Poin Penting:
- Laba Manulife Indonesia melonjak 161,5 persen menjadi Rp1,28 triliun pada 2025 ditopang pendapatan jasa asuransi dan investasi.
- Manulife Indonesia menjaga rasio RBC sebesar 650 persen atau jauh di atas ketentuan minimum regulator sebesar 120 persen.
- Manulife Syariah Indonesia mencatat lonjakan pendapatan usaha menjadi Rp302,1 miliar dan pembayaran klaim naik 99 persen sepanjang 2025.
Jakarta – PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia mencatat lonjakan laba signifikan sepanjang 2025. Laba Manulife Indonesia setelah pajak tumbuh 161,5 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp1,28 triliun, didorong oleh kenaikan pendapatan jasa asuransi serta hasil investasi yang solid.
Kinerja positif tersebut diperoleh di tengah momentum 40 tahun kehadiran perusahaan di pasar asuransi nasional. Pertumbuhan bisnis dan pengelolaan investasi yang disiplin menjadi faktor utama yang menopang peningkatan profitabilitas perusahaan.
Pendapatan jasa asuransi tercatat mencapai Rp3,97 triliun dengan hasil jasa asuransi bersih sebesar Rp299,77 miliar. Sementara itu, pendapatan investasi dan keuntungan investasi, termasuk PAYDI, mencapai Rp5,09 triliun dengan hasil asuransi dan investasi bersih sebesar Rp1,28 triliun.
Baca juga: Dorong Produktivitas dan Efisiensi, Industri Manufaktur Disarankan Adopsi Solusi Berbasis AI
Manulife Indonesia Catat Kinerja Keuangan Solid
Presiden Direktur & CEO Manulife Indonesia Lauren Sulistiawati mengatakan capaian tersebut menunjukkan fundamental bisnis perusahaan tetap kuat di tengah dinamika industri asuransi.
“Pada tahun 2025, bertepatan dengan 40 tahun kehadiran Manulife di Indonesia, kami membukukan kinerja keuangan yang solid, didukung oleh pertumbuhan bisnis, pengelolaan investasi yang disiplin dan tingkat solvabilitas yang kuat,” kata Lauren Sulistiawati dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Antara, Kamis (28/5/2026).
Menurut Lauren, pertumbuhan laba Manulife Indonesia juga mencerminkan tingginya tingkat kepercayaan nasabah terhadap perusahaan.
“Capaian ini juga menegaskan ketahanan bisnis, kepercayaan nasabah serta komitmen Manulife Indonesia untuk terus melindungi keluarga Indonesia dalam jangka panjang,” ujarnya.
Dari sisi permodalan, Manulife Indonesia mempertahankan rasio solvabilitas atau Risk Based Capital (RBC) sebesar 650 persen pada akhir Desember 2025. Angka tersebut jauh melampaui ketentuan minimum regulator sebesar 120 persen.
Selain itu, total aset perusahaan tercatat mencapai Rp66,17 triliun hingga akhir 2025. Posisi ini memperlihatkan kemampuan perusahaan dalam menjaga likuiditas dan memperkuat kapasitas bisnis di tengah persaingan industri asuransi jiwa.
Manulife Syariah Indonesia Tumbuh Positif
Di sisi lain, PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia Syariah atau Manulife Syariah Indonesia yang merupakan anak usaha Manulife Indonesia juga mencatat pertumbuhan kinerja yang positif sepanjang 2025.
Manulife Syariah Indonesia membukukan total pendapatan usaha sebesar Rp302,1 miliar, melonjak dibandingkan realisasi 2024 sebesar Rp66,5 miliar. Pertumbuhan tersebut turut mendorong peningkatan total aset menjadi Rp1,55 triliun.
Kinerja keuangan perusahaan syariah ini juga ditopang rasio solvabilitas yang kuat. Rasio Solvabilitas Dana Tabarru’ dan Dana Tanahud tercatat sebesar 797 persen, sedangkan Dana Perusahaan mencapai 5.433 persen atau jauh di atas ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Sepanjang 2025, perusahaan menyalurkan pembayaran klaim kepada peserta sebesar Rp83,9 miliar atau meningkat sekitar 99 persen secara tahunan. Peningkatan ini mencerminkan peran aktif perusahaan dalam memberikan perlindungan finansial berbasis syariah.
Selain itu, perusahaan juga mencatat surplus underwriting dana tabarru’ sebesar Rp766 juta yang menunjukkan pengelolaan dana peserta tetap berada dalam kondisi sehat.
Minat Asuransi Syariah Dinilai Terus Meningkat
Presiden Direktur & CEO Manulife Syariah Indonesia Fauzi Arfan menilai meningkatnya minat masyarakat terhadap produk perlindungan berbasis syariah menjadi sinyal positif bagi industri.
Menurut Fauzi, pada tahun pertama operasional sebagai bisnis syariah independen, perusahaan telah memperoleh respons pasar yang positif yang tercermin dari pertumbuhan kinerja yang dicapai.
“Berlandaskan prinsip Berbagi, Bertumbuh, dan Berdampak, kami berkomitmen untuk terus memperluas solusi perlindungan syariah yang relevan bagi kebutuhan keluarga Indonesia, sekaligus memberikan kontribusi sosial yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat,” kata Fauzi.
Dengan capaian laba dan penguatan bisnis syariah tersebut, Manulife Indonesia memperlihatkan daya tahan bisnis yang kuat sekaligus mempertegas posisinya di industri asuransi jiwa nasional sepanjang 2025. (*)
Editor: Galih Pratama


