Poin Penting
- Kualitas pembiayaan BNPL membaik, tercermin dari NPF gross yang turun menjadi 3,09% pada Juni 2026 dari 3,44 persen pada Mei 2026
- OJK mendorong multifinance memperkuat manajemen risiko, terutama dalam menilai kemampuan bayar debitur dan memantau kualitas portofolio secara berkelanjutan
- BNPL terus berkembang di Indonesia seiring meningkatnya adopsi layanan digital, dengan sedikitnya delapan perusahaan pembiayaan yang menyediakan layanan paylater
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat perbaikan kualitas pembiayaan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) perusahaan pembiayaan (multifinance) pada Juni 2026.
Hal ini terlihat dari penurunan Non-Performing Financing (NPF) gross BNPL menjadi 3,09 persen, dari 3,44 persen pada Mei 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman mengatakan penurunan NPF gross BNPL tersebut antara lain ditopang oleh perbaikan kualitas pembayaran debitur.
“NPF gross BNPL Perusahaan Pembiayaan pada Juni 2026 menurun menjadi 3,09% dibandingkan posisi Mei 2026 sebesar 3,44%, antara lain didukung oleh perbaikan kualitas pembayaran debitur,” ujar Agusman, dalam keterangannya, dikutip Jumat, 14 Agustus 2026.
Diketahui, penurunan NPF gross tersebut menunjukkan perbaikan usai sempat melonjak pada Mei 2026. Secara bulanan, NPF gross BNPL turun 0,35 poin persentase.
Baca juga: OJK Proyeksi Pembiayaan Paylater Bakal Moncer di 2026, Ini Pendorongnya
OJK Minta Multifinance Perkuat Manajemen Risiko
Meski kualitas pembiayaan BNPL membaik, industri perusahaan pembiayaan tetap perlu menjaga prinsip kehati-hatian di tengah permintaan terhadap layanan pembiayaan konsumtif yang terus berkembang.
Ia bilang, perusahaan pembiayaan perlu memperkuat manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian untuk menjaga kualitas pembiayaan.
Salah satu langkahnya yakni memperkuat penilaian terhadap kemampuan bayar debitur. Selain itu, perusahaan pembiayaan juga perlu melakukan pemantauan kualitas portofolio secara berkelanjutan.
Baca juga: BNPL: Antara Akselerasi Transaksi dan Disiplin Konsumsi
“Untuk menjaga kualitas pembiayaan, perusahaan pembiayaan perlu terus memperkuat penerapan manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian, antara lain melalui penguatan penilaian kemampuan bayar debitur serta pemantauan kualitas portofolio secara berkelanjutan,” tandasnya.
Sebagai informasi, skema BNPL di Indonesia mulai berkembang seiring rendahnya penetrasi kredit dan meningkatnya adopsi layanan digital di masyarakat.
Dengan tren pertumbuhan yang tinggi dan basis pengguna yang terus meluas, BNPL diproyeksikan menjadi salah satu motor pertumbuhan baru di industri pembiayaan nasional pada tahun ini.
Dari sisi pemain, jumlah perusahaan pembiayaan yang menghadirkan layanan BNPL semakin marak. Berdasarkan catatan Infobanknews, setidaknya ada 8 perusahaan, antara lain :
- Kredivo (PT FinAccel Finance Indonesia)
- Akulaku (PT Akulaku Finance Indonesia)
- Indodana (PT Indodana Multi Finance)
- Home Credit (PT Home Credit Indonesia)
- SPayLater (PT Commerce Finance)
- GoPayLater / Gojek PayLater
- Traveloka PayLater
- OVO PayLater (*)
Editor: Galih Pratama


