Poin Penting
- Bank Saqu mencatat sekitar 1.000-2.000 nasabah solopreneur dari total 3,9 juta nasabah.
- Program Solopreneur Society memasuki tahun ketiga untuk memperluas dukungan dan akuisisi nasabah UMKM.
- Bank Saqu memanfaatkan ekosistem logistik dan jaringan usaha Astra untuk mendapatkan nasabah baru.
Jakarta – Bank Saqu terus mencari peluang untuk menambah nasabah sekaligus memperkuat bisnis melalui segmen solopreneur dan ekosistem usaha yang dimilikinya.
Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui program Bank Saqu Solopreneur Society 2026: The Founders Club yang resmi dimulai pada Kamis, 3 September 2026.
Program yang telah memasuki tahun ketiga sejak pertama kali digelar pada 2024 ini ditujukan untuk memperluas dukungan Bank Saqu terhadap pertumbuhan solopreneur atau pelaku UMKM di Indonesia.
Relationship Banking Director Bank Saqu, Hendrik Komandangi, mengatakan jumlah nasabah yang masuk kategori solopreneur masih relatif kecil dibandingkan total nasabah Bank Saqu.
Saat ini, terdapat sekitar 1.000-2.000 nasabah solopreneur dari total 3,9 juta nasabah Bank Saqu.
“Dari sisi (nasabah) solopreuner ya, kita undang berapa tahun terakhir itu paling mungkin yang benar-benar berhubungan sama kita itu 1.000 sampai 2.000 customer. Jadi, persentasenya itu masih sangat kecil,” kata Hendrik saat acara Kick Off Bank Saqu Solopreneur Society 2026 di Jakarta, Kamis, 3 September 2026.
Baca juga: Bank Saqu Kembangkan Solopreneur Society 2026, Ini Fasilitasnya
Melalui penyelenggaraan Solopreneur Society tahun ini, Bank Saqu berharap dapat meningkatkan jumlah nasabah UMKM sekaligus mendorong kualitas pembiayaan dan transaksi dari segmen tersebut.
Manfaatkan Fitur Saku untuk Bisnis
Hendrik mengatakan Bank Saqu menyiapkan berbagai fitur layanan “Saku” untuk membantu solopreneur mengatur kebutuhan keuangan bisnis.
Fitur tersebut memungkinkan pemilik usaha memisahkan dana berdasarkan kebutuhan, seperti pembayaran pemasok atau pembelian barang.
“Jadi, saku-saku itu dianggap seperti ledger-ledger atau akun-akun yang terpisah. Yang ini untuk pembayaran supplier ini, yang ini untuk pembelian apa, gitu. Jadi, kita bisa mengatur,” jelas Hendrik.
Baca juga: Semester I 2026, Kredit Bank Saqu Melonjak 37,4 Persen Jadi Rp8,6 Triliun
Layanan tersebut juga dapat diakses oleh staf yang diberi izin oleh pemilik usaha. Dengan begitu, pemilik tetap dapat mengawasi penggunaan akun meski pengelolaan keuangan dilakukan bersama tim.
Selain layanan untuk solopreneur, Bank Saqu juga memiliki Bank Saqu Business yang dilengkapi fitur cash management untuk kebutuhan bisnis dengan skala komersial hingga korporasi.
Ekosistem Logistik Jadi Penopang
Di tengah kondisi ekonomi dan tren suku bunga tinggi, Hendrik mengakui penyaluran kredit masih menjadi tantangan bagi Bank Saqu.
Karena itu, bank menerapkan seleksi dalam mengembangkan bisnis agar pertumbuhannya tetap berkelanjutan. Salah satu kekuatan yang dimanfaatkan adalah ekosistem industri logistik yang telah dibangun selama puluhan tahun oleh Bank Jasa Jakarta sebelum bertransformasi menjadi Bank Saqu.
“Ternyata perkembangan industri logistik masih sangat baik. Logistik ini masih sangat berkembang. Itu makanya kita bisa riding pertumbuhan itu bersama dengan industri logistik tadi,” paparnya.
Baca juga: Bank Saqu Perkuat Engagement Komunitas Lewat Footgolf Fun Match
Bidik Nasabah dari Ekosistem Astra
Selain mengandalkan bisnis yang sudah ada, Bank Saqu juga memanfaatkan jaringan usaha Astra sebagai salah satu pemegang saham untuk mencari nasabah baru.
Hendrik mengatakan jaringan tersebut mencakup berbagai pelaku usaha yang terhubung dalam rantai bisnis, mulai dari pemasok, pembeli hingga distributor.
“Jadi, kita coba leverage ekosistem mereka (Astra) dari supplier maupun buyer, distributor, itu yang kita jadikan source of new customers kita. Jadi, dari sisi risiko pun bisa lebih terjaga,” sebutnya. (*) Steven Widjaja


