Poin Penting
- Celios memperkirakan kerugian akibat karhutla Kalimantan mencapai Rp123,1 triliun.
- Dampak karhutla berpotensi merembet ke sektor keuangan melalui penurunan produksi dan kemampuan perusahaan membayar utang.
- Asap karhutla dinilai dapat memengaruhi minat investasi di sejumlah negara ASEAN.
Jakarta – Peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan sejak Agustus 2026 masih belum diselesaikan dengan benar. Menurut perhitungan Center of Economic and Law Studies (Celios), kerugian yang ditimbulkan dari peristiwa ini terhitung mencapai Rp123,1 triliun.
Director of Economy Celios, Nailul Huda merincikan kerugian ekonomi yang ditimbulkan mencapai kisaran Rp39 triliun. Sekitar Rp93 triliun di antaranya merupakan kerugian dalam bentuk kesehatan.
“Jadi yang pertama adalah, ketika sekitar Rp93 triliun itu ditanggung oleh siapa? Ketika itu ditanggung oleh negara, tentu negara harus keluar sebesar itu. Juga apabila itu tidak ditanggung oleh negara, otomatis itu adalah ditanggung sama masyarakat secara pribadi. Tentu ini merupakan perekonomian lagi,” kata Huda di sela-sela acara Sarasehan 100 Ekonom kepada Infobanknews, dikutip Jumat, 4 September 2026.
Baca juga: Karhutla Jambi Capai 1.879 Hektare, BPBD Siapkan Water Bombing
Lebih jauh, karhutla yang terjadi di Kalimantan juga bisa memengaruhi kinerja sektor keuangan secara tidak langsung, berawal dari penurunan produksi perusahaan yang terdampak peristiwa ini.
“Perusahaan-perusahaan yang ada di dalam hutan, yang juga mempunyai sangkut-pautnya sama perbankan, mereka pasti akan mengalami penurunan produksi, yang pada akhirnya mengurangi kemampuan untuk membayar utang. Itu pasti akan snowballing efeknya adalah kepada sektor finansial,” bebernya.
Ini yang menjadi alasan kenapa Celios mendesak pemerintah untuk segera mengangkat karhutla di Kalimantan untuk menjadi bencana nasional. Apalagi, dampaknya juga terhitung besar dan sampai merugikan negara lain.
Asap karhutla di Kalimantan sudah mengganggu negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunei, dan Filipina. Pemberitaan terakhir menunjukkan, negara-negara tersebut hendak membawa permasalahan ini ke ASEAN.
Huda menyebut, hal ini disebabkan karena negara-negara tetangga ini juga sudah merasa sangat terganggu dengan asap karhutla dari Kalimantan. Menurutnya, investasi di negara-negara tersebut beroptensi terganggu.
“Kalau saya bilang, pasti negara-negara ini juga akan mengawal terkait dengan investasi yang akan masuk, karena mungkin bisa terganggu akibat adanya karhutla di Indonesia,” sebut Huda.
Celios sendiri, sebut Huda, belum melakukan perhitungan lebih rinci terhadap sektor mana yang paling terganggu akibat karhutla ini. Ia mengatakan, Celios hendak menghitung lebih dalam akan snowball effect yang terjadi, sampai dengan dampaknya ke sektor keuangan.
“Kami juga belum menghitung apakah nanti akan terkait sama gagal bayar dan sebagainya. Itu nanti kami akan hitung, mungkin dalam beberapa bulan ke depan. Pasti akan terasa,” tukasnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


