Oleh Eko B. Supriyanto, Pemimpin Redaksi Infobank Media Group
LANGKAH itu melambat. Bukan karena lelah, melainkan karena cahaya temaram di dalam ruang pameran tiba-tiba menciptakan keheningan yang berbeda—hening yang mengundang untuk mendekat, membungkuk, dan menatap lebih lama ke dalam vitrin-vitrin kaca.
Di sana, selembar uang kertas tua terbaring sunyi. Warna kremnya telah memudar, namun dua sosok wayang wong dalam pose menari tetap gagah: mahkota berukir di kepala, kain batik melilit pinggang, jemari lentik yang seolah baru saja berhenti bergerak. Di bagian atas tertera De Javasche Bank, sementara angka nominal dalam gulden terukir anggun. Uang itu adalah seri Wayang keluaran 1930-an.
Ia tidak diam. Di balik kaca, ia berbisik tentang panggung-panggung rakyat di alun-alun, tentang gamelan yang menggetarkan dada, tentang riuh penonton yang duduk bersila di bawah langit malam. Ia menyimpan cerita tentang kerajaan yang runtuh, cengkeraman kolonial, krisis yang memorak-porandakan, hingga lahirnya Indonesia modern. Pameran temporer bertajuk “In Lakon: Wayang Wong Dadi Saksi” di Museum Bank Indonesia – yang berlangsung dari 3 Juni — 30 Agustus 2026 –ini mengajak kita masuk ke dalam bisikan itu.
Menurut Rio Wardhanu, Kepala Museum Bank Indonesia (BI) dan sekaligus penanggung jawab pameran mengatakan, pameran ini menyoroti perjalanan kesenian wayang orang yang terpatri sebagai representasi visual pada lembaran Gulden De Javasche Bank seri wayang.
”Ini sebagai wujud komitmen BI dalam melestarikan seni budaya. Pameran ini menngajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk melihat uang tidak sekadar sebagai alat transaski, melainkan sebagai medium perekam sejarah dan identitas bangsa,” kata Rio dalam sambutannya.
Babak Satu: Sang Saksi yang Tak Pernah Diam

Dalam kosmologi Jawa, “dadi saksi” bukan sekadar melihat. Nekseni berarti menyaksikan dengan kesadaran penuh, mengikatkan diri pada kebenaran yang disaksikan. Wayang wong telah menjadi saksi semacam itu selama berabad-abad. Ia lahir dari rahim keraton—Yogyakarta dan Surakarta—sebagai ritual, tontonan, sekaligus pendidikan nilai. Setiap gerak penari, setiap suluk dalang, adalah bahasa yang mengajarkan kepemimpinan, moralitas, dan hubungan manusia dengan semesta.
Lalu zaman bergerak. Kolonialisme datang dengan kapal dan birokrasinya. Wayang wong turun dari istana, menyebar ke kampung-kampung, menjadi hiburan wong cilik. Ia menyaksikan petani membayar pajak dengan keringat, menyaksikan tawa dan tangis di bawah tekanan kekuasaan asing. Setiap pertunjukan adalah arsip hidup—tanpa tinta, tanpa kertas—yang merekam denyut sosial, politik, dan budaya. Wayang wong nyekseni Indonesia jauh sebelum republik ini bernama.
Babak Dua: Di Atas Lembaran Uang

Mengapa pada 1930-an De Javasche Bank memilih wayang sebagai gambar pada uang kertasnya? Di satu sisi, ini adalah strategi legitimasi kekuasaan kolonial. Uang yang setiap hari disentuh rakyat menjadi medium komunikasi politik: lihatlah, kami memahami budaya kalian, kami dekat dengan kalian. Namun ironi pun hadir. Wayang, yang sarat spiritualitas manunggaling kawula Gusti, direduksi menjadi ornamen alat tukar kapitalistik yang memisahkan manusia dari akarnya. Nilai sakral luruh, berganti nominal.
Namun seperti lakon wayang yang selalu punya banyak tafsir, hadirnya wayang di atas uang juga membuktikan betapa dalam seni ini meresap ke kesadaran kolektif. Uang itu menjadi semacam “museum bergerak”—berpindah dari tangan ke tangan, dari pasar ke pasar, dari generasi ke generasi. Setiap lipatan menyimpan jejak, setiap noda mencatat waktu. Petani di Kediri yang menerima upah bergambar Gatotkaca tidak sekadar memegang alat bayar; ia menggenggam pengingat tentang keberanian dan cinta.
Babak Tiga: Pameran sebagai Dramaturgi
Memasuki pameran “In Lakon” bagai menonton pertunjukan wayang yang dibagi dalam babak-babak. Kuratornya membangun narasi dengan kesadaran teatrikal.
Ruang pertama, “Panggung Rakyat” , menyajikan foto-foto lawas pertunjukan wayang wong masa kolonial, manuskrip lakon dengan aksara Jawa yang mulai pudar. Di sini setting panggung dan tokoh-tokoh diperkenalkan. Ruang kedua, “Di Atas Lembaran Uang” , memamerkan seri Wayang De Javasche Bank dalam vitrin bercahaya kuning lembut, seolah sosok wayang itu bernapas. Di dinding, teks kuratorial menawarkan konteks tanpa menggurui.
Ruang ketiga, “Dadi Saksi” , adalah ruang kontemplatif. Video pertunjukan wayang wong diputar, suara gamelan mengalun, seorang dalang melantunkan suluk. Di dinding terpampang kutipan kurator. “Wayang wong bukan sekadar seni pertunjukan. Ia adalah perpustakaan hidup yang menyimpan pengetahuan tentang manusia, alam, dan Tuhan. Selama ia dipentaskan, selama itu pula ia bersaksi atas perjalanan bangsa ini.” Ide Nada Imandiharja, kurator pameran.
Ruang keempat, “Masa Depan Ingatan” , hadir lebih kontemporer dengan instalasi digital—pengunjung diajak mencoba kostum wayang wong secara virtual, mendengarkan kisah para pelaku seni yang bertahan. Sebuah pesan tersirat: lakon ini belum usai.
Babak Empat: Ingatan Kolektif dan Identitas Nasional
Wayang hidup bukan karena ia diingat, melainkan karena terus ditafsirkan ulang. Sejak era Majapahit, wayang adalah media pendidikan: Arjuna mengajarkan tentang keraguan dan keberanian, Semar tentang kebijaksanaan yang tersembunyi di balik rupa sederhana. Nilai-nilai ini diukir di atas uang—pengakuan bahwa bangsa membutuhkan modal budaya, bukan sekadar modal ekonomi.
Ketika Indonesia merdeka, tradisi menampilkan simbol budaya pada uang berlanjut. Dari petani menanam padi hingga tarian daerah, uang rupiah menjadi kanvas mini mozaik nusantara. Ini bukan sekadar estetika, melainkan proyek nation building: menyatukan keberagaman dalam satu identitas tanpa menyeragamkan secara represif. Uang adalah benda paling demokratis yang menyentuh semua kelas. Setiap lembar rupiah adalah museum kecil yang berjalan, merawat ingatan tentang siapa kita.
Babak Lima: Tantangan di Era Digital
Namun, siapa yang masih punya waktu semalam suntuk menonton wayang? Generasi kini lebih akrab dengan layar gawai ketimbang layar kelir. Di tengah banjir konten digital, wayang wong terancam menjadi artefak bisu.
Pameran “In Lakon” menyadari kegelisahan ini. Ia tidak ingin bernostalgia hampa. Ia mengajak pengunjung muda melihat wayang sebagai sumber daya budaya yang fleksibel—bisa masuk ke komik, animasi, dialog isu korupsi atau lingkungan.
Dan, Museum BI berupaya menghadirkan narasi yang komunikatif, menjadikan ruang pameran sebagai tempat dialog, bukan sekadar gudang artefak. Inovasi kuratorial adalah kunci: membuat wayang terus berbicara tentang zaman yang sedang berlangsung, seperti goro-goro yang selalu menyelipkan kritik sosial dalam lakon.
Lakon yang Belum Usai
Di ujung pameran, sebuah cermin besar terpasang. Di atasnya tertulis: “Apa yang kau saksikan?” Setelah menyusuri lorong waktu, menyentuh artefak, mendengar kisah, pertanyaan itu dikembalikan kepada kita. Bukan kepada wayang, bukan kepada uang, tetapi kepada kita yang masih bernapas.
Di balik setiap lakon, selalu ada saksi. Dan di balik setiap lembar uang yang pernah berpindah tangan dari pasar ke pasar, dari generasi ke generasi, tersimpan jejak sebuah bangsa yang terus berusaha mengingat dirinya sendiri. Wayang wong mungkin telah turun dari panggung-panggung besar, tetapi ia belum berhenti bercerita. Sebab sejarah, seperti lakon, tidak pernah benar-benar selesai dipentaskan.
Gamelan sayup terdengar. Lampu pameran meredup. Pintu keluar terbuka. Lakon ini belum selesai. (*)


