Poin Penting
- Maybank Women Eco-Weavers (MWEW) telah memberdayakan 2.617 perempuan penenun di lima negara ASEAN hingga Juni 2026.
- Program ini juga mendukung 3.024 petani serta membudidayakan lebih dari 887 ribu tanaman serat alami.
- MWEW menggabungkan pelestarian warisan tekstil tradisional dengan pemberdayaan ekonomi perempuan dan mata pencaharian berkelanjutan.
Bali – PT Bank Maybank
Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) memperkuat pemberdayaan ekonomi perempuan melalui program Maybank Women Eco-Weavers (MWEW) yang memasuki satu dekade sejak diluncurkan pada 2016. Hingga Juni 2026, program tersebut telah memberdayakan 2.617 perempuan penenun di lima negara ASEAN.
Program unggulan Maybank Foundation tersebut tidak hanya berfokus pada pelestarian warisan tekstil tradisional ASEAN, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi perempuan, inklusi keuangan, serta pengembangan mata pencaharian berkelanjutan.
Baca juga: Maybank Marathon Targetkan Netral Karbon 2030 Lewat Program Desa Rendah Emisi
Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan mengatakan, pemberdayaan perempuan melalui MWEW menjadi bagian dari komitmen Maybank untuk memberikan dampak positif kepada masyarakat melalui kolaborasi.
“Semangat yang sama juga kami hadirkan melalui Maybank Women Eco-Weavers, yang tahun ini menandai satu dekade kiprahnya dalam memberdayakan perempuan dan komunitas di berbagai negara ASEAN,” kata Steffano dalam Maybank Marathon Sustainability Day 2026 di Gianyar, Bali, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Baca juga: Target Ekonomi Rp300 Miliar Maybank Marathon 2026 Diyakini Tercapai, Ini Penopangnya
Bangun Ekosistem Tenun Berkelanjutan
Sejak pertama kali diluncurkan di Lombok, Indonesia pada 2016, MWEW telah berkembang menjadi ekosistem regional yang menghubungkan perempuan penenun, petani serat alami, mitra program, dan masyarakat di Indonesia, Malaysia, Kamboja, Laos, dan Filipina.
Ekosistem tersebut mencakup berbagai tahapan, mulai dari budidaya serat alami dan serikultur, pewarnaan alami, hingga proses tenun, inovasi produk, dan akses pasar.
Hingga 30 Juni 2026, selain memberdayakan 2.617 perempuan penenun di lima negara ASEAN, MWEW juga telah mendukung 3.024 petani di empat negara ASEAN. Program ini turut membudidayakan lebih dari 813.500 pohon murbei, 55.300 tanaman kapas, dan 18.700 pohon abaka.
Untuk memperkuat kapasitas masyarakat, MWEW juga telah mendirikan 13 pusat pelatihan tenun, satu galeri tenun, dan satu laboratorium pewarna alami.
Group Chief Sustainability Officer Maybank dan Principal Officer Maybank Labuan Foundation Datuk Shahril Azuar Jimin mengatakan, perjalanan satu dekade MWEW menunjukkan bahwa pelestarian warisan budaya dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Perjalanan ini bukan dibangun oleh satu pihak saja, tetapi melalui kolaborasi para perempuan penenun, petani, mitra program, masyarakat dan berbagai pihak yang selama satu dekade telah bersama-sama melestarikan warisan tenun, terus mendorong kemandirian ekonomi perempuan, dan memperkuat mata pencaharian berkelanjutan,” ujar Shahril, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Baca juga: Target Ekonomi Rp300 Miliar Maybank Marathon 2026 Diyakini Tercapai, Ini Penopangnya
Menurut dia, kolaborasi tersebut sekaligus diarahkan untuk menjaga warisan budaya dan lingkungan bagi generasi mendatang.
Maybank Perluas Agenda Keberlanjutan
Maybank menyoroti perjalanan satu dekade MWEW tersebut dalam Maybank Marathon Sustainability Day 2026 yang digelar menjelang puncak Maybank Marathon 2026 in Partnership with Visa.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Maybank memperluas dampak ajang olahraga tersebut melalui program sosial dan lingkungan.
Selain MWEW, rangkaian Sustainability Day 2026 juga mencakup gerakan “Jejak Hijau Desa Sanding” untuk mendorong transformasi desa berkelanjutan serta Piduh Charity Program yang ditujukan untuk memberdayakan 100 generasi muda, penyandang disabilitas, dan anak yatim di Bali.
Maybank juga mengaitkan agenda keberlanjutan tersebut dengan aspirasi menjadikan Maybank Marathon sebagai ajang lari netral karbon pada 2030 melalui penghitungan jejak emisi dan penyusunan langkah dekarbonisasi. (*) Ayu Utami


