Poin Penting
- Allo Bank membukukan laba bersih Rp234 miliar pada semester I 2026, didorong kenaikan pendapatan operasional.
- Penyaluran kredit tumbuh 28 persen menjadi Rp9,55 triliun, sementara aset meningkat 10 persen menjadi Rp15,57 triliun.
- Pendapatan berbasis komisi melonjak 71 persen berkat pertumbuhan transaksi melalui produk digital.
Jakarta – PT Allo Bank Indonesia Tbk (Allo Bank) mencatat laba bersih senilai Rp234 miliar pada semester I 2026, seiring dengan meningkatnya pendapatan operasional dan penyaluran kredit.
Pada kuartal II 2026, laba bersih setelah pajak bank digital tersebut mencapai Rp130 miliar, tumbuh 14 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp114 miliar.
Perolehan kinerja impresif tersebut ditopang oleh kenaikan total pendapatan operasional sebesar 21 persen secara tahunan menjadi Rp533 miliar. Pertumbuhan tersebut berasal dari peningkatan pendapatan bunga bersih maupun pendapatan berbasis komisi (fee based income).
Di sisi profitabilitas, pendapatan bunga bersih tumbuh 10 persen yoy menjadi Rp 393 miliar, sementara pendapatan berbasis biaya tumbuh 71 persen yoy menjadi Rp 140 miliar, didukung oleh penyaluran pinjaman di tengah kondisi makroekonomi yang menantang.
Baca juga: Jaga Stabilitas Harga, Allo Bank Siapkan Rp200 Miliar untuk Buyback Saham
Pelaksana Tugas Direktur Utama Allo Bank, Ari Yanuanto Asah mengatakan perseroan terus menjaga momentum pertumbuhan dengan mengedepankan inovasi layanan digital dan pengembangan ekosistem keuangan.
“Selama tahun 2026, kami akan mendorong pertumbuhan bisnis dengan meningkatkan pengalaman pengguna melalui inovasi teknologi sehingga nasabah dapat memperoleh layanan yang lebih personal sesuai kebutuhannya. Kami juga akan mengedepankan strategi digital first dan ecosystem first dalam menjalankan bisnis bank,” kata Ari dalam keterangannya, dikutip Senin, 3 Agustus 2026.
Selain mencatat pertumbuhan laba, Allo Bank juga berhasil menaikkan Net Interest Margin (NIM) menjadi 10,9 persen, naik dari 10,4 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Perseroan menilai peningkatan tersebut mencerminkan pengelolaan aset dan liabilitas yang semakin efektif, terutama pada segmen ritel.
Kredit Allo Bank Tumbuh 28 Persen
Fungsi intermediasi Bank juga menunjukkan momentum yang baik, dengan kredit yang disalurkan tumbuh 28 persen yoy menjadi Rp 9,547 triliun pada akhir 30 Juni 2026, didorong oleh pertumbuhan di segmen Perbankan Ritel dan Perbankan Wholesale.
Sejalan dengan peningkatan kredit, total aset perseroan naik 10 persen menjadi Rp15,57 triliun, dibandingkan Rp14,17 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi kualitas aset, Allo Bank mempertahankan rasio kredit bermasalah (gross NPL) di level 1,73 persen dan net NPL sebesar 0,73 persen. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tercatat stabil di posisi Rp5,83 triliun.
Produk Digital Dongkrak Pendapatan
Sepanjang semester pertama 2026, Allo Bank mencatat peningkatan keterlibatan nasabah melalui berbagai produk digital, seperti Allo Grow, Allo Deposito, QRIS, Bill Payment, Allo PayLater, dan Instant Cash.
Baca juga: Allo Bank Tebar Dividen Rp286,97 Miliar, Setara 50 Persen Laba Bersih 2025
Hal ini mencerminkan loyalitas pelanggan yang lebih kuat dan integrasi yang lebih dalam dari Allo Bank ke dalam aktivitas keuangan harian nasabah. Peningkatan engagement ini telah berkontribusi pada intensitas transaksi yang lebih tinggi, pemanfaatan produk yang lebih luas, dan basis pendapatan yang lebih terdiversifikasi.
Dengan semangat yang serupa, segmen wholesale banking terus berfokus pada pertumbuhan berkualitas tinggi selama 2Q26, yang menyebabkan peningkatan stabil dalam total aset dari kuartal sebelumnya.
Ke depan, Allo Bank tetap berada pada posisi yang baik untuk memanfaatkan fundamentalnya yang kuat guna terus mendorong inklusi keuangan dan memberikan nilai jangka panjang. (*)
Editor: Yulian Saputra


