Poin Penting
- IHSG diproyeksi mencapai level 7.500 pada akhir 2026.
- Capital outflow masih tinggi dan menahan pergerakan pasar saham domestik.
- Sektor minyak dan utilitas diuntungkan dari kenaikan harga minyak global.
Jakarta – Head of Equity Strategy Asia Pasific HSBC Global, Herald van der Linde mengungkapkan ada beberapa sektor emiten di pasar modal yang diuntungkan dari kenaikan harga minyak saat ini.
Herald menyebut sektor minyak dan utilitas menjadi yang paling diuntungkan, seiring tingginya harga jual minyak di pasar global.
“Jika anda berpikir tentang kondisi saat ini, tentu saja itu adalah minyak, minyak dan utilitasnya yang akan defensif. Harga minyak tinggi adalah baik untuk perusahaan-perusahaan yang menjual minyak,” sebut Herald dalam acara online media briefing HSBC Indonesia Economy and Investment Outlook Q2 2026, Kamis, 23 April 2026.
Baca juga: HSBC Ingatkan Dampak Harga Minyak Tembus USD100, BI Rate Berpotensi Naik
Namun, ia menjelaskan bahwa pergerakan harga saham sangat bergantung pada aliran dana investasi yang masuk ke pasar ekuitas suatu negara.
Menurutnya, pasar saham Indonesia saat ini cenderung terbatas pergerakannya karena besarnya dana yang keluar dari pasar saham domestik. Kondisi ini berbeda dengan Korea Selatan yang masih memiliki arus dana besar, sehingga pasar sahamnya lebih volatil.
“Investor asing adalah porsi terbesar penggerak nilai saham. Kita berbicara tentang saham telekomunikasi, perbankan, dan beberapa perusahaan consumer besar. Mereka mungkin memiliki bisnis yang sangat defensif, tapi bila berkaitan dengan outflows, emiten-emiten itulah di mana kebanyakan aliran dana keluar,” jelasnya.
Baca juga: HSBC Optimistis Defisit Fiskal RI Terjaga di Bawah 3 Persen pada 2026
Herald lalu memproyeksikan IHSG akan berada di level 7.500 pada akhir 2026.
“Jadi, kita memiliki target IHSG. Di akhir tahun ini, kita memiliki 7.500, dan kita sudah sangat dekat dengan level tersebut saat ini,” pungkas Herald. (*) Steven Widjaja








