Poin Penting
- Harga emas stabil setelah data ketenagakerjaan AS melemah dan meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
- Emas mencatat kenaikan mingguan pertama dalam lima pekan, sementara dolar AS melemah.
- Analis menilai prospek jangka pendek emas mulai membaik, meski sikap hawkish The Fed masih menjadi risiko.
Jakarta – Harga emas bergerak stabil pada Jumat (3/7) usai data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang melemah dari perkiraan menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Kondisi ini pun mendorong pemulihan harga logam mulia yang sempat tertekan dalam beberapa pekan terakhir.
Bahkan, harga emas tercatat sempat mengalami kenaikan mingguan pertama dalam lima pekan, setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam delapan bulan pada awal pekan ini.
Dinukil Investing.com, Jumat (3/7), harga emas spot naik 1,3 persen menjadi USD4.175,72 per troy ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas menguat 1,5 persen menjadi USD4.189,59 per troy ons. Sepanjang pekan ini, harga emas spot telah mencatat kenaikan sekitar 1 persen.
Data Payroll AS Tekan Dolar dan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga
Sebelumnya, pada Kamis (2/7), harga emas melonjak tajam setelah data nonfarm payrolls Amerika Serikat untuk Juni 2026 menunjukkan hasil yang lebih rendah dari perkiraan pasar.
Data tersebut mengurangi ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga tahun ini. Pasalnya, pasar tenaga kerja yang kuat merupakan salah satu syarat utama bagi bank sentral AS untuk memperketat kebijakan moneternya.
Baca juga: Update Harga Emas Hari Ini (3/7): Antam, Galeri24, dan UBS Naik Berjamaah
Rilis data tersebut memberi ruang bagi pemulihan harga emas, setelah kekhawatiran terhadap suku bunga yang lebih tinggi terus menekan logam mulia sepanjang kuartal kedua.
Selama periode April–Juni, harga emas terkoreksi sekitar 13 persen sekaligus menghapus seluruh kenaikan yang sempat dibukukan sepanjang tahun ini.
Di sisi lain, Indeks Dolar Amerika Serikat (US Dollar Index/DXY) melemah dari posisi tertinggi dalam 13 bulan setelah publikasi data ketenagakerjaan tersebut. Pelemahan dolar turut mendorong penguatan harga logam lainnya.
Harga Perak dan Platinum Ikut Melonjak
Di sisi lain, harga perak spot melonjak 2,4 persen menjadi US$62,4075 per troy ons, sedangkan platinum spot naik 1,9 persen menjadi USD1.656,84 per troy ons.
Baca juga: Mengecek Emas Asli dan Palsu Bisa Dilakukan Sendiri di Rumah, Begini Caranya
Meski demikian, emas dan logam mulia lainnya masih mencatat kerugian cukup dalam sepanjang kuartal kedua akibat meningkatnya kekhawatiran bahwa The Fed masih berpotensi menaikkan suku bunga tahun ini.
The Fed Masih Bernada Hawkish
Sementara itu, para pejabat Federal Reserve menunjukkan sikap yang cenderung hawkish dalam pertemuan kebijakan moneter pada Juni.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, juga menegaskan pada bahwa bank sentral tetap berkomitmen mempertahankan target inflasi tahunan sebesar 2 persen.
Para analis pun menilai prospek jangka pendek harga emas mulai membaik, meski investor masih perlu berhati-hati.
“Dalam jangka pendek, kami mengubah pandangan dari berhati-hati menjadi cukup konstruktif. Harga emas berpotensi melanjutkan pemulihan apabila data ekonomi Amerika Serikat berikutnya terus menekan imbal hasil riil dan nilai tukar dolar AS,” tulis analis OCBC dalam risetnya.
Sebelumnya pada pekan ini, bank asal Singapura tersebut memangkas proyeksi harga emas sepanjang tahun.
OCBC menilai ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat serta tingginya imbal hasil obligasi masih menjadi tantangan utama bagi harga emas dalam jangka pendek. Selain emas, OCBC juga memangkas proyeksi harga perak. (*)
Editor: Yulian Saputra


