Indonesia Tetap Menarik di Tengah Dinamika Kawasan
Sementara itu, sektor perhotelan juga memperoleh manfaat dari pemulihan aktivitas perjalanan di Asia Pasifik. Kawasan ini mencatat pertumbuhan kedatangan wisatawan internasional sebesar 6,3 persen sepanjang 2025, didorong pemulihan di Asia Timur Laut dan Oseania.
Kondisi tersebut tecermin pada kinerja hotel, dengan pendapatan per kamar yang tersedia (RevPAR) dalam dolar AS meningkat 11 persen pada dua bulan pertama 2026 seiring kenaikan tarif kamar harian rata-rata.
Volume transaksi hotel pada kuartal pertama 2026 juga meningkat 36 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan mendominasi pasar dengan kontribusi gabungan sebesar 73 persen dari total volume transaksi hotel di kawasan.
“Namun, mengingat kawasan Asia Pasifik sangat bergantung pada permintaan domestik dan intra-regional, kondisi ini lebih mencerminkan penyesuaian pasar daripada perlambatan yang signifikan. Investor dengan likuiditas yang kuat diperkirakan akan tetap bergerak aktif, sementara investor yang mengandalkan pembiayaan utang kemungkinan akan bersikap lebih hati-hati dalam jangka pendek,” tambah Stuart.
Baca juga: Pemerintah akan Bangun 1.400 Rumah ASN di Cikoya, Ini Rinciannya
Di tengah dinamika global tersebut, Indonesia dinilai tetap menjadi salah satu pasar yang menarik bagi investor properti di kawasan.
Country Head JLL Indonesia, Farazia Basarah mengatakan, Indonesia masih menarik minat investor berkat fundamental pasar yang kuat serta tren struktural jangka panjang, seperti ekonomi digital yang terus berkembang, bonus demografi, dan meningkatnya adopsi AI.
“Kami melihat minat investor yang tetap tinggi terhadap sektor-sektor dengan potensi pertumbuhan yang kuat, termasuk logistik dan manufaktur, data center, dan perhotelan,” ujar Farazia. (*) Ayu Utami


