Poin Penting
- OCBC menilai strategi portofolio berbasis profil risiko menjadi kunci mencapai tujuan investasi di tengah volatilitas pasar.
- Nasabah kini semakin fokus pada perlindungan aset dan perencanaan warisan, selain pertumbuhan kekayaan.
- Bisnis wealth management OCBC tumbuh dengan CAGR 29% hingga melampaui Rp120 triliun pada 2025.
Jakarta – Volatilitas pasar akibat dinamika geopolitik, kebijakan fiskal, dan ketidakpastian ekonomi bukanlah fenomena baru di industri investasi. Karena itu, strategi pengelolaan portofolio menjadi faktor kunci agar nasabah tetap bisa mencapai tujuan keuangannya.
Wealth Management Advisory Head OCBC Indonesia, Diamond Stole, membeberkan gejolak pasar selalu terjadi dalam berbagai periode, mulai dari pandemi Covid-19 hingga ketegangan geopolitik saat ini.
Menurutnya, tantangan tersebut justru menegaskan akan pentingnya perencanaan investasi yang disesuaikan dengan profil risiko serta tujuan keuangan tiap nasabah.
“Volatilitas selalu ada. Nah, balik lagi bagaimana cara kita dari wealth management bisa melengkapi customer dengan tools-tools yang ada,” ujar Diamond, di Jakarta, Selasa, 30 Juni 2026.
Baca juga: BTN Bidik Bisnis Wealth Management Tumbuh 15 Persen di 2026, Begini Strateginya
Ia menjelaskan, langkah perdana yang dilakukan perseroan yakni membantu nasabah menetapkan tujuan investasi, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Setelah itu, bank bakal memetakan profil risiko sebelum memberikan rekomendasi instrumen investasi yang sesuai kepada nasabah.
Untuk nasabah ritel misalnya, OCBC menyediakan fitur Life Goals yang membantu menyusun rencana keuangan berdasarkan tujuan investasi.
Adapun bagi nasabah Premier Banking, OCBC menghadirkan layanan Wealth Discovery untuk memetakan kondisi keuangan dan strategi investasi yang lebih komprehensif.
Ia juga mengungkapkan karakteristik nasabah wealth management mulai berubah. Jika sebelumnya mayoritas berfokus pada pertumbuhan aset (wealth accumulation), kini semakin banyak nasabah yang mulai memperhatikan perlindungan aset hingga perencanaan warisan (legacy planning) sejak usia lebih muda
“Semakin kita lihat nasabah saat ini lebih sophisticated. Mereka ingin mengetahui model portofolio yang paling sesuai dengan tujuan dan profil risikonya,” ujarnya.
Pendekatan Customer Centricity
Sementara itu, Premier Banking Segment Head OCBC Indonesia, Stefani Kristanto, menambahkan, pendekatan inti dalam layanan wealth management OCBC yakni customer centricity atau menyesuaikan strategi investasi dengan kebutuhan masing-masing nasabah.
Menurutnya, perubahan kondisi ekonomi akibat faktor politik, geopolitik, maupun kebijakan fiskal bakal memengaruhi inflasi, daya beli, hingga pergerakan pasar keuangan. Oleh karena itu, portofolio investasi seyogyanya perlu dievaluasi dan disesuaikan secara berkala.
“Tidak ada one portfolio fits all. Yang penting adalah tujuannya. Yang berubah adalah bagaimana portofolionya bisa berubah agar tujuan tersebut tetap bisa dicapai meskipun kondisi ekonomi terus berubah,” bebernya.
Baca juga: OCBC Optimistis Bisnis Wealth Management Tetap Moncer di Tengah Volatilitas Pasar
Ia menambahkan, OCBC sendiri mengandalkan tim Wealth Management Advisor bersama Relationship Manager untuk mendampingi nasabah dalam mengevaluasi portofolio dan memberikan rekomendasi investasi sesuai dinamika pasar.
Berdasarkan data OCBC, dalam periode 2022 hingga Desember 2025, bisnis wealth management OCBC mencatat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 29 persen, yang melampaui Rp120 triliun.
Pada saat yang sama, transformasi digital juga terus mendorong perubahan perilaku nasabah dalam mengelola kebutuhan finansial mereka. Porsi transaksi wealth melalui kanal digital meningkat dari 30 persen pada 2024, menjadi 44 persen pada 2025.
Selain itu, jumlah transaksi obligasi melalui platform digital tumbuh 50 persen secara tahunan (year-on-year), dengan volume meningkat 89 persen secara tahunan.
Ikuti Arah Suku Bunga Bank Indonesia
Terkait prospek suku bunga simpanan, Stefani mengatakan bahwa perseroan akan mengikuti kebijakan suku bunga yang ditetapkan Bank Indonesia.
Menurutnya, perubahan suku bunga acuan bakal memengaruhi penyesuaian bunga simpanan di industri perbankan secara umum.
“Kalau bunga itu tentu saja sebagai bank, kami akan mengikuti dari penyesuaian yang dilakukan tentunya dari Bank Indonesia,” tegasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


