Poin Penting
- BRI Jazz Gunung Bromo mempertahankan identitasnya sebagai festival musik jazz dengan minimal 50-60 persen line up bergenre jazz.
- Festival melibatkan warga dan UMKM sekitar untuk mendorong dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.
- Sigit Pramono meminta dukungan pemerintah melalui kemudahan perizinan, perpajakan, promosi, dan infrastruktur publik.
Bromo – Founder Jazz Gunung Indonesia, Sigit Pramono, menegaskan event BRI Jazz Gunung Bromo akan tetap mempertahankan identitasnya sebagai festival musik jazz.
Menurutnya, sedikitnya 50-60 persen musisi dalam line up harus membawakan musik jazz. Meski demikian, festival tetap menyesuaikan diri dengan perkembangan pasar dan regenerasi penonton.
Ia menegaskan, sejak awal, Jazz Gunung tidak hanya dirancang sebagai festival musik, tetapi juga memiliki misi memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di sekitar lokasi penyelenggaraan.
“Awal alasan adanya Jazz Gunung seperti apa? Harus ada tetesan ekonomi, harus menyejahterakan masyarakatnya,” kata Sigit, kepada Infobanknews usai konfrensi pers BRI Jazz Gunung Bromo, Jumat, 24 Juli 2026.
Baca juga: Debut di BRI Jazz Gunung Slamet 2026, Amelia Ong Beri Pesan Jaga Alam lewat ‘Ibu Pertiwi’
Sigit mengatakan penyelenggara festival musik kerap menghadapi dilema antara menjaga kualitas artistik dan memenuhi kebutuhan komersial. Tak sedikit festival yang mengusung nama jazz, tetapi justru minim menghadirkan musisi jazz.
“Godaan ekonomi selalu tinggi. Banyak festival yang akhirnya terjebak. Ngomongnya festival jazz, tapi enggak ada jazz-nya,” jelasnya.
Karena itu, kata dia, Jazz Gunung menetapkan porsi musik jazz tetap mendominasi setiap penyelenggaraan.
“Kami mempertahankan minimal 50 sampai 60 persen harus jazz,” kata Sigit.
Ia menjelaskan ruang bagi genre lain tetap dibuka sebagai bagian dari upaya menarik generasi muda. Namun, seluruh penampil tetap diarahkan untuk menghadirkan nuansa jazz.
“Kalau jazz semua mungkin juga enggak terlalu menarik bagi sebagian penonton. Tapi sejak awal kami sudah mengatakan ini Jazz Gunung, ya harus jazz,” tandasnya.
Libatkan UMKM dan Warga Sekitar
Selain menghadirkan pertunjukan musik, Jazz Gunung berupaya memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal. Sigit membeberkan, pihaknya melibatkan warga sekitar dalam berbagai kebutuhan operasional, mulai dari transportasi hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Shuttle kami pakai dari warga sekitar. UMKM juga kami libatkan semua,” katanya.
Baca juga: Guncang Banyumas! Amelia Ong hingga Mocca Sukses Meriahkan BRI Jazz Gunung Slamet 2026
Menurut Sigit, keterlibatan masyarakat menjadi bagian dari konsep penyelenggaraan festival sejak pertama kali digagas. Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan penyelenggara, tetapi juga masyarakat di kawasan wisata.
Minta Dukungan Pemerintah dalam Perizinan
Sigit mengakui dukungan pemerintah daerah terhadap BRI Jazz Gunung Bromo tetap penting, meski tidak harus dalam bentuk pendanaan.
Menurutnya, pemerintah memiliki keterbatasan anggaran. Karena itu, dukungan yang paling dibutuhkan adalah kemudahan dalam aspek perizinan, perpajakan, promosi, dan penyediaan infrastruktur publik.
Baca juga: BRI Ramaikan Jazz Gunung Slamet 2026 lewat Booth Interaktif Berhadiah
“Kami realistis. Pemerintah punya keterbatasan anggaran. Terpenting membantu soal perizinan, perpajakan, prasarana publik, dan sosialisasi melalui kanal yang mereka miliki,” bebernya.
Menurut Sigit, kemudahan tersebut akan membantu kelancaran penyelenggaraan festival sekaligus mendukung keberlanjutan kegiatan seni dan budaya di daerah. (*)
Editor: Yulian Saputra


