Poin Penting
- Kadin meluncurkan White Paper Health is the New Wealth untuk mendorong sektor kesehatan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi.
- Investasi kesehatan dinilai mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat inovasi, dan meningkatkan daya saing nasional.
- Dokumen tersebut memuat rekomendasi kebijakan untuk memperkuat industri kesehatan dan menarik investasi.
Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia melalui Kadin Indonesia Institute (KII) menilai sektor kesehatan tidak lagi sekadar menjadi layanan publik, tetapi telah berkembang menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional.
Melalui peluncuran White Paper bertajuk “Health is the New Wealth“, Kadin mendorong penguatan investasi kesehatan guna menciptakan lapangan kerja, meningkatkan inovasi, dan memperkuat daya saing Indonesia.
Baca juga: Kadin-SBF Perkuat Kerja Sama Digital, AI Didorong Genjot Ekspor UMKM
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin Indonesia, Shinta W. Kamdani, mengatakan tema Health is the New Wealth mencerminkan perubahan paradigma global bahwa kesehatan telah menjadi fondasi pembangunan ekonomi.
“Negara-negara yang memiliki sistem kesehatan yang kuat terbukti memiliki produktivitas tenaga kerja yang lebih tinggi, ketahanan ekonomi yang lebih baik, serta daya saing yang lebih kuat dalam menarik investasi,” ujar Shinta, dalam keterangannya, Kamis, 9 Juli 2026.
Investasi Kesehatan Dinilai Punya Efek Berganda
Menurut Shinta, Indonesia berada pada momentum yang tepat untuk memperkuat sektor kesehatan seiring bonus demografi yang diperkirakan berlangsung sekitar satu dekade ke depan, pertumbuhan kelas menengah, meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan, serta transformasi sistem kesehatan nasional yang tengah dijalankan pemerintah.
Ia menilai sektor kesehatan menjadi salah satu bidang paling prospektif untuk investasi jangka panjang. Investasi tersebut tidak hanya mencakup pembangunan rumah sakit atau produksi obat-obatan, tetapi juga pengembangan ekosistem kesehatan nasional yang terintegrasi.
Baca juga: Belajar dari Vietnam, Kadin Minta Pemerintah Genjot Daya Saing dan Produktivitas SDM
Ekosistem tersebut, kata Shinta, meliputi industri farmasi dan bahan baku obat, alat kesehatan, bioteknologi, vaksin, layanan kesehatan digital, kecerdasan buatan (AI) untuk layanan medis, riset dan pengembangan, pendidikan tenaga kesehatan, hingga industri pendukung seperti logistik, rantai dingin (cold chain), dan manufaktur berteknologi tinggi.
“Setiap investasi di sektor ini akan menghasilkan multiplier effect yang besar terhadap penciptaan lapangan kerja, pengembangan teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan daya saing industri nasional. Karena itu kita perlu melihat kesehatan bukan hanya sebagai pengeluaran negara, tetapi sebagai investasi produktif yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi,” bebernya.
Rekomendasi Penguatan Industri Kesehatan
Shinta menjelaskan, White Paper Health is the New Wealth disusun sebagai panduan pengembangan industri kesehatan nasional melalui kolaborasi pemerintah dan dunia usaha.
Dokumen tersebut memuat berbagai rekomendasi kebijakan, mulai dari perbaikan iklim investasi, penyederhanaan regulasi, penguatan inovasi, peningkatan kapasitas industri dalam negeri, hingga mendorong Indonesia menjadi tujuan utama investasi kesehatan di kawasan.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk mempercepat transformasi industri kesehatan nasional.
“Pemerintah tidak dapat berjalan sendiri, demikian pula dunia usaha. Dibutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan agar investasi kesehatan tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Belanja Kesehatan Berpotensi Terus Meningkat
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Kesehatan Kadin Indonesia, David Utama, mengatakan belanja kesehatan Indonesia saat ini mencapai sekitar 2,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau sekitar Rp700 triliun.
Menurutnya, nilai tersebut berpotensi meningkat seiring target pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju 8 persen, sehingga sektor kesehatan diproyeksikan menjadi salah satu kontributor penting bagi perekonomian nasional
“White paper ini memberikan baseline yang sangat baik mengenai industri kesehatan Indonesia. Datanya lengkap, komprehensif, dan dapat dipertanggungjawabkan,” kata David.
Baca juga: Kadin Dorong UMKM Naik Kelas lewat Penguatan Ekosistem Digital
Industri Kesehatan Punya Prospek Besar
Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Lucia Rizka Andalusia, mengatakan penyusunan White Paper telah dimulai sejak 2025 untuk memetakan kondisi industri kesehatan nasional, kontribusinya terhadap perekonomian, serta arah pengembangannya ke depan.
Menurut Lucia, sejumlah faktor akan menjadi pendorong pertumbuhan industri kesehatan, mulai dari meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia, kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, hingga perluasan program skrining kesehatan nasional.
“White Paper Industri Kesehatan disusun untuk memotret kondisi industri kesehatan di Indonesia, dampaknya terhadap perekonomian, serta memberikan rekomendasi agar investasi di sektor kesehatan dapat tumbuh lebih baik,” tandasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra

