Poin Penting
- Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan tujuh strategi stabilisasi rupiah merupakan langkah “all out” menghadapi tekanan nilai tukar
- BI menyebut seluruh kebijakan stabilisasi dilakukan secara maksimal untuk menjaga rupiah dari pelemahan
- Perry menekankan upaya BI bukan langkah biasa, melainkan strategi menyeluruh untuk menstabilkan rupiah.
Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menegaskan tujuh strategi stabilisasi yang dijalankan merupakan langkah “all out” untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang tengah tertekan.
“Itu bukan business as usual (langkah biasa). Ketujuh langkah itu adalah langkah-langkah yang all out,” ujar Perry dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2026 di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Perry menyebut posisi cadangan devisa Indonesia sebesar USD148,2 miliar per Maret 2026 (turun dari USD151,9 miliar pada Februari 2026) masih memadai untuk menopang stabilitas rupiah.
“Kami ukur kebutuhan-kebutuhan untuk intervensi. Tolong diingat, cadangan devisa itu dikumpulkan, kita kumpulkan pada saat panen inflow besar. Makanya, kita gunakan untuk pada saat paceklik, saat outflow jumlahnya besar,” tegasnya.
Baca juga: Prabowo Restui 7 Strategi BI Perkuat Rupiah, Ini Isinya
Ia menjelaskan, intervensi BI tidak hanya dilakukan di pasar domestik, tetapi juga di pasar offshore non-deliverable forward (NDF) seperti Hongkong, Singapura, London, dan New York, termasuk keterlibatan bank domestik untuk memperkuat pasokan valas.
Selain itu, BI juga mendorong arus masuk modal melalui instrumen SRBI serta berkoordinasi dengan pemerintah melalui pembelian surat berharga negara (SBN) guna menjaga stabilitas pasar keuangan.
Menurut Perry, optimalisasi SRBI menjadi penting untuk mengimbangi tekanan outflow pada SBN dan saham.
“Secara total memang SRBI inflow-nya lebih besar dari net outflownya SBN year to date. Inflow dari SRBI year to date itu Rp78,1 triliun, outflow sahamnya Rp38,6 triliun, SBN meskipun di minggu-minggu terakhir sudah inflow, tapi year to date-nya Rp11,7 triliun outflow. Nah, ini (usaha) adalah juga all out,” jelasnya.
Perry menambahkan, pelemahan rupiah tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga banyak mata uang lain akibat faktor global seperti kenaikan harga minyak, tensi geopolitik Timur Tengah, serta penguatan dolar AS seiring kenaikan suku bunga The Fed.
Baca juga: LPS: Lebih dari 90 Persen Rekening Nasabah Bank Telah Dijamin
Faktor musiman pada April–Mei, termasuk tingginya permintaan valas untuk umrah, haji, dan repatriasi dividen, juga turut menekan rupiah.
“BI all out jaga rupiah, berkoordinasi erat dengan pemerintah, serta terus juga mendapat dukungan penuh dari Bapak Presiden,” tegas Perry. (*) Steven Widjaja


