Poin Penting
- Mirae Asset menilai pasar domestik masih rentan akibat tekanan eksternal, pelemahan rupiah, dan risiko perlambatan ekonomi
- IHSG naik 0,72 persen, tetapi masih dibayangi net sell asing Rp2,2 triliun dan pelemahan rupiah ke Rp17.744 per dolar AS
- Tekanan tambahan datang dari rebalancing MSCI yang berpotensi memicu outflow besar dan meningkatkan volatilitas pasar.
Jakarta – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan domestik masih berada dalam fase yang rentan di tengah meningkatnya tekanan eksternal, pelemahan rupiah, serta kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan domestik.
Pada perdagangan Senin (25/5) IHSG ditutup menguat 0,72 persen ke level 6.206,35, ditopang kenaikan sejumlah saham big caps termasuk AMMN, BBRI, dan BBCA.
Namun penguatan tersebut masih dibayangi foreign net sell sekitar Rp2,2 triliun menjelang implementasi rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI). Di saat yang sama, rupiah kembali melemah ke level Rp17.744 per dolar Amerika Serikat (AS).
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai rebound IHSG saat ini masih bersifat teknikal dan belum didukung perbaikan fundamental arus modal asing.
Baca juga: FTSE Russell Depak 4 Saham Indonesia, Ini Daftarnya
“Selama volatilitas rupiah masih tinggi dan foreign outflow belum mereda, investor global cenderung tetap defensif terhadap aset domestik. Penguatan pasar saat ini masih relatif rapuh,” ucap Rully dalam keterangan resmi di Jakarta, 26 Mei 2026.
Selain itu, lanjut Rully, IHSG sebelumnya mengalami pelemahan hingga 8,35 persen di sepanjang perdagangan 18–22 Mei 2026 dan parkir pada posisi 6.162,04.
“Pelemahan terjadi di tengah meningkatnya aktivitas transaksi dan tekanan jual investor asing, sementara kapitalisasi pasar tergerus 10,07 persen menjadi Rp10.635 triliun terpangkas sekitar Rp1.190 triliun hanya dalam sepekan,” imbuhnya.
Rully juga menyoroti pergeseran fokus pasar dari isu inflasi menuju kekhawatiran perlambatan pertumbuhan tercermin dari dinamika yield obligasi domestik pasca kenaikan BI Rate 50 basis poin.
Baca juga: RMK Energy Bakal Stock Split Saham 1:5, Cek Jadwalnya
Di sisi lain, tekanan utama bersumber dari rebalancing MSCI yang efektif pada 1 Juni 2026 mendatang. Rebalancing MSCI menghapus enam saham Indonesia dari Global Standard Index dengan estimasi potensi outflow hingga USD1,7 miliar.
Hal tersebut belum termasuk risiko penurunan status Indonesia dari Emerging Market ke Frontier Market jika masalah struktural tidak segera dibenahi. (*)
Editor: Galih Pratama


