Poin Penting
- Bank OCBC NISP menilai volatilitas global mendorong demokratisasi investasi lewat teknologi digital
- Direktur Bank OCBC NISP Johannes Husin menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia menopang prospek bisnis wealth management
- AUM wealth management OCBC NISP mencapai Rp120 triliun pada 2025, dengan transaksi digital tumbuh 44 persen.
Jakarta – Ketidakpastian dan volatilitas ekonomi global terus membayangi berbagai sektor, termasuk industri perbankan. Salah satu lini bisnis yang ikut terdampak adalah layanan wealth management.
Direktur Bank OCBC NISP, Johannes Husin, mengatakan volatilitas pasar sebenarnya sudah berlangsung sejak pandemi Covid-19. Namun di tengah kondisi tersebut, perkembangan teknologi justru mendorong keterbukaan akses informasi investasi dan memperluas inklusivitas pasar.
“Itu sekarang semua orang di dunia yang memang mengerti program dan punya akses untuk investasi bisa memulai pasar. Kita lihat banyak social media juga yang berfokus di industri ini. Nah, itu adalah sesuatu yang baik,” ujar Johannes saat media gathering di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.
Baca juga: Caplok Bisnis HSBC, OCBC Bidik Pertumbuhan Wealth Management di RI
Menurut Johannes, demokratisasi informasi investasi juga didukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap solid di kisaran 5 persen. Kondisi tersebut dinilai mampu menciptakan kelompok masyarakat kaya baru yang akan menopang pertumbuhan bisnis wealth management ke depan.
“Jika misalnya kita lihat data ya, dalam beberapa tahun terakhir, bahkan sebelum COVID, jumlah dana yang dimiliki oleh kalangan menengah ke atas, itu tumbuh terus. Jelas ini positif untuk mendukung perkembangan bisnis wealth management,” terangnya.
Ia menilai pertumbuhan kekayaan masyarakat turut menciptakan dana menganggur yang membutuhkan instrumen investasi. Di sinilah layanan wealth management berperan dalam mengoptimalkan pengelolaan aset nasabah.
“Jadi, dengan pertumbuhan ekonomi yang sehat, akan membawa middle class kita tumbuh. Walaupun akhir-akhir ini memang datanya agak turun, tapi kita tahu ekonomi kita itu resilient. Kita selalu berpikir positif dan lihat historical data, kita tumbuh terus,” cetusnya.
Johannes juga menilai kondisi volatilitas pasar saat ini menjadi momentum pembelajaran bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk nasabah. Pasalnya, gejolak pasar dipicu sejumlah faktor sekaligus, mulai dari sentimen penurunan peringkat pasar modal Indonesia oleh MSCI hingga konflik di Timur Tengah.
Selain itu, ia menilai instrumen investasi domestik dengan imbal hasil sekitar 6 persen dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk kembali berinvestasi di dalam negeri.
“Artinya, pihak perbankan, pihak regulator harus melihat bahwa harta yang tumbuh di negara Indonesia ini bisa diinvestasikan ke dalam produk-produk dalam negeri, dan ini untuk penumbuhan negara kita,” tandas Johannes.
Baca juga: OCBC Cetak Laba Rp1,36 Triliun di Kuartal I 2026, Tumbuh 5 Persen
Sebagai informasi, OCBC NISP mencatat asset under management (AUM) wealth management mencapai Rp120 triliun hingga 2025. Nilai tersebut mencakup produk reksa dana, obligasi, asuransi, forex, hingga emas.
Pada 2025, perseroan juga membukukan pertumbuhan transaksi digital produk wealth management sebesar 44 persen, dengan sekitar setengah transaksi berasal dari produk obligasi digital.
Secara keseluruhan, AUM wealth management OCBC NISP tumbuh 29 persen sepanjang 2022 hingga 2025 menjadi Rp120 triliun. (*) Steven Widjaja


