Poin Penting
- Moody’s memberikan peringkat Baa2 dengan outlook negatif kepada Danantara, sementara S&P memberi rating BBB dengan outlook stabil.
- Hans Kwee menilai outlook negatif lebih dipengaruhi faktor tata kelola, konsistensi kebijakan, dan strategi investasi, bukan kondisi finansial Danantara.
- Fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat dengan pertumbuhan ekonomi terjaga, inflasi terkendali, dan posisi fiskal yang relatif sehat.
Jakarta – Praktisi pasar modal sekaligus Co-founder PasarDana, Hans Kwee, menilai pemberian peringkat kredit oleh S&P Global dan Moody’s terhadap Danantara Investment Management (DIM) tidak mencerminkan memburuknya kondisi ekonomi Indonesia.
Menurut Hans, peringkat yang diberikan kedua lembaga pemeringkat global tersebut masih berada dalam kategori investment grade, yang menunjukkan Danantara tetap memiliki kemampuan memenuhi kewajiban finansialnya.
Sebagai informasi, DIM memperoleh peringkat kredit jangka panjang ‘BBB’ dan jangka pendek ‘A-2’ dengan outlook stabil dari S&P Global. Sementara itu, Moody’s memberikan peringkat ‘Baa2’ dengan outlook negatif.
Baca juga: Moody’s Beri Peringkat Baa2 untuk Danantara Investment, Outlook Tetap Negatif
Hans menjelaskan, outlook negatif yang diberikan Moody’s lebih berkaitan dengan aspek tata kelola (governance) dan kepastian kebijakan dibandingkan kondisi keuangan Danantara saat ini.
Beberapa faktor yang menjadi perhatian antara lain konsistensi komunikasi kebijakan pemerintah, tata kelola BUMN, arah strategi investasi Danantara, serta pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ke depan.
Penempatan rating DIM yang sejajar dengan peringkat Pemerintah Indonesia juga menunjukkan adanya persepsi kuat bahwa negara akan memberikan dukungan apabila Danantara menghadapi tekanan.
“Persoalan utama yang disoroti bukanlah kemampuan finansial Danantara saat ini, melainkan faktor governance dan kepastian kebijakan. Moody’s dan S&P melihat adanya keterkaitan yang sangat kuat antara Danantara dan pemerintah sehingga risiko yang melekat pada keduanya juga dipersepsikan serupa,” kata Hans, dalam keterangannya, Kamis, 4 Juni 2026.
Fundamental Ekonomi Dinilai Tetap Kuat
Meski terdapat outlook negatif dari Moody’s, Hans menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih relatif solid.
Menurutnya, Indonesia tidak berada dalam kondisi resesi dan pertumbuhan ekonomi masih terjaga di kisaran 5,6 persen. Selain itu, inflasi dinilai tetap terkendali meski harga energi global masih tinggi.
Baca juga: Purbaya Bantah Isu Digeser dari Kursi Menteri Keuangan: Enggak Benar Lah
Lebih lanjut, Hans juga menyoroti posisi fiskal pemerintah yang masih cukup sehat serta neraca perdagangan yang tetap mencatat surplus meskipun mengalami penyusutan akibat meningkatnya impor energi.
Dukungan juga datang dari sektor komoditas yang masih memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian nasional, terutama ketika harga komoditas global berada pada level yang menguntungkan.
“Dari sisi fundamental, ekonomi Indonesia tidak seburuk yang dikhawatirkan pasar. Pertumbuhan masih terjaga, inflasi terkendali, dan kondisi fiskal relatif baik. Hal yang menjadi perhatian investor saat ini lebih kepada tata kelola dan konsistensi kebijakan,” katanya.
Pemerintah Diminta Perkuat Komunikasi Kebijakan
Hans menyarankan pemerintah terus memperkuat komunikasi kebijakan dan menjaga pengelolaan APBN secara prudent guna mempertahankan kepercayaan investor,
Selain itu, strategi investasi Danantara juga perlu diperjelas agar memberikan kepastian bagi pelaku pasar dan lembaga pemeringkat.
Baca juga: SBY: Pertumbuhan Tinggi Tak Menjamin Stabilitas jika Ketimpangan Membesar
Menurutnya, langkah-langkah tersebut penting untuk menjaga persepsi positif investor sekaligus membuka peluang perbaikan outlook pada masa mendatang.
“Langkah ini sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus membuka peluang perbaikan outlook di masa mendatang,” tandasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


