Poin Penting
- Hilirisasi dinilai menjadi solusi keluar dari “jebakan komoditas” yang membuat petani bergantung pada penjualan bahan mentah.
- Pemerintah dan Danantara mempercepat proyek hilirisasi di sektor unggas, sawit, pala, dan kelapa.
- Hilirisasi berpotensi meningkatkan pendapatan petani, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat industri nasional.
Jakarta – Peringatan Hari Krida Pertanian Nasional pada 21 Juni menjadi momentum untuk menyoroti tantangan yang masih dihadapi sektor pertanian Indonesia. Meski berkontribusi 12,61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, kesejahteraan petani dinilai masih perlu ditingkatkan.
Salah satu persoalan utama adalah ketergantungan petani pada penjualan hasil panen dalam bentuk bahan mentah. Kondisi ini membuat pendapatan petani rentan terhadap fluktuasi harga komoditas dan perubahan pasar, meski Nilai Tukar Petani (NTP) menunjukkan tren membaik.
Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Delima Hasri Azahari, menyebut kondisi tersebut sebagai “jebakan komoditas”.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya pertanian yang melimpah, namun sebagian besar nilai ekonomi justru tercipta pada tahap pengolahan, bukan pada proses produksi di tingkat petani.
“Karena itu, hilirisasi pertanian semakin dipandang sebagai solusi strategis untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian. Melalui pengolahan hasil panen menjadi berbagai produk turunan, petani berpeluang memperoleh akses yang lebih luas terhadap rantai nilai dan pasar yang lebih menguntungkan,” ujarnya, dikutip Minggu, 21 Juni 2026.
Baca juga: Kapitalisasi Pasar Himbara Tembus Rp1.100 Triliun, Setara 10 Persen Nilai Perusahaan RI
Sementara itu, Guru Besar Ilmu Kebijakan Agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB), Bayu Krisnamurthi, menilai hilirisasi tidak hanya sebatas proses industrialisasi.
Menurut dia, hilirisasi dapat menjadi instrumen penting untuk mengurangi kemiskinan di pedesaan karena membuka peluang peningkatan pendapatan petani melalui akses pasar yang lebih besar.
Hilirisasi Pertanian Mulai Dipercepat
Upaya hilirisasi mulai diwujudkan melalui berbagai proyek strategis nasional. Salah satunya adalah groundbreaking hilirisasi fase pertama Danantara Indonesia pada Februari 2026 yang mencakup sektor pertanian dan peternakan, termasuk pengembangan hilirisasi unggas terintegrasi.
Model tersebut mengintegrasikan seluruh rantai pasok, mulai dari pembibitan, penyediaan pakan, hingga pengolahan dan pemasaran produk. Skema ini diharapkan mampu memperkuat posisi peternak rakyat, menjaga stabilitas harga, serta mendukung ketahanan pangan nasional.
Selain sektor unggas, Danantara Indonesia juga melakukan groundbreaking proyek hilirisasi komoditas kelapa sawit, pala, dan kelapa pada April 2026. Pengembangan industri pengolahan diharapkan dapat menyerap hasil produksi petani dengan harga yang lebih stabil dan kompetitif.
Baca juga: CIMB Niaga dan 16 Bank Danai Vale Indonesia USD750 Juta untuk Proyek Berkelanjutan
Keberadaan industri hilir dinilai tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat rantai pasok pangan nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan baku.
Pemerintah Dorong Produk Bernilai Tambah
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah berkomitmen mendorong hilirisasi sektor pertanian agar Indonesia tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah.
“Produk kita harus masuk ke rantai nilai global, supaya petani mendapat keuntungan lebih besar dan negara memperoleh devisa yang lebih kuat,” kata Amran.
Pandangan serupa disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri Groundbreaking Hilirisasi Fase 2 Danantara pada April 2026. Menurut dia, Indonesia harus memaksimalkan nilai tambah dari komoditas yang dimiliki melalui pengolahan di dalam negeri.
“Kita tidak mau sekadar jual bahan baku. Kita tidak mau hanya menjual buah kelapa. Kita mau olah turunan-turunannya di Indonesia supaya nilai tambahnya dinikmati oleh rakyat Indonesia,” ujar Prabowo.
Hilirisasi Diharapkan Ciptakan Lapangan Kerja Baru
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menilai proyek-proyek hilirisasi dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing global.
Menurut Rosan, jika dijalankan secara konsisten, hilirisasi berpotensi menjadi titik balik transformasi sektor pertanian Indonesia dari negara pengekspor bahan mentah menjadi produsen produk bernilai tambah tinggi.
Selain meningkatkan kesejahteraan petani, proyek hilirisasi juga diproyeksikan membuka lapangan kerja baru dan memperkuat struktur industri nasional.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, badan usaha milik negara (BUMN), dan mitra strategis, hilirisasi diharapkan menjadi fondasi penting dalam memperkuat kemandirian industri serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif. (*)
Editor: Yulian Saputra


