Jumat (29/5/2026).
Baca juga: Daftar Harga BBM Terbaru di Pertamina, Shell, BP, dan Vivo Selepas Libur Panjang
Stok BBM Subsidi Diklaim Masih Aman
Selain memastikan harga tetap stabil, pemerintah juga menjamin ketersediaan BBM nasional masih berada dalam kondisi aman. Yuliot menyebut cadangan operasional nasional bahkan berada di atas batas minimal yang telah ditetapkan pemerintah.
Adapun standar minimal stok operasional nasional berada di level 23 hari. Menurut Yuliot, stok Pertalite maupun Biosolar CN48 masih jauh di atas ambang batas tersebut.
“Misalkan untuk Pertalite itu jauh di atas cadangan minimal, dan juga untuk solar CN48 itu juga di atas cadangan minimal,” kata Yuliot.
Tidak hanya untuk BBM subsidi, pemerintah juga memastikan pasokan BBM nonsubsidi tersedia cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri secara nasional.
Di tengah tekanan kurs rupiah terhadap dolar AS, pemerintah mulai memperkuat strategi ketahanan energi domestik. Salah satunya melalui peningkatan produksi minyak dalam negeri dan pengembangan kapasitas kilang nasional.
“Produksi di dalam negeri kami dorong untuk peningkatan, kilang di dalam negeri pun itu juga kami sudah siapkan,” ujar Yuliot.
Rupiah Melemah, Pemerintah Jaga Stabilitas Energi
Nilai tukar rupiah saat ini bergerak di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS. Kondisi tersebut terjadi meskipun Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen untuk memperkuat stabilisasi rupiah.
Berdasarkan Kurs Transaksi BI yang diakses dari Jakarta pada Jumat, kurs dolar AS tercatat menembus Rp17.877 per dolar AS. Pelemahan rupiah tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap biaya impor energi, termasuk minyak mentah dan bahan bakar.
Meski demikian, pemerintah memastikan kebijakan subsidi energi tetap dijaga agar tidak membebani masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tekanan global.
Harga Minyak Dunia Naik, Harga BBM Tetap Dijaga
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan harga BBM bersubsidi masih aman walaupun rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada April 2026 mencapai 117,31 dolar AS per barel.
Menurut Bahlil, pemerintah masih memiliki ruang fiskal karena rata-rata ICP sejak Januari 2026 belum menyentuh level 100 dolar AS per barel.
“Rata-rata ICP kita sekarang itu kurang lebih sekitar 80–81 dolar AS dari bulan Januari sampai sekarang. Jadi, belum sampai 100 dolar AS,” kata Bahlil.
Karena itu, pemerintah optimistis stabilitas harga BBM subsidi tetap dapat dipertahankan hingga akhir tahun.
“Insyaallah sampai akhir tahun,” ujar dia. (*)
Editor: Yulian Saputra


