Poin Penting
- Investor pemula kerap mengejar imbal hasil tinggi tanpa memahami risiko investasi.
- Pemilihan instrumen harus disesuaikan dengan kondisi keuangan dan profil risiko.
- Investor muda mulai lebih berani mengambil risiko seiring meningkatnya akses dan pengetahuan investasi.
Jakarta – PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC) menemukan salah satu kesalahan yang umum ditemukan di kalangan investor pemula. Kesalahan tersebut adalah terlalu gencar mencari instrumen investasi yang memiliki imbal balik tinggi.
“Dia pengen return-nya yang pokoknya paling gede. Ingin cepat kaya. Jadi dia pokoknya ambil yang emang return-nya gede tanpa dia tahu apa sebenarnya risiko di baliknya,” kata Personal Banking Segment Head OCBC, Lauda Muliana, Kamis, 27 Agustus 2026.
Padahal, Lauda melihat, proses investasi untuk mencapai kekayaan sejatinya memerlukan kedisiplinan. Ini menjadi pekerjaan rumah untuk OCBC dalam mengedukasi nasabahnya, utamanya generasi muda, supaya tidak sembarangan memilih instrumen investasi.
Baca juga: Tak Perlu Jutaan, OCBC Ungkap Investasi Bisa Dimulai dari Rp10.000
Wealth Management Advisory Head OCBC, Diamond Stole, mengatakan investor muda juga kerap menilai sebuah produk hanya dari potensi imbal hasilnya.
Ketidaksesuaian tersebut dapat meningkatkan risiko kerugian, terutama ketika investor membutuhkan dana pada saat kondisi pasar sedang bergejolak.
“Makanya, takutnya saat lagi di dalam proses berinvestasi, lalu tiba-tiba butuh likuiditas, ternyata market-nya lagi naik turun. Jadi dia harus realize loss-nya,” ungkap Diamond.
Karena itu, Diamond mengingatkan investor untuk mempelajari kondisi keuangan dan profil risiko secara cermat sebelum menempatkan dana pada instrumen investasi tertentu.
Baca juga: Modal Makin Terjangkau, Investasi Emas Bisa Dimulai 0,1 Miligram
Investor Muda Mulai Lebih Agresif
Berdasarkan pengamatan OCBC, banyak nasabah pemula yang memilih profil risiko konservatif dan moderat ketika mulai berinvestasi.
Namun, seiring semakin luasnya akses terhadap berbagai produk investasi dan meningkatnya pengetahuan finansial, sebagian investor mulai beralih ke profil risiko yang lebih agresif.
“Yang (profil risikonya) agresif sekarang populasinya juga cukup lumayan. Bahkan bilang bukan cuma yang sudah berumur aja, kami lihat banyak yang dari sekarang yang masih muda pun sudah mulai bisa agresif, (karena) pengetahuan investasinya juga sudah lebih bagus,” tutupnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


