Poin Penting
- Samir menempatkan keamanan data sebagai prioritas seiring pertumbuhan bisnis pembiayaan.
- Perusahaan menerapkan ISO 27001, Data Protection Officer (DPO), dan penetration test untuk menjaga keamanan sistem.
- Anggaran IT menjadi salah satu biaya terbesar Samir setelah biaya tenaga kerja.
Bogor – Sistem keamanan IT (information technology) menjadi perhatian serius industri fintech peer-to-peer (P2P) lending di tengah meningkatnya kejahatan siber. Tak terkecuali, bagi PT Sahabat Mikro Fintek (Samir).
Direktur Utama Samir, Handy Juniandri, mengatakan masalah keamanan sistem menjadi sesuatu yang penting seiring pertumbuhan bisnis perseroan.
“Ketika memang pembiayaan ini tumbuh, tantangan terbesar adalah bagaimana data pelanggan ini benar-benar dijaga,” kata Handi, dalam media gathering di Bogor, Jawa Barat, Jumat, 11 September 2026.
Menurutnya, Samir telah menyiapkan sejumlah mekanisme untuk menjaga data pelanggan, termasuk sertifikasi ISO 27001 serta fungsi Data Protection Officer (DPO).
Keberadaan DPO ini menjadi salah satu fungsi yang wajib tersedia di perusahaan untuk memastikan perlindungan data berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kita juga punya tim yang namanya DPO atau Data Protection Officer. Itu salah satu kewajiban kami, fungsi yang harus tersedia di tempat kami,” jelasnya.
Baca juga: Perkuat Pendanaan, Samir Lirik Lender Nonbank hingga Asing
Selain itu, Samir juga menerapkan mekanisme penyaringan terhadap setiap aktivitas pemrosesan data. Setiap transaksi yang berkaitan dengan data processing, harus melalui mekanisme filterisasi oleh departemen teknologi informasi.
“Ini yang sudah kami lakukan sehingga terciptanya yang namanya sistem keamanan, khususnya untuk pelanggan-pelanggan kami,” bebernya.
Anggaran IT Samir
Dikatakan Handy, perseroan sendiri telah mengalokasikan anggaran khusus teknologi informasi, termasuk kebutuhan terkait keamanan sistem. Anggaran tersebut menjadi salah satu pos pengeluaran terbesar perusahaan.
Baca juga: Samir Lebarkan Sayap ke Luar Jawa, Pembiayaan UMKM Melonjak 63 Persen
“Kalau di IT itu satu adalah pen-test, penetration test, semua akan dicek apakah nanti sistem ini ada kebocoran dan sebagainya,” bebernya.
Ia menyebut, perusahaan mempunyai blueprint untuk melakukan penyegaran atau pemeliharaan sistem, baik pada platform Android, iOS, maupun situs web.
“Banyak sekali IT itu, credit scoring, tanda tangan digital, keamanan data, sertifikasi data, pen-test dan banyak lagi,”
IT Jadi Penopang Bisnis Samir
Diakuinya, teknologi menjadi bagian penting dari model bisnis Samir. Selain IT, digital marketing juga menjadi salah satu pos anggaran yang mendapat perhatian karena perusahaan mengandalkan kanal digital untuk menjangkau konsumen.
“Karena kami tidak bisa bertemu dengan konsumen, yang bisa bertemu adalah melalui media, melalui telepon, handphone dan sebagainya,” katanya.
Saat ini, anggaran terbesar perusahaan masih berkaitan dengan karyawan atau biaya tenaga kerja. Setelah pos tersebut, anggaran IT menjadi salah satu yang terbesar.
Meski enggan mengungkapkan nilai maupun persentase anggaran IT terhadap total belanja perusahaan, dirinya menegaskan bahwa informasi tersebut merupakan bagian dari internal perusahaan. (*)
Editor: Yulian Saputra


