Poin Penting
- SMBC Indonesia mencetak laba bersih konsolidasi Rp1,4 triliun pada semester I 2026, naik 40,3 persen (yoy)
- Kredit tumbuh menjadi Rp185,3 triliun, didorong segmen korporasi, komersial, Jenius, dan BTPN Syariah
- CASA naik 37,4 persen menjadi Rp60,1 triliun, dengan CAR tetap kuat di level 30,7 persen.
Jakarta – PT Bank SMBC Indonesia Tbk. mencatat laba bersih setelah pajak konsolidasi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,4 triliun pada semester I 2026.
Angka tersebut naik 40,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, termasuk kontribusi dari pengalihan portofolio kredit pensiun.
Secara bank only, laba bersih setelah pajak SMBC Indonesia mencapai Rp1,066 triliun, atau tumbuh 86 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Direktur Utama SMBC Indonesia, Henoch Munandar, mengatakan kinerja pada enam bulan pertama 2026 didukung pertumbuhan bisnis, penguatan struktur pendanaan, serta optimalisasi portofolio sebagai bagian dari strategi memperkuat pertumbuhan jangka panjang.
“Kami terus memperkuat fundamental bisnis agar perseroan mampu tumbuh secara sehat dan berkelanjutan. Setiap langkah strategis diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara pencapaian kinerja dan penciptaan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan,” kata Henoch dalam keterangan tertulis, Sabtu, 1 Agustus 2026.
Pada semester I 2026, SMBC Indonesia juga menyelesaikan tahap pertama pengalihan portofolio kredit pensiun kepada PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BTN).
Baca juga: SMBC Indonesia Gabungkan Anak Usaha OTO dan SOF, Ini Alasannya
Langkah ini diambil untuk memastikan keberlangsungan layanan kepada nasabah tetap terjaga, sekaligus memberikan fleksibilitas bagi Perseroan dalam mengalokasikan modal dan sumber daya ke area bisnis yang potensial.
Kredit Tumbuh Signifikan
Sementara itu, hingga akhir Juni 2026, penyaluran kredit konsolidasi SMBC Indonesia menembus Rp185,3 triliun. Pertumbuhan terutama berasal dari kredit korporasi dan komersial yang naik 12,8 persen.
Lalu, kredit segmen digital savvy melalui layanan Jenius di luar Digital Micro yang tumbuh 9,9 persen, serta pembiayaan PT Bank BTPN Syariah Tbk. yang meningkat 8,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, pembiayaan Grup OTO juga tumbuh 5,8 persen secara tahunan.
Sejalan dengan pertumbuhan bisnis, pendapatan operasional konsolidasi mencapai Rp8,6 triliun, yang terdiri atas pendapatan bunga bersih sebesar Rp7,5 triliun dan pendapatan operasional lainnya sebesar Rp1 triliun.
Sementara itu, biaya kredit turun 14,8 persen menjadi Rp2,1 triliun. Perseroan menyebut penurunan tersebut didukung penerapan manajemen risiko kredit yang lebih selektif serta tingkat pencadangan yang memadai untuk menjaga kualitas aset.
Total aset konsolidasi SMBC Indonesia juga meningkat 4,7 persen menjadi Rp245,5 triliun hingga akhir Juni 2026.
CASA Tumbuh 37,4 Persen
Di sisi pendanaan, SMBC Indonesia mencatat pertumbuhan dana murah atau current account and savings account (CASA) sebesar 37,4 persen menjadi Rp60,1 triliun hingga akhir Juni 2026.
Baca juga: SMBC Indonesia Tuntaskan Pengalihan Portofolio Kredit Pensiun ke BTN
Kenaikan tersebut mendorong rasio CASA menjadi 47,5 persen, meningkat dari 39,8 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan terutama berasal dari segmen korporasi, komersial, usaha kecil dan menengah (UKM), serta ritel.
Menurut Henoch, penguatan CASA menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk membangun struktur pendanaan yang lebih efisien sekaligus menjaga likuiditas.
“Dengan likuiditas yang tetap kuat, kami memiliki fleksibilitas lebih besar untuk mendukung kebutuhan nasabah sekaligus memperkuat kapasitas Perseroan dalam mengembangkan bisnis secara berkelanjutan,” ujarnya.
Hingga 30 Juni 2026, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) SMBC Indonesia tercatat 30,7 persen, mencerminkan kondisi permodalan yang tetap kuat.
Anak Usaha Turut Mendorong Kinerja
Kontribusi terhadap laba konsolidasi juga datang dari anak usaha. PT Bank BTPN Syariah Tbk. membukukan laba bersih Rp655 miliar, meningkat 1,8 persen dibandingkan semester I 2025, dengan pembiayaan mencapai Rp11 triliun atau tumbuh 8,7 persen.
Sementara itu, Grup OTO mencatat laba bersih Rp382 miliar, melonjak 251,8 persen secara tahunan. Perseroan menyebut kenaikan tersebut ditopang pertumbuhan pembiayaan serta penurunan biaya kredit.
Selain mencatat pertumbuhan bisnis, SMBC Indonesia juga melanjutkan program literasi dan inklusi keuangan melalui Program Daya. (*)
Editor: Galih Pratama


