Poin Penting
- Manulife menilai pasar Asia masih menyimpan peluang investasi pada semester II 2026 meski dibayangi geopolitik dan suku bunga tinggi
- Bank sentral diperkirakan tetap hawkish sehingga investor perlu lebih selektif dalam memilih aset
- Obligasi jangka pendek dan aset berkualitas dinilai menarik untuk menghadapi ketidakpastian pasar.
Jakarta – Manulife Investment Management menilai pasar Asia masih menyimpan peluang investasi pada semester II 2026 meski dibayangi konflik geopolitik di Timur Tengah, tekanan inflasi global, dan kebijakan bank sentral yang cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer).
Dalam laporan pandangan pasar Asia dan strategi investasi untuk paruh kedua 2026, perusahaan menekankan pentingnya pengelolaan investasi secara aktif serta seleksi aset yang lebih ketat di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Manulife Investment Management menyebut konflik geopolitik yang berkepanjangan telah memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi dan arah kebijakan moneter di berbagai negara.
Meski demikian, kawasan Asia dinilai masih memiliki daya tahan yang kuat, didukung oleh penguatan infrastruktur teknologi dan ketahanan energi domestik.
Bank Sentral Diperkirakan Tetap Hawkish
Senior Global Macro Strategist Manulife Investment Management, Yuting Shao, mengatakan ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter secara serentak mulai berubah.
Baca juga: Laba Manulife Indonesia Melejit 161,5 Persen di 2025, Tembus Rp1,28 Triliun
“Tekanan biaya energi yang masih tinggi memaksa bank sentral di sejumlah kawasan untuk mempertahankan sikap hawkish guna mengantisipasi dampak lanjutan terhadap inflasi,” kata Shao dalam keterangan tertulis, Selasa, 14 Juli 2026.
Menurutnya, siklus ekonomi global kini bergerak semakin tidak merata. Negara yang memiliki ketahanan energi domestik maupun didukung perkembangan sektor teknologi dinilai lebih mampu menghadapi gejolak ekonomi.
Shao mencontohkan, Tiongkok Daratan yang dinilai relatif lebih tangguh karena memiliki diversifikasi sumber energi, pengendalian harga domestik, serta cadangan energi yang memadai sehingga mampu meredam dampak kenaikan harga minyak dunia.
Strategi Investasi Semester II 2026
Sementara itu, Global Head of Multi-Asset Solutions Manulife Investment Management, Luke Browne, mengatakan kondisi ekonomi global saat ini membuat strategi diversifikasi aset menjadi semakin penting.
Baca juga: Manulife Rampungkan Akuisisi Schroders Indonesia, Perkuat Dominasi Manajer Investasi
Menurut dia, pasar tenaga kerja yang masih kuat membuat bank sentral belum memiliki ruang besar untuk memangkas suku bunga secara agresif.
“Dengan pasar tenaga kerja yang masih kuat dan menunda terjadinya pelonggaran moneter yang signifikan, kami mempertahankan pendekatan yang sangat selektif dalam alokasi aset,” ujar Browne.
Ia memperkirakan kepemimpinan pasar saham tidak lagi hanya ditopang oleh saham-saham teknologi berkapitalisasi besar dan tema kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), tetapi mulai meluas ke aset berkualitas tinggi dengan valuasi yang lebih menarik.
Obligasi Jangka Pendek Dinilai Menarik
Selain pasar saham, Manulife Investment Management juga melihat peluang pada sejumlah aset riil yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur AI, termasuk komoditas tertentu.
Perusahaan juga menilai instrumen kredit masih menawarkan tingkat imbal hasil yang menarik di tengah kondisi pasar saat ini.
Untuk pasar obligasi, Browne merekomendasikan investor mempertimbangkan obligasi berdurasi pendek sebagai strategi menghadapi risiko perubahan suku bunga. (*)
Editor: Galih Pratama


