Poin Penting:
- Industri keuangan perlu bergeser dari fokus perluasan akses layanan keuangan menuju peningkatan kesehatan finansial masyarakat dan UMKM.
- UMKM masih menghadapi tantangan produktivitas, akses pasar, modal, dan kemampuan digital yang menghambat pertumbuhan usaha.
- Amartha bersama mitra meluncurkan Indonesian Coalition for Financial Health untuk mempercepat kolaborasi dan inovasi dalam meningkatkan kesehatan finansial masyarakat.
Jakarta – Industri keuangan dinilai perlu memasuki fase baru dalam pembangunan ekonomi inklusif. Jika selama ini fokus utama tertuju pada perluasan akses layanan keuangan, tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki kesehatan finansial yang lebih baik, produktif, serta mampu menghadapi berbagai guncangan ekonomi.
Isu tersebut menjadi sorotan utama dalam Asia Grassroots Forum 2026 yang digelar Amartha Financial bersama International Finance Corporation (IFC), Accion, dan Women’s World Banking (WWB) pada 3-4 Juni 2026 di Jakarta. Forum ini mengangkat tema “Enabling Growth, Elevating Financial Health” dan dihadiri lebih dari 500 delegasi dari berbagai kalangan, mulai dari investor global, pembuat kebijakan, pemimpin bisnis, akademisi, organisasi pembangunan, hingga praktisi ekonomi akar rumput.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, disparitas sosial, dinamika geopolitik, dan perkembangan kecerdasan buatan (AI), para pemangku kepentingan menilai pertumbuhan ekonomi harus tetap mampu menciptakan peluang yang merata bagi masyarakat luas, termasuk kelompok yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap modal, teknologi, dan sumber daya.
Baca juga: SBY: Pertumbuhan Tinggi Tak Menjamin Stabilitas jika Ketimpangan Membesar
Industri Keuangan Perlu Fokus pada Kesehatan Finansial
Transformasi industri keuangan yang lebih inklusif dinilai tidak cukup hanya dengan memperluas akses pembiayaan. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan masyarakat, keluarga berpenghasilan rendah, serta pelaku UMKM dapat meningkatkan produktivitas, membangun ketahanan ekonomi, dan mencapai tujuan keuangan jangka panjang.
UMKM sendiri menyumbang lebih dari 90 persen unit usaha dan mayoritas lapangan kerja di banyak negara Asia. Namun, sebagian besar pelaku usaha masih menghadapi hambatan berupa rendahnya produktivitas, keterbatasan akses pasar, minimnya modal, serta kesenjangan kemampuan digital.
Dalam pidato pembukaan Asia Grassroots Forum 2026, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan pentingnya pertumbuhan ekonomi yang mampu menciptakan kesempatan lebih luas bagi masyarakat.
“Di tengah perubahan global yang semakin cepat, negara-negara di Asia perlu terus mendorong produktivitas, kewirausahaan, dan inovasi. Pertumbuhan ekonomi harus menciptakan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk berkembang, membangun usaha, dan meningkatkan kesejahteraan. Kemajuan yang sesungguhnya adalah ketika pertumbuhan mampu menjangkau lebih banyak orang,” ujar SBY.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Amartha menilai masa depan pertumbuhan inklusif harus diukur dari kemampuan masyarakat akar rumput untuk menjadi lebih produktif, adaptif, dan tangguh dalam mengelola kondisi finansial mereka.
Industri Keuangan Butuh Dukungan Modal dan Teknologi
Dalam forum tersebut, industri keuangan juga didorong untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui tiga pilar utama, yakni Capital, Technology, dan Community. Ketiga aspek tersebut dipandang menjadi fondasi dalam meningkatkan kesehatan finansial masyarakat akar rumput.
Country Manager Indonesia IFC, Euan Marshall, menegaskan bahwa akses terhadap pembiayaan produktif masih menjadi faktor utama dalam memperluas peluang ekonomi di kawasan Asia.
“Akses terhadap pembiayaan produktif tetap menjadi salah satu faktor utama dalam memperluas peluang di seluruh Asia. Perusahaan sektor swasta, khususnya UMKM, merupakan tulang punggung perekonomian di kawasan ini. Ketika mereka dilengkapi dengan pembiayaan, sarana, dan dukungan yang tepat untuk bertumbuh, mereka dapat menjadi penggerak kuat dalam menciptakan lapangan kerja, membangun ketahanan komunitas, dan mendorong kesejahteraan jangka panjang,” ujar Euan.
Selain pembiayaan, pemanfaatan teknologi digital dan AI dinilai semakin penting untuk meningkatkan produktivitas UMKM. Namun, tantangan utamanya adalah memastikan inovasi tersebut dapat diakses dan dimanfaatkan secara relevan oleh kelompok masyarakat yang selama ini belum terlayani secara optimal.
Managing Partner Accion Digital Transformation, Njord Andrewes, mengatakan bahwa teknologi berpotensi membuka peluang ekonomi yang lebih besar bagi pelaku usaha kecil.
“AI dan teknologi digital membuka peluang besar yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk membuat usaha kecil menjadi lebih produktif, dengan memperluas akses terhadap layanan keuangan, menurunkan biaya, dan menghadirkan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. Teknologi ini merupakan alat yang sangat kuat dan harus digunakan secara bertanggung jawab, dengan aturan pengaman yang menempatkan perlindungan konsumen dan kepercayaan sebagai prioritas utama,” ucap Njord.
Baca juga: Rudiantara: Tech Winter Masih Berlanjut, Investor Kini Kejar Laba Startup
Industri Keuangan Perlu Perkuat Ekosistem dan Komunitas
Selain modal dan teknologi, penguatan komunitas dinilai menjadi faktor penting dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Bagi kelompok akar rumput, terutama perempuan pelaku usaha, kesehatan finansial tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga keluarga, usaha, dan lingkungan sekitarnya.
Sebagai bentuk komitmen terhadap agenda tersebut, Amartha bersama sejumlah mitra meluncurkan Indonesian Coalition for Financial Health (ICFH). Inisiatif lintas sektor ini bertujuan mempercepat riset, inovasi, dan kolaborasi guna meningkatkan kesehatan finansial masyarakat Indonesia, khususnya perempuan, pelaku UMKM, petani kecil, dan komunitas akar rumput.
Founder dan CEO Amartha Financial, Andi Taufan Garuda Putra, menegaskan bahwa optimisme, inovasi, dan kolaborasi menjadi kunci dalam menghadapi perubahan ekonomi global.
“Masa depan pertumbuhan inklusif tidak hanya ditentukan oleh perluasan akses keuangan, tetapi juga oleh kemampuan ekosistem untuk membantu masyarakat akar rumput menjadi lebih produktif, adaptif, dan tangguh secara finansial,” ujarnya.
Menutup forum, Andi Taufan berharap Asia Grassroots Forum dan ICFH dapat menjadi wadah kolaborasi yang menghasilkan solusi konkret bagi masyarakat akar rumput.
Melalui pendekatan yang menggabungkan modal yang lebih inklusif, teknologi yang relevan, dan komunitas yang kuat, industri keuangan diharapkan mampu membantu jutaan keluarga dan pelaku UMKM meningkatkan daya saing, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mencapai kesejahteraan yang lebih baik. (*)
Editor: Galih Pratama


