Poin Penting
- IHSG turun ke level 5.644,23 dan menjadi posisi terendah dalam lima tahun terakhir.
- Pelemahan rupiah hingga Rp18.000 per dolar AS dan outflow asing Rp67,06 triliun menjadi faktor utama tekanan pasar.
- Analis memperkirakan IHSG masih berpotensi menguji level support berikutnya di kisaran 5.400.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pertama perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, menyentuh level 5.644,23, menjadi posisi terendah dalam lima tahun terakhir.
Dengan penurunan tersebut, IHSG telah terkoreksi 33,67 persen sejak awal 2026. Indeks terpantau merosot tajam dari level tertingginya tahun ini yang sempat mencapai 9.174,47.
Baca juga: IHSG Babak Belur, Purbaya: Banyak Rumor Negatif di Pasar
Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai pelemahan IHSG dipicu kombinasi sejumlah sentimen negatif yang terjadi secara bersamaan.
Efek ‘Double Kill’ Tekan Pasar Saham
Menurut Elandry, terdapat sentimen double kill yang membebani pergerakan IHSG, yakni pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) serta derasnya arus keluar dana asing dari pasar keuangan domestik.
Dari pasar saham, investor asing kembali mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp864,07 miliar. Sementara secara akumulatif sejak awal tahun, dana asing yang keluar dari pasar saham telah mencapai Rp67,06 triliun.
“Sentimen negatif dari Moody’s terhadap Danantara. Ada ketegangan Timur Tengah yang semalam mulai kembali memanas,” kata Elandry dalam keterangannya, Kamis, 4 Juni 2026.
Baca juga: Rupiah Dibuka Melemah di Level Rp17.981 per Dolar AS
Ia menambahkan, kebijakan tarif terbaru Presiden AS Donald Trump turut menekan sejumlah sektor ekspor nasional. Kondisi tersebut diperparah oleh aksi panic selling dan efek margin call yang memperbesar tekanan jual di pasar saham.
“Sentimen positifnya sangat minim untuk mengembalikan keadaan. Potensi masih ada tetapi menurut saya sangat kecil untuk bisa ditutup hijau dan membentuk All Time High (ATH) baru hari ini,” imbuhnya.
IHSG Berpotensi Uji Support 5.400
Sementara itu, Investment Specialist Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan dan menguji level support berikutnya di kisaran 5.400.
Menurut Faris, tekanan terhadap pasar saham tidak terlepas dari depresiasi rupiah yang telah menyentuh Rp18.000 per dolar AS.
“Terkait pelemahan IHSG hal tersebut tidak lepas dari pelemahan rupiah yang menyentuh level Rp18.000, yang kami proyeksi kan akan melanjutkan pelemahan hingga Rp18.000 seiring dengan Fibbonacci 1,618,” ujar Ahmad Faris dalam kesempatan terpisah.
Baca juga: IHSG Kembali Dibuka Melemah 0,59 Persen ke Level 5.905
Investor Disarankan Pilih Instrumen Berisiko Rendah
Di tengah volatilitas pasar yang tinggi, Faris menyarankan investor mencermati spread yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun Indonesia dan AS sebagai indikator minat investor institusi asing.
Menurutnya, investor asing umumnya membutuhkan spread sekitar 270 basis poin (bps) untuk tetap mempertahankan eksposurnya di pasar domestik.
“Jika kita lihat data ketika bottoming akibat tarif resiprokal Donald Trump yang saat ini berjarak 279 bps. Investor juga dapat mengalokasikan terlebih dahulu instrumen low risk seperti money market fund,” tambahnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


