Poin Penting
- Tingkat inklusi fintech mencapai 35 persen, sementara literasinya baru 13 persen sehingga menciptakan kesenjangan yang lebar.
- Rudiantara menilai tantangan utama sektor keuangan saat ini bukan lagi akses, melainkan rendahnya literasi masyarakat.
- Edukasi dan pendampingan keuangan dinilai menjadi kunci untuk memperkuat kesehatan finansial masyarakat akar rumput dan pengguna fintech.
Jakarta – Di tengah tingginya akses masyarakat terhadap layanan keuangan digital, tingkat fintech di Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan tingkat inklusinya.
Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan utama dalam mendorong kesehatan finansial masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro dan akar rumput.
Komisaris Utama Amartha sekaligus mantan Menteri Komunikasi dan Informatika periode 2014-2019, Rudiantara, mengungkapkan bahwa persoalan utama sektor jasa keuangan saat ini bukan lagi akses masyarakat terhadap layanan keuangan, melainkan kemampuan memahami dan mengelola layanan tersebut secara bijak.
Baca juga: SBY: Pertumbuhan Tinggi Tak Menjamin Stabilitas jika Ketimpangan Membesar
Menurutnya, tingkat inklusi keuangan nasional telah mencapai lebih dari 90 persen. Namun, tingkat literasi keuangan masih tertinggal cukup jauh sehingga menciptakan kesenjangan yang perlu segera ditangani oleh seluruh pemangku kepentingan.
Literasi Fintech jadi Tantangan Terbesar
Dalam acara The 2026 Asia Grassroots Forum Hosted by Amartha di Jakarta, Kamis (4/6/2026), Rudiantara menyoroti kondisi literasi fintech yang jauh lebih rendah dibandingkan subsektor jasa keuangan lainnya.
Ia menjelaskan bahwa di sektor perbankan, tingkat inklusi mencapai 83 persen dengan literasi sekitar 74 persen. Namun di sektor teknologi finansial, kesenjangannya jauh lebih besar.
“Kalau di fintech ini yang paling parah, inklusinya 35 persen, literasinya cuma 13 persen,” ujar Rudiantara.
Baca juga: Cara Amartha Dorong Standar Baru Kesehatan Finansial UMKM
Menurut dia, rendahnya pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan digital berpotensi memunculkan berbagai risiko, mulai dari penggunaan pinjaman yang tidak produktif hingga meningkatnya kerentanan terhadap penipuan keuangan.
Rudiantara menegaskan bahwa fokus pengembangan sektor keuangan ke depan harus bergeser dari sekadar memperluas akses menjadi memperkuat pemahaman masyarakat terhadap layanan yang mereka gunakan.
“Isunya bukan inklusi keuangan. Inklusinya sudah tinggi, tapi literasinya yang menjadi tantangan,” katanya.
Ia menambahkan, masih banyak masyarakat yang telah memiliki akses terhadap pinjaman atau layanan keuangan lainnya, tetapi belum memahami cara mengelola keuangan secara sehat dan berkelanjutan.
Amartha Dorong Kesehatan Finansial Masyarakat Akar Rumput
Founder dan CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, mengatakan bahwa perkembangan teknologi telah membuat akses keuangan semakin mudah dijangkau masyarakat.
Namun, menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan akses tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan ekonomi pelaku usaha mikro secara berkelanjutan.
Melalui tema “Enabling Growth, Elevating Financial Health”, forum tahun ini berupaya mendorong lahirnya ekosistem yang tidak hanya memperluas akses pembiayaan, tetapi juga memperkuat kesehatan finansial masyarakat akar rumput.
Baca juga: SBY Sebut Ketahanan Bangsa Dibangun dari Kekuatan Ekonomi Akar Rumput
Taufan menjelaskan bahwa pelaku usaha mikro membutuhkan lebih dari sekadar modal. Mereka juga memerlukan perlindungan keuangan, kemampuan menabung, akses terhadap produk asuransi mikro, hingga pendampingan usaha agar mampu bertahan menghadapi berbagai risiko ekonomi.
Karena itu, Amartha bersama berbagai pemangku kepentingan meluncurkan Indonesia Coalition for Financial Health untuk merumuskan definisi dan indikator kesehatan finansial bagi UMKM, petani kecil, dan pekerja informal.
Edukasi jadi Kunci Menutup Kesenjangan
Rudiantara menilai peningkatan literasi fintech tidak mungkin dilakukan oleh satu pihak saja. Kolaborasi antara pemerintah, regulator, industri, investor, dan pelaku usaha menjadi faktor penting untuk mempersempit kesenjangan antara akses dan pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan.
Ia mencontohkan peran Amartha yang memiliki lebih dari 9.000 pendamping lapangan atau business partner yang secara rutin memberikan edukasi kepada nasabah mengenai pengelolaan pinjaman, tabungan, dan perencanaan keuangan.
Menurutnya, edukasi semacam ini menjadi bagian penting dalam membangun kesehatan finansial masyarakat.
“Jangan sampai sudah mendapat pinjaman tapi lupa nabung untuk anaknya sekolah, lupa menyisihkan untuk kebutuhan darurat,” ujar Rudiantara.
Baca juga: OJK Soroti Indikasi Proyek Fiktif di Fintech Lending, Minta Penguatan Tata Kelola
Ia berharap program literasi keuangan yang dijalankan industri dan regulator dapat semakin masif sehingga masyarakat tidak hanya memiliki akses terhadap layanan fintech, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara bertanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan jangka panjang.
Peningkatan literasi menjadi fondasi penting agar pertumbuhan fintech di Indonesia tidak hanya mendorong inklusi keuangan, tetapi juga menciptakan masyarakat yang lebih sehat secara finansial. (*)
Editor: Yulian Saputra


