Poin Penting
- BI menilai ketidakpastian global masih tinggi meski AS dan Iran telah mencapai kesepakatan damai sementara.
- Gubernur BI Perry Warjiyo mengingatkan negosiasi penyelesaian konflik masih dinamis sehingga diperlukan sinergi kebijakan fiskal dan moneter.
- Investor global masih cenderung memilih aset aman di negara maju karena yield US Treasury dan indeks dolar AS tetap tinggi.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) menilai ketidakpastian global masih tinggi meski konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai mereda setelah kedua negara mencapai kesepakatan sementara (interim deal).
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, konflik yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 telah mengganggu produksi, distribusi, dan rantai pasok perdagangan antarnegara. Kondisi tersebut juga menekan prospek pertumbuhan ekonomi global.
Menurut Perry, proses negosiasi antara AS dan Iran menuju penyelesaian konflik di Timur Tengah masih akan berlangsung dinamis sehingga memerlukan kewaspadaan dan penguatan respons serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter.
Baca juga: AS dan Iran Capai Kesepakatan Damai, Ini Bocoran Isi Perjanjiannya
“Ke depan, perkembangan negosiasi antara AS dan Iran terkait kesepakatan penyelesaian konflik di Timur Tengah diperkirakan masih dinamis sehingga memerlukan kewaspadaan serta penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis, 18 Juni 2026.
BI Proyeksikan Ekonomi Global Tumbuh 3 Persen
Adapun BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 tetap rendah, yakni sebesar 3 persen. Sementara itu, tekanan inflasi global diperkirakan meningkat menjadi sekitar 4,4 persen.
Kondisi tersebut mendorong sejumlah bank sentral dunia untuk mulai menaikkan suku bunga acuannya. Di AS, Fed Funds Rate saat ini dipertahankan pada level 3,75 persen, namun masih berpotensi naik seiring prospek inflasi yang lebih tinggi.
Baca juga: Bank Sentral Eropa Kerek Suku Bunga ke 2,25 Persen, Pertama Kali Sejak 2023
Investor Global Masih Memilih Aset Aman
Perry juga mencatat imbal hasil (yield) US Treasury masih berada pada level tinggi. Per 17 Juni 2026, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat sebesar 4,49 persen, sedangkan tenor dua tahun berada di level 4,18 persen, dipengaruhi oleh membesarnya defisit fiskal AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY) maupun negara berkembang (ADXY) masih kuat. Kondisi tersebut membuat minat investor global untuk menempatkan dana di negara berkembang (emerging markets) belum sepenuhnya pulih dan lebih memilih aset safe haven di negara maju. (*)
Editor: Yulian Saputra


