Poin Penting
- Kadin Indonesia meluncurkan Nusantara Rising dan Indonesia Soft Power White Paper untuk mendorong kekayaan budaya menjadi kekuatan ekonomi
- Kadin menyoroti persoalan “missing middle” di industri kreatif, yakni banyak karya kreatif yang terlalu besar untuk pembiayaan mikro, tetapi belum cukup bankable
- Pemerintah mendukung penguatan soft power Indonesia melalui kolaborasi Kadin, Kementerian Kebudayaan, dan Kementerian Ekonomi Kreatif agar budaya, musik, film, animasi, hingga gim berkembang menjadi industri global.
Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meluncurkan Nusantara Rising: Indonesia’s Collective Soft Power Movement sekaligus Indonesia Soft Power White Paper.
Inisiatif ini disusun bersama pelaku industri dan akademisi, serta mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan RI dan Kementerian Ekonomi Kreatif RI.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin Indonesia Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan Indonesia memiliki modal budaya yang besar. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terintegrasi menjadi kekuatan ekonomi
Shinta mencontohkan industri drama pendek Tiongkok (duanju) yang baru berjalan tiga tahun namun sudah menghasilkan sekitar Rp156 triliun per tahun, setara nilai ekspor migas Indonesia pada 2024.
Baca juga: Jelang ASEAN 2027, Kadin Indonesia dan Singapura Perkuat Kerja Sama AI
Ia juga menyoroti Korea Selatan, yang investasi budaya pemerintahnya sebesar USD440 juta per tahun kini menggerakkan industri konten senilai USD107 miliar.
“Indonesia tidak kekurangan bahan baku. Yang belum ada adalah rajutan yang menyatukan semuanya secara strategis, dari pendekatan sektoral menuju ekonomi budaya sirkular,” ujar Shinta dikutip 5 September 2026.
Kadin Soroti “Missing Middle” Industri Kreatif
Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Kebudayaan Kadin Indonesia Rahayu Saraswati Djojohadikusumo menegaskan bahwa kekayaan budaya Indonesia, lebih dari 1.300 suku bangsa dan ratusan bahasa hidup, belum otomatis menjadi kekuatan.
Ia menyampaikan bahwa tantangan struktural terbesar saat ini adalah the missing middle: banyak karya kreatif Indonesia terlalu besar untuk pembiayaan mikro, namun belum cukup bankable untuk pembiayaan korporasi atau modal ventura.
Rahayu menegaskan posisi Kadin Indonesia dalam ekosistem ini bersifat menjembatani, bukan menggantikan tugas kementerian.
“Kadin Indonesia tidak hadir untuk menggantikan peran pemerintah. Kadin Indonesia hadir untuk menjembatani kebijakan dengan industri, kreator dengan pembiayaan, dan IP lokal dengan peluang global,” ujarnya.
Budaya Indonesia Punya Potensi Ekonomi
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menyambut baik peluncuran Nusantara Rising dan menegaskan bahwa kekayaan budaya Indonesia memiliki potensi besar sebagai kekuatan ekonomi sekaligus soft power nasional.
Baca juga: Kadin Bawa 12 Usulan Revisi UU Kadin ke DPR, Ini Poin-Poinnya
“Indonesia memiliki mega cultural diversity. Kekayaan budaya kita bukan hanya warisan yang perlu dilestarikan, tetapi juga sumber kreativitas, nilai ekonomi, dan daya pengaruh Indonesia di dunia,” ujar Fadli.
Pada kesempatan yang sama, Kementerian Kebudayaan RI juga menyerahkan SK pembentukan Komite Nasional Soft Power Indonesia sebagai wadah kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat pengembangan soft power Indonesia.
Sementara itu, Menteri Ekonomi Kreatif RI Teuku Riefky Harsya, memaparkan keselarasan inisiatif ini dengan Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) Nasional yang telah diresmikan Presiden, dan memastikan sinergi keduanya ke depan.
Kementerian Ekonomi Kreatif RI, lanjut Riefky, siap berkolaborasi dengan Kadin Indonesia dalam mendukung Nusantara Rising.
“Kita tidak ingin Indonesia hanya menjadi pasar bagi konten global, tetapi juga tumbuh sebagai content powerhouse yang mampu membawa budaya, karakter, dan cerita Indonesia menjadi karya kreatif anak bangsa baik musik, film, animasi, maupun gim menuju panggung dunia,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


