Poin Penting
Jakarta – Harga emas dan minyak global kembali merangkak naik pada perdagangan Rabu (12/8), di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).
Dinukil Reuters, harga emas spot naik 0,46 persen menjadi 4.387,03 dolar AS per ons. Harga minyak mentah AS atau West Texas Intermediate (WTI) juga naik 0,89 persen menjadi 83,94 dolar AS per barel. Sementara minyak Brent menguat 0,78 persen menjadi 89,60 dolar AS per barel.
Kedua harga acuan tersebut ditutup dengan kenaikan lebih dari 1 dolar AS pada Selasa (11/8), mencapai level penutupan tertinggi sejak 31 Juli 2026 dan melanjutkan tren penguatan setelah sempat melonjak sekitar 5 persen pada Senin (10/8).
Ketegangan Geopolitik Dorong Harga Minyak
Kenaikan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai gangguan pasokan energi global. AS dan kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran melaporkan serangan terpisah terhadap kapal di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak, terutama di sekitar Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb.
Baca juga: Harga Emas Dunia Menguat, Investor Cermati Konflik Timur Tengah dan Data AS
Reuters melaporkan Iran masih mempertahankan tuntutannya terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Kondisi tersebut membuat risiko terhadap harga minyak masih cenderung berada di sisi atas.
“Sentimen pasar cenderung lesu di tengah risiko geopolitik yang masih membayangi dan sikap pelaku pasar yang menantikan data CPI AS,” kata Kyle Rodda, Analis Pasar Keuangan Senior di Capital.com, dalam catatannya.
Menurut Rodda, belum adanya perkembangan signifikan dalam perundingan serta sikap Iran terkait Selat Hormuz membuat risiko kenaikan harga minyak tetap tinggi.
Kekhawatiran pasokan juga diperkuat oleh proyeksi Administrasi Informasi Energi AS (EIA). Lembaga tersebut memperkirakan sekitar 600 ribu barel per hari produksi minyak Timur Tengah masih berpotensi tidak beroperasi hingga 2027 akibat gangguan yang berkepanjangan.
Pasar Menanti Data Inflasi AS
Selain geopolitik, perhatian investor tertuju pada data CPI AS yang akan dirilis Rabu (12/8) waktu setempat. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk membaca arah kebijakan Federal Reserve dalam pertemuan September mendatang.
Baca juga: Pandangan Analis soal Instrumen Investasi ETF Emas
Pasar ingin melihat apakah tekanan inflasi masih cukup tinggi untuk mendorong The Fed mempertahankan atau menaikkan suku bunga.
Berdasarkan jajak pendapat Reuters, harga konsumen AS diperkirakan naik 0,1 persen pada Juli setelah turun 0,4 persen pada Juni. Inflasi CPI tahunan diperkirakan melambat menjadi 3,4 persen dari 3,5 persen pada bulan sebelumnya.
Data tersebut penting karena pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September masih terbuka.
“Semua mata tertuju pada laporan IHK,” ujar Skye Masters, Kepala Riset Pasar di National Australia Bank.
Dia mengatakan data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi mendorong reli obligasi pemerintah AS karena investor mengurangi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve. (*)
Editor: Yulian Saputra


