Poin Penting
- Sentimen bisnis kuartal II 2026 melemah akibat rupiah tertekan, regulasi tidak pasti, dan kebijakan fiskal
- Minat investasi menurun, dengan 43,5 persen pelaku usaha menunda investasi enam bulan ke depan
- Birokrasi dan regulasi jadi hambatan utama, namun Kadin tetap optimistis ekonomi tumbuh sekitar 5 persen pada 2026
Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Institute mencatat sentimen dunia usaha kembali melemah pada kuartal II 2026.
Pelemahan nilai tukar rupiah, ketidakpastian regulasi, hingga arah kebijakan fiskal menjadi faktor utama yang menekan aktivitas bisnis dan minat investasi pelaku usaha.
Catatan tersebut tertuang dalam survei Kadin Business Pulse bertajuk Ketahanan Dunia Usaha di Tengah Pelemahan Rupiah dan Peluang ICA-CEPA yang dirilis pada Kamis, 16 Juli 2026.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie mengatakan, sepanjang kuartal II 2026 dunia usaha menghadapi tekanan akibat ketidakpastian geopolitik, pelemahan rupiah, kenaikan biaya energi, daya beli masyarakat yang belum pulih, hingga kepastian regulasi yang dinilai masih menjadi tantangan.
Meski begitu, ia menilai perhatian investor global kini mulai bergeser. Jika sebelumnya fokus pada besarnya potensi ekonomi naisonal, kini yang menjadi sorotan adalah kemampuan pemerintah mengeksekusi kebijakan secara konsisten.
“Sekarang dunia luar tidak lagi menanyakan potensi Indonesia. Mereka sudah paham dan percaya. Yang selalu ditanyakan adalah apakah Indonesia bisa mengeksekusi kebijakannya, apakah regulasinya memiliki kepastian, dan apakah Indonesia punya talenta untuk mencapai Indonesia Emas,” kata Anindya.
Kondisi Bisnis Memburuk
Sementara itu, Direktur Insights Kadin Indonesia Institute, Fakhrul Fulvian, mengatakan hasil survei menunjukkan sentimen bisnis pada kuartal II 2026 lebih lemah dibandingkan kuartal sebelumnya.
Baca juga: Kadin Sebut Investasi Kesehatan Ciptakan Lapangan Kerja dan Tingkatkan Daya Saing
Sebanyak 47,1 persen pelaku usaha menyatakan kondisi bisnis memburuk dibandingkan kuartal I 2026, naik dari 40,5 persen pada survei sebelumnya.
Sebaliknya, hanya 22,8 persen responden yang menilai kondisi bisnis membaik, turun dari 25,2 persen.
Kelompok usaha kecil dan menengah (UKM) menjadi yang paling terdampak. Sebanyak 50,6 persen pelaku UKM menyatakan kondisi usahanya memburuk.
“Fokus utama pelaku usaha adalah pelemahan rupiah dan kepastian kebijakan fiskal pemerintah,” ujar Fakhrul.
Survei juga menunjukkan pelemahan terjadi pada sektor industri. Sebanyak 51,8 persen pelaku usaha menilai kondisi sektor industri memburuk, meningkat dibandingkan 44,3 persen pada kuartal sebelumnya.
Minat Investasi Menurun
Sementara itu, Kadin juga mencatat minat investasi pelaku usaha semakin tertahan. Sebanyak 43,5 persen responden menyatakan tidak berencana melakukan investasi dalam enam bulan ke depan, naik dari 39 persen pada kuartal I 2026.
Baca juga: Kadin-SBF Perkuat Kerja Sama Digital, AI Didorong Genjot Ekspor UMKM
Sementara itu, pelaku usaha yang masih berencana melakukan investasi turun menjadi 34,4 persen, dari sebelumnya 38,6 persen.
Menurut Fakhrul, pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor yang paling membebani operasional perusahaan karena meningkatkan biaya produksi, terutama bagi industri yang bergantung pada bahan baku impor.
“Yang paling menjadi perhatian adalah kenaikan biaya operasional akibat pelemahan rupiah. Di sisi lain, pelaku usaha belum bisa sepenuhnya meneruskan kenaikan harga bahan baku karena daya beli masyarakat belum terlalu membaik,” katanya.
Birokrasi dan Regulasi Jadi Tantangan Terbesar
Survei Kadin juga menunjukkan persoalan birokrasi dan regulasi kini menjadi tantangan utama dunia usaha.
Sebanyak 16,4 persen responden menilai birokrasi dan regulasi sebagai hambatan terbesar, meningkat dibandingkan 14,3 persen pada kuartal I 2026.
Posisi tersebut melampaui tantangan yang berasal dari kebijakan dan program pemerintah yang berada di angka 14,8 persen.
Kondisi itu antara lain dipengaruhi oleh ketidakpastian regulasi di sektor komoditas unggulan, termasuk pertambangan.
Meski demikian, Kadin melihat masih terdapat sumber optimisme dari membaiknya pasar internasional seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Sebanyak 26,6 persen pelaku usaha menilai perkembangan pasar menjadi faktor utama yang dapat mendorong perbaikan bisnis.
Kadin Dorong Stabilitas Rupiah dan Pemanfaatan ICA-CEPA
Anindya mengatakan fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Ia optimistis pertumbuhan ekonomi nasional tetap dapat bertahan di kisaran 5 persen pada 2026, didukung inflasi yang terkendali dan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) yang relatif rendah dibandingkan negara anggota G20.
Ia juga mendorong pelaku usaha mempercepat adopsi teknologi, meningkatkan efisiensi, menjaga lapangan kerja, serta memanfaatkan berbagai perjanjian perdagangan internasional untuk memperluas ekspor.
Menurut Anindya, pemanfaatan perjanjian dagang seperti Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) masih rendah.
“Sekitar 80 persen pelaku usaha belum mengetahui detail pemanfaatan CEPA. Padahal sebentar lagi perjanjian dengan Uni Eropa akan berjalan dan Kanada juga sudah kita tandatangani pada awal tahun,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


