Poin Penting
- STAR Asset Management dan Makmur membahas strategi membangun portofolio untuk menghadapi berbagai kondisi pasar.
- Investor perlu menyesuaikan fungsi aset dengan tujuan, kebutuhan likuiditas, dan tahap kehidupan.
- Manajemen risiko menjadi kunci untuk menjaga kekayaan dalam jangka panjang.
Jakarta – STAR Asset Management dan Makmur membahas strategi membangun portofolio yang dapat bertahan menghadapi berbagai siklus pasar. Strategi tersebut dibagikan kepada nasabah Makmur Premium dari segmen high net-worth individual (HNWI).
Pembahasan tersebut berlangsung dalam Makmur Premium Private Event bertajuk “Build to Last” di Jakarta. Acara itu dihadiri sekitar 70 nasabah Makmur Premium dari segmen HNWI.
Sesuai tema acara, diskusi tidak hanya membahas cara memperoleh return, tetapi juga bagaimana menjaga nilai kekayaan dan daya beli dalam jangka panjang.
baca juga: STAR Asset Management: Sektor Perbankan jadi Peluang Emas di Tengah Koreksi Pasar Saham
Investor Perlu Melihat Fungsi Aset
CIO STAR Asset Management Rania Rahmundita mengatakan sejumlah dinamika pasar perlu menjadi perhatian investor. Di antaranya suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi, rupiah yang melemah sekitar 10 persen dalam setahun terakhir, serta koreksi pasar saham Indonesia sekitar 25 persen sepanjang tahun ini.
Di sisi lain, instrumen obligasi Indonesia masih menawarkan return yang relatif menarik.
Menurut Rania, kondisi tersebut membuat investor perlu melihat kembali fungsi setiap aset dalam portofolionya. Tidak semua dana harus memiliki tujuan yang sama.
Sebagian aset dapat digunakan sebagai sumber pendapatan dalam dolar AS, sebagian menghasilkan pendapatan rutin dalam rupiah, sementara aset lainnya tetap likuid untuk dimanfaatkan ketika muncul peluang investasi.
“Dalam membangun portofolio, investor perlu melihat setiap aset berdasarkan fungsinya, bukan hanya berdasarkan return. Diversifikasi bukan sekadar memiliki banyak instrumen, tetapi memastikan setiap bagian dari portofolio memiliki peran yang jelas,” jelas Rania dalam keterangan resmi, Jumat, 4 September 2026.
Baca juga: Celios Ungkap Penyebab Kredit UMKM Melambat, Bukan Karena Likuiditas
Pendekatan tersebut dapat diterapkan melalui beberapa fungsi portofolio, seperti pendapatan dalam dolar AS dan diversifikasi mata uang, pendapatan rutin dalam rupiah, serta pengelolaan likuiditas.
Dalam konteks tersebut, STAR Asset Management menawarkan sejumlah produk pendapatan tetap yang dapat menjadi bagian dari portofolio investor.
Ambil contoh STAR Fixed Income Dollar, yang memberikan eksposur terhadap instrumen pendapatan tetap dalam denominasi USD dan dapat menjadi alternatif bagi investor yang ingin memperoleh income dalam USD sekaligus melakukan diversifikasi mata uang.
Sementara STAR Stable Income Fund dapat menjadi bagian dari portofolio yang ditujukan untuk memperoleh regular income dalam Rupiah melalui eksposur pada obligasi Indonesia.
Adapun STAR Money Market bisa digunakan untuk menjaga likuiditas dan menyediakan dana yang relatif siap digunakan ketika investor membutuhkan fleksibilitas atau melihat peluang investasi baru.
Portofolio Perlu Disesuaikan dengan Usia
Dalam kesempatan sama, Leonard Hartono, pendiri kanal edukasi finansial The Overpost, menyoroti bahwa konstruksi portofolio tidak dapat dilepaskan dari perubahan kapasitas seseorang dalam menghasilkan kekayaan sepanjang hidupnya.
Menurutnya, kekayaan seseorang pada dasarnya tidak hanya terdiri dari financial capital, tetapi juga human capital. Seiring bertambahnya usia, kemampuan seseorang untuk kembali menghasilkan atau “me-refill” kekayaan juga mengalami perubahan.
“Orang berumur lebih konservatif bukan karena penakut tapi karena mesin refill-nya sudah beda ukuran,” imbuhnya.
Baca juga: Star Asset Management luncurkan Reksa Dana Indeks STAR Infobank15
Perspektif itu merefleksikan bahwa strategi investasi idealnya disesuaikan dengan tahap kehidupan investor. Kemampuan mengambil risiko, tujuan investasi, kebutuhan likuiditas, serta kapasitas untuk kembali menghasilkan kekayaan menjadi faktor yang dipertimbangkan dalam membangun portofolio.
Leonard juga menyoroti perbedaan antara inflasi resmi dan “inflasi kehidupan”. Bagi investor, menjaga nilai kekayaan bukan hanya mengenai apakah return investasi mampu mengalahkan angka inflasi, tetapi juga apakah aset yang dimiliki mampu mempertahankan daya beli dan mendukung kebutuhan kehidupan yang terus berkembang.
Manajemen Risiko Jadi Kunci
Kondisi itu turut menjadi sorotan Sander Parawira, CEO Makmur, yang menekankan pentingnya risk management dalam menjaga kekayaan. Menurutnya, leverage tidak menciptakan return, tapi memperbesar hasil dari suatu keputusan baik ketika keputusan tersebut benar maupun salah.
Maka itu, memiliki ide investasi yang tepat saja tidak cukup apabila tidak dibarengi dengan pengelolaan risiko yang disiplin. Salah satu prinsip penting yang ditekankan adalah bahwa kerugian dan keuntungan tidak bersifat simetris. Penurunan nilai yang besar membutuhkan tingkat kenaikan yang jauh lebih tinggi untuk dapat kembali ke posisi semula. (*) Ari Astriawan


