Poin Penting
- Bank Jago membukukan laba bersih Rp189 miliar pada semester I 2026, melonjak 49 persen secara tahunan, ditopang pertumbuhan DPK, kredit, dan jumlah nasabah
- Jumlah nasabah mencapai 20,1 juta dengan DPK naik 23 persen menjadi Rp27,6 triliun. Dana murah (CASA) tetap mendominasi 53 persen dari total DPK
- Penyaluran kredit tumbuh 24 persen menjadi Rp26,6 triliun, total aset naik 28 persen menjadi Rp41,4 triliun, dengan kualitas kredit tetap terjaga pada NPL gross 0,8 persen.
Jakarta – PT Bank Jago Tbk mencatat laba bersih setelah pajak (net profit after tax/NPAT) sebesar Rp189 miliar pada semester pertama 2026.
Perolehan laba tersebut menanjak 49 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp127 miliar, seiring pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), penyaluran kredit, hingga jumlah nasabah.
Direktur Utama Bank Jago, Arief Harris, mengungkapkan kinerja solid bank digital tersebut mencerminkan pertumbuhan bisnis yang ditopang fundamental perusahaan yang kuat.
“Sebagai bank berbasis teknologi, pertumbuhan bisnis ini tidak lepas dari inovasi produk dan layanan kami serta kolaborasi kuat dengan mitra ekosistem strategis. Dengan begitu kami mampu menghadirkan solusi keuangan yang relevan bagi berbagai segmen nasabah, sekaligus membangun fundamental yang solid untuk pertumbuhan di masa depan,” kata Arief dalam keterangannya, Kamis, 23 Juli 2026.
Jumlah Nasabah Tembus 20,1 Juta
Tak hanya laba, bank yang didirikan dan dipimpin bangkir senior Jerry Ng melalui PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia ini mencatat kenaikan signifikan jumlah pengguna.
Baca juga: Taipan Jerry Ng Disebut Pertimbangkan Merger BFI Finance-Bank Jago, Nilai Gabungan Rp25 T
Hingga akhir Juni 2026, Bank Jago telah melayani 20,1 juta nasabah, naik hampir 3 juta dibandingkan posisi akhir semester pertama 2025 yang sebanyak 17,2 juta nasabah
Dari total tersebut, sekitar 14,7 juta merupakan nasabah pendanaan (funding) yang menggunakan Aplikasi Jago.
Menariknya, lonjakan jumlah nasabah ikut mendorong pertumbuhan dana pihak ketiga. Hingga akhir semester I 2026, DPK perseroan mencapai Rp27,6 triliun, tumbuh 23 persen dibandingkan Rp22,4 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Adapun komposisi DPK masih didominasi dana murah (current account and savings account/CASA) sebesar 53 persen, atau setara Rp14,6 triliun. Sementara deposito berkontribusi 47 persen atau sekitar Rp13,1 triliun.
Penyaluran Kredit Naik 24 Persen
Di sisi intermediasi, Bank Jago membukukan penyaluran kredit senilai Rp26,6 triliun, naik 24 persen dibandingkan semester pertama 2025 yang mencapai Rp21,4 triliun.
Bank Jago juga menjaga kualitas pembiayaan dengan rasio non-performing loan (NPL) gross sebesar 0,8 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata industri perbankan nasional.
Baca juga: Bank Jago Permudah Cek SLIK OJK, Fitur Rapor Kredit Dorong Pinjaman Lebih Bijak
Menurut Arief, pertumbuhan kredit ditopang berkat kolaborasi dengan sejumlah mitra ekosistem digital dan perusahaan pembiayaan.
Satu di antaranya kerja sama dengan BFI Finance serta sejumlah platform digital yang menjadi motor utama pertumbuhan portofolio pembiayaan Bank Jago.
“Kami berkomitmen terus menjalankan kolaborasi bisnis dan penyaluran kredit yang telah terbangun selama lima tahun terakhir. Pada saat yang sama kami juga mengembangkan penyaluran kredit secara langsung kepada nasabah melalui konsep pembiayaan yang bertanggung jawab,” ujarnya.
Aset Tumbuh 28 Persen
Sejalan dengan pertumbuhan bisnis, total aset Bank Jago menanjak 28 persen menjadi Rp41,4 triliun hingga akhir Juni 2026, dibandingkan Rp32,4 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Bank Jago juga tetap mempertahankan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 28,4 persen, yang dinilai memberikan ruang bagi perusahaan untuk terus memperluas bisnis dan mengembangkan inovasi.
“Kami ingin Bank Jago dikenal bukan hanya sebagai bank di saku nasabah, tetapi menjadi bank berbasis teknologi yang membantu nasabah, mitra ekosistem, dan para pemangku kepentingan meningkatkan kesempatan tumbuh bersama melalui inovasi dan kolaborasi,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


