Poin Penting
- Kadin menilai investasi sektor kesehatan berpotensi menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi nasional.
- Nilai ekonomi sektor kesehatan diperkirakan mencapai Rp670 triliun per tahun dengan multiplier effect hingga 2-3 kali.
- Investasi kesehatan juga dapat memperkuat industri farmasi nasional dan mengurangi ketergantungan impor bahan baku.
Jakarta – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, mengungkapkan investasi di sektor kesehatan memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurutnya, selain meningkatkan akses layanan kesehatan, investasi di sektor tersebut dinilai mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi berbagai sektor usaha.
Berdasarkan White Paper Kadin Indonesia yang disusun bersama Kementerian Kesehatan, nilai ekonomi sektor kesehatan di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar Rp670 triliun per tahun.
Ia mengatakan, setiap investasi yang masuk ke sektor kesehatan berpotensi menghasilkan dampak ekonomi yang jauh lebih besar.
“Rp670 triliun itu setiap Rp1 yang dikeluarkan di dalam health ini menghasilkan Rp2 sampai Rp3 lagi untuk multiplier effect-nya,” ujar Anin, dalam keterangannya, dikutip Sabtu, 25 Juli 2026.
Baca juga: Implementasi P2KDBK Dinilai Perkuat Ketahanan dan Daya Saing Industri
Ia mengatakan, potensi ekonomi sektor kesehatan selama ini belum banyak disadari. Padahal, investasi di bidang tersebut tidak hanya meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tetapi juga membantu mengurangi beban pembiayaan pemerintah, termasuk dalam penyelenggaraan layanan kesehatan melalui BPJS Kesehatan.
Kurangi Ketergantungan Impor Bahan Baku Farmasi
Selain memberikan dampak ekonomi, Anindya menilai investasi di sektor kesehatan juga dapat memperkuat industri farmasi nasional melalui peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.
Menurut dia, Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku farmasi sehingga pengembangan industri lokal menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing nasional.
Baca juga: Alarm Dunia Usaha Menyala, Pelemahan Rupiah dan Regulasi Jadi Biang Kerok
“Selama ini banyak bahan yang impor. Jadi kalau misalnya bisa mengurangi impor ini, maka industri dalam negeri bisa maju,” katanya.
Ia berharap masuknya investasi baru dapat mempercepat pengembangan industri farmasi nasional sekaligus memperkuat rantai pasok kesehatan di dalam negeri. (*)
Editor: Yulian Saputra


