Poin Penting
- IHSG sesi I turun 1,70 persen ke level 6.429,88.
- Analis menilai tekanan datang dari ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, dan aksi profit taking.
- Gejolak obligasi AS dan ketegangan geopolitik turut meningkatkan ketidakpastian pasar.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi I, Senin (14/9), terpantau ditutup melemah 1,70 persen ke level 6.429,88 dari posisi 6.541,37.
Pengamat Pasar Modal, Elandry Pratama, menuturkan bahwa koreksi IHSG hari ini dipengaruhi oleh beberapa sentimen global, tekanan nilai tukar, kenaikan harga minyak, dan penyesuaian posisi investor.
Menurutnya, salah satu sentimen utama berasal dari meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah data inflasi dan pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) masih menunjukkan tekanan.
“Kondisi ini mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan US Treasury yield, sehingga risk appetite investor terhadap pasar emerging market menurun serta turut menekan rupiah,” ujar Elandry kepada Infobanknews di Jakarta, Senin, 14 September 2026.
Baca juga: IHSG Sesi I Anjlok 1,70 Persen ke 6.429, Seluruh Sektor Melemah
Ia menyebut, tekanan juga datang dari lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, dengan Brent sempat menyentuh sekitar USD108,49 per barel dan WTI mencapai USD103,58 per barel pada perdagangan hari ini.
“Kenaikan harga energi tersebut memunculkan kekhawatiran inflasi global bertahan tinggi, sekaligus berpotensi menambah beban impor dan tekanan terhadap neraca perdagangan Indonesia,” imbuhnya.
Sementara dari domestik, aksi profit taking pada sejumlah saham berkapitalisasi besar serta sikap wait and see menjelang keputusan FOMC ikut memperbesar tekanan.
“Jadi, koreksi hari ini merupakan kombinasi sentimen global, tekanan nilai tukar, kenaikan harga minyak, dan penyesuaian posisi investor, bukan semata-mata karena satu faktor,” kata Elandry.
Gejolak Obligasi AS Jadi Perhatian
Senada, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menilai pasar juga menghadapi sejumlah headwinds, mulai dari gejolak pasar obligasi, akselerasi inflasi, hingga kekhawatiran geopolitik yang meningkatkan ketidakpastian ekonomi.
Data Consumer Price Index (CPI) AS Agustus menunjukkan inflasi naik 0,4 persen secara bulanan (month-to-month/MoM) untuk headline dan 0,3 persen untuk core. Angka core CPI tersebut berada di atas konsensus pasar.
Kondisi tersebut mendorong probabilitas kenaikan Fed Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 86,5 persen dari sebelumnya 69 persen.
“Ekspektasi kebijakan moneter yang hawkish ini memicu aksi jual di pasar obligasi US Treasury, yang pada gilirannya mendongkrak yield tenor 10-tahun hingga 4,975 persen dan tenor 2-tahun ke 4,644 persen,” tambah Nafan dalam kesempatan terpisah.
Baca juga: Rupiah Hari Ini (14/9) Dibuka Menguat, Diprediksi Bergerak Rp17.590-Rp17.685 per USD
Rupiah Jadi Penopang
Meski mendapat tekanan, Nafan menyebut sejumlah indikator domestik masih menjadi cushion bagi IHSG. Di antaranya, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang terjaga serta stabilitas pasokan energi domestik.
Selain itu, apresiasi rupiah sebesar 0,21 persen ke Rp17.641,5 per dolar AS juga diharapkan dapat mendukung arus dana asing dan membuat investor domestik tidak terlalu defensif. (*)
Editor: Yulian Saputra


