Poin Penting
- Luas lahan terbakar di Jambi mencapai 1.879,31 hektare hingga 3 September 2026.
- BPBD memperkuat satgas darat, membuat sekat bakar, kanal air, dan melakukan water bombing.
- Penanganan diperkuat menjelang puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada September 2026.
Jakarta – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi telah mencapai 1.879,31 hektare hingga Kamis (3/9/2026).
Menghadapi puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung pada September, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi memperkuat penanganan karhutla melalui operasi darat dan udara.
Sejumlah langkah dilakukan, mulai dari menambah personel satgas darat, membuat sekat bakar dan kanal air, memperkuat pendinginan, hingga mengerahkan helikopter untuk water bombing.
Pada Kamis (3/9), sebanyak 20 personel dari sejumlah instansi ditambahkan untuk mendukung pemadaman dan pendinginan di wilayah terdampak.
Baca juga: Ribuan Karhutla Terjadi di Kalteng, Status Tanggap Darurat Berlaku hingga 29 September
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi Bachyuni Deliansyah mengatakan, penambahan personel diperlukan untuk memperkuat proses pendinginan, terutama pada area yang sebelumnya telah berhasil dipadamkan.
Selain itu, upaya pencegahan meluasnya kebakaran dilakukan dengan membuat sekat bakar menggunakan alat berat berupa ekskavator.
“Sekarang ada 5.984 orang tim darat dan kita arahkan untuk menambah sekitar 20 orang. Pada Kamis (3/9), baru diterbitkan surat keputusannya. Alat berat yang sebelumnya mendapat dukungan dari BNPB juga kita manfaatkan untuk penanganan di lapangan. Penambahan personel berasal dari Basarnas, Brimob, dan Batalyon Infanteri 142,” jelas Bachyuni, dalam keterangannya, dikutip Jumat, 4 September 2026.
Kanal-Kanal Air
Selain pembuatan sekat bakar, pendinginan, dan pemanfaatan alat berat, Bachyuni menambahkan bahwa tim darat juga akan diarahkan untuk membuat kanal-kanal air.
Kanal tersebut nantinya dimanfaatkan sebagai sumber air untuk mendukung proses pemadaman maupun pendinginan di area yang masih berpotensi terbakar.
Baca juga: Celios Desak Karhutla 2026 Jadi Bencana Nasional, Ini Alasannya
Berdasarkan data yang dihimpun BNPB, total luas lahan yang terbakar akibat karhutla di Provinsi Jambi hingga Kamis (3/9) mencapai 1.879,31 hektare.
Pada hari yang sama, estimasi area terbakar tercatat seluas 47,5 hektare. Dari luasan tersebut, 37 hektare telah berhasil dipadamkan, sedangkan 11,5 hektare masih dalam penanganan melalui operasi darat, water bombing, maupun operasi gabungan.
Ratusan Titik Spot Api
Sementara itu, hasil pemantauan menunjukkan terdapat 182 titik hot spot, yang terdiri dari 34 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi dan 148 titik dengan tingkat kepercayaan rendah.
Dari estimasi 47,5 hektare area terbakar pada Kamis (3/9), terdapat 20 fire spot, dengan tiga di antaranya merupakan titik lama yang masih dalam proses pemadaman.
Dari total 37 hektare area yang berhasil dipadamkan, sebanyak 31 hektare ditangani oleh satgas darat, sedangkan enam hektare lainnya dipadamkan melalui operasi water bombing.
Salah satu lokasi yang menjadi fokus penyekatan oleh satgas darat pada Kamis (3/9) berada di Desa Air Merah, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi.
Baca juga: Kabut Asap Karhutla Ganggu Penerbangan, Pesawat Menhut Gagal Mendarat di Kalbar
Di wilayah tersebut, tim yang bertugas di Pos 27 berhasil memadamkan api pada area seluas tiga hektare.
Selain melakukan pemadaman dan pembuatan sekat bakar, personel juga mengintensifkan proses pendinginan untuk memastikan tidak terdapat bara api yang berpotensi memicu kembali kebakaran maupun memperluas area terdampak.
Selain penanganan melalui operasi darat dan udara, pemerintah juga mengintensifkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Jambi.
Kerugian Ekonomi Karhutla 2026
Sebelumnya, Center for Economic and Law Studies (Celios) memperkirakan kerugian ekonomi dan biaya kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 2026 menyentuh Rp39,29 hingga Rp123,1 triliun.
Direktur Ekonomi Celios, Nailul Huda mengatakan, angka Rp123,1 triliun tersebut setara dengan 49,1 persen dari proyeksi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalimantan Tengah tahun 2026.
“Dan yang perlu digarisbawahi, angka ini belum menghitung skenario meluasnya karhutla hingga akhir tahun. Artinya, potensi kerugian riil bisa jauh lebih besar dari yang kami sampaikan hari ini,” ujar Huda, dalam keterangannya, Rabu, 2 September 2026.
Huda mengungkapkan, total kerugian ekonomi dari hilangnya aset fisik dan aktivitas ekonomi mencapai Rp29,54 triliun, atau setara 0,23 persen dari PDB nasional.
Diketahui, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda berbagai wilayah Indonesia sepanjang 2026 menunjukkan pola yang berbeda dari krisis-krisis sebelumnya.
Data Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat kenaikan 366 persen kejadian karhutla sepanjang Januari-Juni 2026 dibanding periode sama 2025.
Sementara itu, Data SIPONGI KLHK mencatat luas areal terbakar periode Januari-Agustus 2026 mencapai 202.010,96 hektare secara nasional, dengan Kalimantan Barat mendominasi 38.310,86 hektare, hampir 1,5 kali lipat dari provinsi kedua, Papua Selatan (25.838,53 hektare), dan lebih dari 15 kali lipat provinsi terbawah, Papua Tengah (2.519,88 hektare). (*)
Editor: Yulian Saputra


