Poin Penting
- Kadin menilai Indonesia mulai tertinggal dari Vietnam dalam hal daya saing dan pengembangan industri.
- Produktivitas tenaga kerja dinilai menjadi faktor penting, selain regulasi dan insentif investasi, dalam menarik investasi.
- Pengembangan SDM berbasis kebutuhan industri menjadi kunci mendukung hilirisasi, ekonomi digital, dan industri masa depan.
Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai Indonesia perlu meningkatkan daya saing nasional dengan belajar dari pengalaman negara lain, khususnya Vietnam yang dinilai lebih cepat dalam menarik investasi dan mengembangkan industrinya.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan selama ini perhatian terhadap Vietnam lebih banyak tertuju pada aspek regulasi, perizinan, dan insentif investasi. Padahal, produktivitas tenaga kerja dan kualitas sumber daya manusia (SDM) juga menjadi faktor penting yang perlu dipelajari.
“Kami melihat Vietnam sebagai salah satu negara yang sangat cepat perkembangannya. Kalau berbicara soal daya saing, Vietnam selalu menjadi pembanding karena kita melihat Indonesia mulai tertinggal,” ujar Shinta, dalam keterangannya, Rabu, 24 Juni 2026.
Baca juga: Kadin Nilai Kenaikan BI Rate Sejalan dengan Upaya Menjaga Inflasi
Menurutnya, Kadin telah menyampaikan kepada pemerintah agar Vietnam dijadikan salah satu benchmark dalam upaya meningkatkan daya saing nasional. Selain kebijakan investasi, Indonesia juga perlu mempelajari aspek produktivitas tenaga kerja.
Produktivitas jadi Faktor Penentu
Shinta mencontohkan, jam kerja di Vietnam mencapai 48 jam per minggu, lebih tinggi dibandingkan Indonesia yang rata-rata 40 jam per minggu. Menurutnya, faktor produktivitas tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan selain tingkat upah tenaga kerja.
“Ini bukan hanya soal tingkat upah, tetapi juga produktivitas yang menjadi kunci. Hal-hal seperti ini yang harus kita pelajari dari negara lain seperti Vietnam yang terlihat bergerak lebih cepat. Vietnam selalu menjadi benchmark bagi kita untuk melihat bagaimana meningkatkan daya saing Indonesia,” tutur Shinta.
Baca juga: Pengangguran Global Diproyeksi Naik, ILO Warning Pendapatan Buruh Anjlok
SDM Kunci Transformasi Industri
Lebih lanjut, Shinta menegaskan bahwa keberhasilan industrialisasi tidak hanya ditentukan oleh modal, teknologi, maupun infrastruktur, tetapi juga kualitas SDM.
Menurutnya, investasi pada manusia menjadi faktor paling menentukan dalam mendukung transformasi industri. Pabrik modern membutuhkan teknisi yang kompeten, transformasi digital memerlukan talenta teknologi yang memadai, sedangkan pengembangan industri hijau membutuhkan tenaga profesional yang memahami standar keberlanjutan.
Baca juga: Kadin Apresiasi Kenaikan BI Rate, Nilai Tanda-Tanda Perbaikan Ekonomi Mulai Terlihat
“Teknologi secanggih apa pun tidak akan memberikan manfaat optimal tanpa didukung SDM yang tepat. Karena itu, pemetaan SDM teknik dan profesi menjadi sangat penting,” bebernya.
Perlu Perencanaan SDM Berbasis Kebutuhan Industri
Shinta menjelaskan, Indonesia saat ini tengah mengembangkan sejumlah sektor strategis sebagai motor pertumbuhan ekonomi masa depan, mulai dari hilirisasi mineral, industri kendaraan listrik dan baterai, semikonduktor, industri kesehatan, pangan modern, energi terbarukan, hingga ekonomi digital.
Masing-masing sektor membutuhkan kompetensi yang berbeda sehingga pengembangan SDM tidak lagi dapat dilakukan dengan pendekatan umum dan seragam..
“Kita membutuhkan sistem perencanaan tenaga kerja yang berbasis data, berbasis kebutuhan industri, dan mampu mengantisipasi perubahan teknologi secara cepat,” katanya.
Untuk itu, Shinta menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, sekolah vokasi, lembaga pelatihan, dan organisasi profesi dalam membangun ekosistem pengembangan talenta yang terintegrasi.
“Pemerintah berperan sebagai fasilitator yang memastikan seluruh ekosistem berjalan secara terintegrasi. Konsep link and match yang selama ini kita dorong juga perlu ditingkatkan menjadi kemitraan strategis yang lebih mendalam,” tandasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


