Poin Penting
- DBS menilai investor institusi kini lebih adaptif menghadapi ketidakpastian global akibat suku bunga tinggi, geopolitik, dan tekanan fiskal
- Stabilitas ekonomi Indonesia ditopang disiplin fiskal, kebijakan moneter yang antisipatif, dan komunikasi kebijakan yang kredibel
- Meski pasar saham masih volatil, status investment grade Indonesia tetap menjadi sentimen positif bagi investor.
Jakarta – Ketidakpastian ekonomi global yang dipengaruhi arah suku bunga, tensi geopolitik, perubahan rantai pasok, hingga tekanan fiskal di berbagai negara dinilai mendorong investor institusi untuk menerapkan strategi investasi yang lebih adaptif.
Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, mengatakan Indonesia masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Kondisi tersebut didukung kebijakan suku bunga yang antisipatif dari bank sentral serta komitmen pemerintah dalam mempertahankan disiplin fiskal.
“Narasi kebijakan yang konstruktif, didukung sinyal pasar yang jelas, kredibel, dan konsisten, akan menjadi faktor penting dalam menjaga ekspektasi investor dan memperkuat stabilitas ekonomi,” kata Radhika, dalam keterangannya, dikutip Sabtu, 1 Agustus 2026.
Ia mengatakan, disiplin fiskal akan tetap menjadi penopang utama perekonomian, dengan defisit anggaran dijaga di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Baca juga: DBS Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 5,2-5,4 Persen di Kuartal II 2026
Menurut dia, belanja negara juga akan semakin diarahkan pada sektor-sektor produktif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Meski demikian, Radhika mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, terutama potensi kenaikan inflasi.
Risiko tersebut antara lain berasal dari penyesuaian harga bahan bakar, dampak fenomena cuaca seperti El Niño, serta fluktuasi harga minyak dunia yang dapat meningkatkan beban subsidi pemerintah.
Selain itu, kepercayaan investor, menurut dia, juga akan dipengaruhi oleh konsistensi kebijakan pemerintah, perkembangan peringkat kredit Indonesia, hasil tinjauan MSCI, penunjukan Gubernur Bank Indonesia berikutnya, hingga keberlanjutan reformasi institusional.
Volatilitas Pasar Saham Masih Tinggi
Sementara Head of Research Indonesia DBS Group Research, William Simadiputra, mengatakan volatilitas pasar saham Indonesia masih cukup tinggi sejak awal tahun.
Baca juga: DBS Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 5,2-5,4 Persen di Kuartal II 2026
Ia menilai sentimen investor dipengaruhi oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, termasuk situasi di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama distribusi energi dunia. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan inflasi akibat risiko lonjakan harga energi.
Menurut William, kondisi suku bunga global yang masih relatif tinggi juga membuat investor semakin selektif dalam memilih emiten. Karena itu, perusahaan dengan fundamental yang kuat dinilai memiliki daya tarik lebih besar di tengah ketidakpastian pasar.
“Meski menghadapi berbagai tantangan, Indonesia tetap memperoleh sentimen positif setelah lembaga pemeringkat internasional mempertahankan status investment grade,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


