Poin Penting
- BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 3 persen pada 2026 dengan inflasi global naik menjadi 4,4 persen.
- Fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat dengan proyeksi pertumbuhan 4,9–5,7 persen, ditopang konsumsi, investasi, dan stimulus fiskal.
- Aliran modal asing mulai kembali masuk, inflasi tetap terkendali, sementara pertumbuhan kredit mencapai 11,5 persen didukung insentif likuiditas makroprudensial sebesar Rp418 triliun.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan bahwa perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian tinggi sepanjang 2026, meski sejumlah ketegangan geopolitik mulai mereda.
Kondisi tersebut diperkirakan akan menekan pertumbuhan ekonomi global dan memicu kebijakan moneter ketat di berbagai negara maju.
Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Firman Mochtar, membeberkan, gangguan rantai pasok global, konflik geopolitik, dan tingginya harga sejumlah komoditas strategis masih menjadi risiko utama bagi ekonomi dunia.
“Tekanan eksternal tersebut menjadi tantangan bagi seluruh emerging markets, termasuk Indonesia,” kata Firman, dikutip Jumat, 19 Juni 2026.
BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Global Turun Jadi 3 Persen
Bank Indonesia menyatakan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan melambat menjadi sekitar 3 persen dibandingkan 3,4 persen pada tahun sebelumnya. Sementara itu, inflasi global diproyeksikan meningkat menjadi 4,4 persen.
Baca juga: Bos BI Masih Waspadai Konflik AS-Iran Meski Ada Kesepakatan Damai
Kondisi tersebut pun mendorong bank sentral negara-negara maju mempertahankan kebijakan moneter ketat atau hawkish. Sikap tegas bank sentral utama dunia, terutama Federal Reserve, dinilai menjadi faktor utama penguatan dolar Amerika Serikat.
Penguatan dolar AS berdampak pada pergeseran arus modal global dari negara berkembang menuju negara maju, sehingga meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar dan pasar keuangan negara emerging markets.
Ekonomi Indonesia Dinilai Tetap Kuat
Di tengah ketidakpastian global, Bank Indonesia menilai fundamental ekonomi domestik masih relatif solid.
Firman pun menjelaskan, konsumsi rumah tangga tetap terjaga, stimulus fiskal pemerintah berjalan, tingkat keyakinan pelaku usaha masih berada pada zona ekspansi, dan investasi menunjukkan tren peningkatan.
Berdasarkan proyeksi Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan berada pada kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen.
Modal Asing Mulai Kembali Masuk ke Indonesia
Lebih lanjut, Bank Indonesia mencatat sejumlah indikator mulai menunjukkan perbaikan. Salah satunya adalah meningkatnya aliran modal asing ke instrumen keuangan domestik, terutama SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN).
Baca juga: Rupiah Melemah Meski BI Naikkan Suku Bunga, Tekanan Eksternal Masih Besar
Di sisi lain, inflasi Indonesia masih berada dalam rentang sasaran bank sentral. Pada Mei 2026, inflasi tercatat sebesar 3,08 persen secara tahunan atau masih berada dalam target BI sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.
Stabilitas inflasi ini dinilai memberikan ruang bagi pemerintah dan otoritas moneter untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
“Kebijakan yang kami tempuh mulai menunjukkan hasil positif. Aliran modal asing ke SRBI dan Surat Berharga Negara mulai meningkat, rupiah menguat, dan cadangan devisa tetap kuat,” tegas Firman.
Kredit Tumbuh Dua Digit
Di sisi pertumbuhan ekonomi, BI tetap menjalankan kebijakan makroprudensial yang akomodatif. Pertumbuhan kredit perbankan hingga Mei 2026 tercatat sekitar 11,5 persen secara tahunan, didorong oleh pembiayaan investasi dan program-program produktif pemerintah.
Untuk mempercepat intermediasi perbankan, BI terus memperbesar insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang hingga Juni 2026 telah mencapai sekitar Rp418 triliun.
Baca juga: Tanggapi Ulasan MSCI, OJK Perkuat Transparansi dan Integritas Pasar Modal
Insentif tersebut diberikan kepada bank yang menyalurkan pembiayaan ke sektor prioritas seperti hilirisasi, UMKM, ketahanan pangan, perumahan, dan ekonomi hijau.
BI juga meningkatkan fleksibilitas pengelolaan likuiditas perbankan serta memperbesar batas Rasio Pendanaan Luar Negeri guna memperluas sumber pembiayaan bagi sektor produktif. (*)
Editor: Yulian Saputra


