Poin Penting
- Volatilitas nilai tukar rupiah menjadi hambatan terbesar bagi investor PE dan VC yang berinvestasi di Indonesia.
- Aspek tata kelola perusahaan dan efektivitas regulasi juga menjadi perhatian utama investor.
- Meski demikian, Indonesia masih dinilai memiliki peluang besar dalam penciptaan nilai dan peningkatan efisiensi perusahaan.
Jakarta – Investor private equity (PE) dan venture capital (VC) masih memandang Indonesia sebagai pasar yang menarik untuk berinvestasi. Namun, volatilitas nilai tukar rupiah dan aspek tata kelola perusahaan dinilai menjadi hambatan utama dalam menyalurkan modal ke dalam negeri.
Hal itu tecermin dalam laporan Vistra Friction Index: Turning Friction into Capital Flow (APAC PE/VC Edition 2026) yang disusun Vistra Fund Solutions dan DealStreetAsia.
Dalam laporan tersebut, semakin tinggi nilai indeks mendekati angka 1, semakin besar tingkat kekhawatiran investor terhadap suatu aspek investasi. Sebaliknya, angka yang lebih rendah mencerminkan optimisme yang lebih tinggi.
Indonesia mencatat Friction Index, yakni aspek yang mencerminkan potensi terjadinya friksi saat berinvestasi, sebesar 0,60. Indeks yang Indonesia peroleh lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik (APAC) sebesar 0,47. Sementara itu, Opportunity Index Indonesia tercatat sebesar 0,57, masih berada di bawah rata-rata kawasan yang mencapai 0,64.
Baca juga: Purbaya Buka-bukaan Soal Perlindungan Hukum bagi Investor Patriot Bond
Berdasarkan laporan tersebut, risiko volatilitas mata uang menjadi faktor hambatan terbesar dengan skor 0,71. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan komponen hambatan lainnya dan mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi fluktuasi nilai tukar yang dapat memengaruhi imbal hasil investasi.
Selain risiko mata uang, investor juga menyoroti aspek tata kelola perusahaan, tecermin dari Corporate Governance Index Indonesia sebesar 0,64. Adapun risiko tata kelola yang terjadi secara luas di pasar memperoleh skor 0,71, sementara efektivitas kerangka hukum dan regulasi dalam menangani pelanggaran tata kelola memperoleh skor 0,61.
Dengan demikian, dalam pemetaan APAC PE/VC Opportunity-Friction Quadrant, Indonesia masuk dalam kelompok Precision-entry Markets bersama Thailand, Filipina, dan Kamboja. Kelompok ini dinilai memerlukan seleksi sektor yang lebih cermat, kemampuan eksekusi lokal yang kuat, serta perencanaan exit investasi yang lebih matang sejak awal.
Baca juga: Daya Saing Indonesia Merosot Tajam di Pasar Global, Kalah Jauh dari Vietnam dan Malaysia
David Anderson, Executive Vice President APAC Vistra Fund Solutions mengatakan, investor kini tidak lagi hanya mencari pasar dengan pertumbuhan tinggi. Menurutnya, kemampuan suatu negara dalam mengubah potensi pertumbuhan menjadi imbal hasil investasi menjadi faktor yang semakin menentukan.
“Cerita investasi private capital di APAC tidak lagi hanya tentang di mana pertumbuhan berada, tetapi tentang di mana manajer investasi dapat mengubah pertumbuhan tersebut menjadi imbal hasil,” ujar Anderson dalam keterangan resmi, dikutip Kamis, 25 Juni 2026.
Meski menghadapi berbagai hambatan, investor masih melihat peluang di Indonesia. Hal ini tecermin dari skor Operational Value Creation sebesar 0,62 yang menjadi komponen peluang tertinggi bagi Indonesia.
Temuan tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang bagi investor untuk meningkatkan efisiensi dan menciptakan nilai tambah pada perusahaan-perusahaan portofolio di dalam negeri. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


