Poin Penting
- Pembiayaan multiguna mencapai Rp258,73 triliun per April 2026 dan menjadi kontributor terbesar multifinance.
- Pembiayaan modal kerja tumbuh paling tinggi sebesar 10,64 persen secara tahunan.
- OJK meminta perusahaan pembiayaan memperkuat manajemen risiko di tengah tantangan ekonomi.
Jakarta – Industri perusahaan pembiayaan (multifinance) masih mengandalkan pembiayaan multiguna sebagai motor utama pertumbuhan pada 2026. Meski demikian, pelaku industri didorong untuk terus memperkuat manajemen risiko guna menjaga kualitas pembiayaan di tengah berbagai tantangan ekonomi.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM, dan LJK Lainnya OJK, Agusman, membeberkan bahwa pembiayaan multiguna masih mendominasi portofolio industri multifinance hingga April 2026.
“Pada April 2026, penyaluran pembiayaan multiguna masih menjadi kontributor terbesar di industri multifinance,” kata Agusman, dalam keterangannya, dikutip Kamis, 25 Juni 2026.
Pembiayaan Multiguna Tembus Rp258,73 Triliun
Berdasarkan data OJK, per April 2026, nilai pembiayaan multiguna mencapai Rp258,73 triliun. Angka ini tumbuh 2,39 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Baca juga: OJK Optimistis Pembiayaan UMKM Lewat Pindar Masih Cerah, Ini Pendorongnya
Perolehan tersebut menempatkan segmen multiguna sebagai kontributor terbesar terhadap total pembiayaan industri multifinance di Tanah Air.
Sementara itu, pembiayaan investasi tercatat senilai Rp167,75 triliun, namun mengalami kontraksi 2,05 persen yoy.
Diketahui, pelemahan pada segmen ini menunjukkan masih adanya sikap kehati-hatian pelaku usaha dalam melakukan ekspansi investasi di tengah ketidakpastian ekonomi.
Adapun pembiayaan modal kerja mencatat pertumbuhan paling tinggi. Nilainya mencapai Rp55,22 triliun, tumbuh 10,64 persen yoy. Hal ini mencerminkan melonjaknya kebutuhan pendanaan untuk mendukung aktivitas operasional dan pengembangan usaha.
Hadapi Sejumlah Tantangan
Meski mencatat pertumbuhan, Agusman menyebut bahwa perusahaan pembiayaan masih dihadapkan sejumlah tantangan dalam menyalurkan pembiayaan.
Baca juga: Pembiayaan Multiguna iB Hijrah Bank Muamalat Tumbuh 37,1 Persen jadi Rp647 Miliar di 2025
Ia merinci, tantangan tersebut berasal dari dinamika perekonomian, kualitas pembiayaan, hingga pengelolaan risiko yang kian kompleks.
“Dalam penyalurannya, perusahaan pembiayaan menghadapi tantangan, antara lain dinamika perekonomian, kualitas pembiayaan, serta pengelolaan risiko,” jelasnya.
Kondisi tersebut, kata dia, menuntut perusahaan pembiayaan untuk menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan kualitas aset.
Menurut Agusman, penerapan prinsip kehati-hatian menjadi faktor penting untuk menjaga kesehatan industri di tengah ketidakpastian ekonomi global maupun domestik. (*)
Editor: Yulian Saputra


