Poin Penting
- Wealth management bergeser ke wealth planning, dengan pengelolaan aset yang berangkat dari tujuan finansial, kebutuhan, dan profil risiko nasabah
- Diversifikasi bukan sekadar memperbanyak produk investasi. Setiap aset harus memiliki fungsi, karakteristik risiko, dan likuiditas yang saling melengkapi untuk mencapai tujuan finansial
- Bisnis wealth management OCBC tumbuh 29 persen CAGR sepanjang 2022–Desember 2025 hingga melampaui Rp120 triliun.
Jakarta – Pengelolaan kekayaan atau wealth management kini tidak lagi berfokus mengenai produk mana yang menawarkan potensi imbal hasil terbaik.
Kebutuhan nasabah yang kian kompleks mendorong perubahan pendekatan menuju wealth planning yang menempatkan tujuan finansial sebagai dasar pengelolaan aset
Premier Banking Segment Head OCBC, Stephanie Kristanto mengungkapkan pengelolaan kekayaan seharusnya dimulai dari pemahaman menyeluruh terhadap kebutuhan, profil risiko, serta tujuan finansial nasabah.
“Dalam mengelola kekayaan, fokusnya bukan hanya pada produk apa yang dimiliki, tetapi bagaimana setiap aset dapat memainkan perannya dalam mencapai tujuan finansial nasabah. Karena itu, wealth planning perlu dimulai dari memahami kebutuhan, profil risiko, dan tujuan nasabah secara menyeluruh,” ujar Stephanie, Jumat, 4 September 2026.
Wealth Planning Jadi Dasar Pengelolaan Aset
Ia mengatakan, pendekatan berbasis tujuan sendiri menjadikan keputusan investasi tidak lagi berdiri sendiri. Dana untuk kebutuhan jangka pendek, misalnya, tentu memiliki strategi yang berbeda dengan dana yang dipersiapkan untuk pendidikan anak, pensiun, atau kebutuhan jangka panjang lainnya.
Baca juga: Bentuk Konglomerasi Keuangan, OCBC Tuntaskan Akuisisi 20 Persen Saham GELI
Hal yang sama, lanjut Stephanie, berlaku untuk diversifikasi. Memiliki deposito, obligasi, reksa dana, emas, dan produk investasi lainnya belum tentu membuat sebuah portofolio otomatis terdiversifikasi.
“Yang lebih penting adalah memahami karakteristik, risiko, likuiditas, dan fungsi masing-masing aset dalam keseluruhan portofolio. Dengan demikian, diversifikasi bukan sekadar memiliki lebih banyak produk, melainkan memastikan setiap aset saling melengkapi dan sesuai dengan tujuan finansial yang ingin dicapai,” jelasnya.
Dirinya meyakini bahwa pemilihan alokasi investasi merupakan sebuah keputusan strategis yang harus didasari dengan data, disesuaikan dengan risk appetite dan aspirasi keuangan masing-masing nasabah.
Karena itu, salah satu cara OCBC mendukung nasabah adalah dengan Wealth Report, yang membantu nasabah untuk mengetahui bagaimana portofolio mereka dapat bekerja lebih keras untuk mencapai tujuan finansialnya. Sehingga, nasabah dapat lebih well-informed dan percaya diri dalam mengambil keputusan.
Baca juga: Hati-Hati! Ini Kesalahan Investor Pemula yang Bisa Bikin Rugi
Dengan bantuan Wealth Report, nasabah bersama dengan RM dapat melakukan investment review dan mengidentifikasi “gap” untuk mengoptimalkan kinerja aset yang dimiliki.
“Dari sini, nasabah dapat menyesuaikan strategi ketika kebutuhan, kondisi pasar, atau tahap kehidupan berubah. Sebab, strategi kekayaan yang tepat bukanlah strategi yang bersifat sekali jadi, melainkan strategi yang dapat berkembang mengikuti perjalanan finansial seseorang,” jelasnya.
Bisnis Wealth Management OCBC Tumbuh 29 Persen
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari pengembangan Premier Banking sebagai layanan yang tidak hanya menawarkan solusi investasi, tetapi juga comprehensive wealth management.
Dalam periode 2022 hingga Desember 2025, bisnis wealth management OCBC mencatat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 29 persen, yang melampaui Rp120 triliun.
“Perkembangan ini menunjukkan semakin besarnya kebutuhan nasabah terhadap solusi wealth management yang lebih beragam, mulai dari obligasi, reksa dana, bancassurance hingga berbagai solusi investasi lainnya,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


