Poin Penting
- Rupiah melemah ke level Rp17.988 per dolar AS, namun sentimen pasar mendapat dukungan dari turunnya harga minyak mentah Brent.
- Penurunan harga minyak mendorong turunnya imbal hasil SBN serta meningkatkan volume perdagangan dan kepemilikan asing di pasar obligasi.
- Rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.900–Rp18.025 per dolar AS dengan tetap dipengaruhi perkembangan ekonomi global.
Jakarta – Rupiah dibuka melemah pada perdagangan Jumat (26/6) di tengah dinamika sentimen pasar global. Meski nilai tukar berada dalam tekanan, penurunan harga minyak mentah Brent ke bawah level US$73 per barel dinilai menjadi sentimen positif yang mampu meredakan kekhawatiran pasar terhadap risiko defisit kembar (twin deficit) Indonesia.
Berdasarkan data perdagangan, nilai tukar rupiah melemah 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp17.988 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.943 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan, turunnya harga minyak mentah Brent menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar terhadap mata uang domestik.
“Penurunan harga minyak tersebut meredakan kekhawatiran terhadap risiko twin deficit Indonesia,” katanya di Jakarta, dikutip Antara, Jumat (26/6).
Baca juga: RUPST KB Bank 2026 Resmi Ubah Direksi, Harryanto Pramono dan Rahmat Laksamana Bergabung
Harga Minyak Brent Redakan Tekanan terhadap Rupiah
Josua menjelaskan, penurunan harga minyak dipicu oleh ekspektasi meningkatnya pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi meredanya tekanan fiskal Indonesia karena berpotensi mengurangi beban impor energi.
Sejalan dengan pelemahan harga minyak global, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) juga mengalami penurunan. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor acuan lima tahun turun menjadi 7,21 persen atau berkurang 4 basis poin (bps), tenor 10 tahun menjadi 7,18 persen (-3 bps), tenor 15 tahun menjadi 7,28 persen (-2 bps), dan tenor 20 tahun menjadi 7,26 persen (-4 bps).
Volume perdagangan SBN turut meningkat menjadi Rp24,91 triliun dibandingkan Rp17,33 triliun pada sesi sebelumnya. Peningkatan aktivitas tersebut mencerminkan minat investor yang lebih besar di pasar obligasi.
Selain itu, kepemilikan investor asing pada SBN bertambah Rp160 miliar menjadi Rp875 triliun per 24 Juni 2026 atau setara 12,66 persen dari total outstanding. Perkembangan ini ikut menopang sentimen terhadap rupiah di pasar keuangan domestik.
Data Inflasi AS Kurangi Kekhawatiran Pasar
Dari faktor eksternal, indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) umum Amerika Serikat pada Mei 2026 tercatat tetap sebesar 0,4 persen secara bulanan (month-on-month/mom), lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 0,5 persen.
Secara tahunan, inflasi PCE umum meningkat menjadi 4,1 persen (year-on-year/yoy) dari 3,8 persen, sesuai dengan konsensus pasar. Sementara itu, inflasi PCE inti naik tipis menjadi 3,4 persen yoy dari sebelumnya 3,3 persen yoy.
Menurut Josua, realisasi inflasi bulanan yang lebih rendah dari perkiraan mengindikasikan tekanan inflasi jangka pendek di Amerika Serikat mulai mereda. Kondisi tersebut sedikit mengurangi kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang masih bertahan tinggi.
Di sisi lain, estimasi final pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada kuartal I-2026 direvisi naik menjadi 2,1 persen secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq) dari sebelumnya 1,6 persen. Revisi tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi Negeri Paman Sam masih cukup solid.
Baca juga: Rupiah Dibuka Melemah, Nyaris Balik Lagi ke Rp18.000 per Dolar AS
Dengan mempertimbangkan sentimen domestik dan global tersebut, Josua memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp17.900 hingga Rp18.025 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.
Penurunan harga minyak menjadi faktor yang membantu meredakan tekanan terhadap pasar keuangan, meski arah pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi perkembangan ekonomi global. (*)
Editor: Galih Pratama


