Poin Penting
- September 2026 masih menjadi fase kritis karhutla karena kondisi kering dan tingginya titik panas (hotspot).
- BMKG memprediksi El Niño bertahan hingga awal 2027 sehingga hari tanpa hujan berpotensi semakin panjang.
- Sumatra dan Kalimantan menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian utama dalam penanganan karhutla.
Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan September 2026 masih menjadi fase kritis kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia.
Kondisi kering, pengaruh El Niño, serta tingginya jumlah titik panas (hotspot) menjadi sejumlah faktor yang perlu diwaspadai. Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko munculnya kebakaran baru di sejumlah wilayah.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani mengatakan kondisi tersebut menjadi bagian dari analisis dan pemantauan BMKG dalam upaya penanggulangan karhutla.
“Karena itu, periode September ini masih menjadi fase kritis yang membutuhkan kesiapsiagaan bersama,” ujar Faisal, dalam keterangannya, dikutip Rabu, 9 September 2026.
Baca juga: Atasi Karhutla, BNPB Kerahkan Pesawat Cessna untuk Modifikasi Cuaca
Menurut Faisal, terdapat tiga faktor utama yang perlu menjadi perhatian, yakni kondisi kering yang masih dominan, tingginya potensi karhutla terutama di Sumatra dan Kalimantan, serta mulai terdeteksinya sebaran asap di sejumlah wilayah.
Karena itu, BMKG memprediksi El Niño masih akan bertahan hingga awal 2027. Fenomena tersebut berpotensi memperpanjang periode tanpa hujan di berbagai daerah.
Hingga awal September, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam musim kemarau. Hujan yang turun umumnya bersifat lokal sehingga belum mampu mengatasi kondisi kering secara merata.
Potensi Hujan Masih Rendah
Faisal mengatakan berdasarkan analisis BMKG, potensi pertumbuhan awan hujan pada periode 6-13 September masih relatif rendah di sebagian besar wilayah Indonesia.
Kondisi tersebut terutama terjadi di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera bagian selatan, serta sebagian Sulawesi dan Papua Selatan.
Menurutnya, rendahnya potensi pertumbuhan awan menunjukkan peluang hujan alami untuk membantu pemadaman karhutla masih terbatas.
Wilayah yang perlu mendapat perhatian utama meliputi Sumatra Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Baca juga: Karhutla Kembali Menyala Dekat IKN, TNI AU Kerahkan Helikopter Caracal
Selain memantau peningkatan hotspot, BMKG juga mendeteksi sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan yang berpotensi memengaruhi kualitas udara.
Pemantauan konsentrasi partikulat halus (PM2.5) juga menunjukkan peningkatan di beberapa lokasi yang terdampak aktivitas karhutla.
“Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pengendalian sumber kebakaran harus dilakukan sedini mungkin,” tegasnya.
Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca
Untuk mendukung penanganan karhutla, BMKG juga menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BNPB, kementerian/lembaga, pemerintah daerah, BUMN, dan berbagai pihak terkait lainnya.
“OMC tidak hanya digunakan untuk mitigasi karhutla, tetapi juga mendukung pengelolaan sumber daya air dan ketahanan pangan nasional. Operasi dilaksanakan secara adaptif berdasarkan kondisi atmosfer dan kebutuhan masing-masing wilayah,” jelas Faisal.
BMKG akan terus memperkuat layanan informasi cuaca, iklim, kualitas udara, dan peringatan dini sebagai dasar pengambilan keputusan dalam upaya pencegahan serta penanganan karhutla.
“BMKG siap terus memberikan dukungan informasi, peringatan dini, dan layanan OMC berbasis kondisi atmosfer terkini. Kami berharap informasi ini dapat memperkuat koordinasi dan langkah mitigasi lintas kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat,” pungkasnya.


