Poin Penting
- Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.
- Ekonom BTN menilai langkah BI bertujuan menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global.
- Ruang kenaikan suku bunga ke depan diperkirakan semakin terbatas.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Sejalan dengan kebijakan tersebut, suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,75 persen dan Lending Facility menjadi 6,50 persen.
Dengan kenaikan teranyar ini, BI Rate tercatat telah meningkat sebesar 100 basis poin sepanjang 2026.
Meski demikian, secara kumulatif level suku bunga saat ini masih lebih rendah dibandingkan total penurunan 125 basis poin yang dilakukan BI sepanjang 2025.
Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), Myrdal Gunarto mengungkapkan, keputusan BI menaikkan suku bunga mencerminkan fokus kuat pada stabilitas makroekonomi, khususnya dalam menjaga nilai tukar mata uang Garuda di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Menurutnya, kenaikan BI Rate menunjukkan sikap kehati-hatian bank sentral terhadap risiko tekanan pada nilai tukar rupiah serta potensi dampak imported inflation terhadap perekonomian domestik. Tekanan tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi yang pada akhirnya tecermin dalam inflasi produsen.
Baca juga: BI Rate Naik ke 5,75 Persen, Amar Bank Pilih Tetap Berhati-hati
“Kami memandang keputusan ini mencerminkan fokus Bank Indonesia yang tetap mengutamakan stabilitas makroekonomi, khususnya dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global,” ujar Myrdal, dalam keterangannya, dikutip Jumat, 19 Juni 2026.
Ia bilang, selain faktor inflasi dan nilai tukar, kebijakan suku bunga yang lebih tinggi juga dipengaruhi oleh dinamika likuiditas domestik dan global.
Risiko pelebaran defisit transaksi berjalan, meningkatnya kebutuhan devisa untuk impor energi dan pembayaran dividen korporasi, serta dinamika arus modal global menjadi faktor yang turut memengaruhi arah kebijakan moneter saat ini.
Myrdal menilai, langkah BI juga bertujuan menjaga daya tarik aset keuangan domestik di tengah kemungkinan perubahan kebijakan moneter global.
Meskipun minat investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia mulai menunjukkan perbaikan, BI tetap mengambil langkah preventif untuk memperkuat kepercayaan pasar dan menjaga stabilitas sistem keuangan.
Minat Investor terhadap SRBI Tetap Tinggi
Di sisi lain, kata dia, tingginya permintaan investor pada lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menunjukkan instrumen moneter BI masih efektif dalam menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
Baca juga: Bos BI Masih Waspadai Konflik AS-Iran Meski Ada Kesepakatan Damai
Nilai penyerapan SRBI tercatat mencapai sekitar Rp43 triliun dengan tingkat imbal hasil yang masih berada di atas 7 persen. Kondisi tersebut dinilai memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan stabilitas likuiditas dan nilai tukar apabila volatilitas pasar global kembali meningkat.
Untuk pasar obligasi, BTN memperkirakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor pendek masih akan bertahan di atas level 7 persen. Sementara itu, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun diperkirakan bergerak pada kisaran 6,87 persen hingga 7,41 persen.
BI Rate Diperkirakan Bertahan hingga Akhir 2026
Ke depan, sambungnya, ruang kenaikan BI Rate diperkirakan semakin terbatas dan akan sangat bergantung pada perkembangan nilai tukar rupiah, inflasi domestik, harga energi global, serta dinamika arus modal internasional.
“Selama tekanan eksternal mulai mereda dan harga minyak dunia tetap terkendali, kami memperkirakan BI Rate berpotensi dipertahankan pada level 5,75 persen hingga akhir tahun,” bebernya.
Dengan skenario tersebut, prospek perekonomian Indonesia diperkirakan tetap terjaga dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,17 persen pada 2026 dan inflasi sebesar 3,09 persen.
Sementara itu, pertumbuhan intermediasi perbankan diperkirakan berlangsung lebih moderat dengan pertumbuhan kredit di bawah 9 persen.
Sektor-sektor yang diproyeksikan menjadi motor utama pertumbuhan pembiayaan meliputi ketahanan pangan, transportasi, konstruksi, industri makanan dan minuman, energi, besi dan baja, kelapa sawit, dan properti residensial. (*)
Editor: Yulian Saputra


