Poin Penting
- BI menyebut kenaikan BI Rate menjadi 5,75 persen berhasil menarik inflow sekitar USD8,5-9 miliar ke SBN dan SRBI, sehingga memperkuat cadangan devisa serta menjaga stabilitas rupiah
- Destry Damayanti mengatakan kenaikan BI Rate 100 bps dipilih untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global, sekaligus mendorong aliran modal asing dan memperkuat cadangan devisa
- BI menilai kebijakan menaikkan BI Rate berdampak positif terhadap stabilitas makro, tercermin dari masuknya inflow hingga USD9 miliar, inflasi yang terkendali, dan pergerakan rupiah yang lebih stabil.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) menyatakan kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 100 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen mendorong aliran modal (inflow) masuk ke pasar keuangan Indonesia yang berdampak pada kenaikan cadangan devisa.
Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, keputusan bank sentral mengerek BI Rate bertujuan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah volatilitas ekonomi global.
Kondisi tersebut disebabkan oleh tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berdampak pada melonjaknya harga energi, hingga ekspektasi kenaikan Fed Funds Rate (FFR) yang lebih cepat.
“Pada saat yang sama kita menghadapi tekanan di stabilitas kita yaitu khususnya untuk rupiah dan juga untuk inflasi yang trennya kemarin naik di volatile food. Sehingga ini yang menyebabkan kami harus memilih bahwa stabilitas ini menjadi prioritas kita. Dua bulan tersebut sehingga kita naikkan suku bunga,” ujar Destry dalam dalam konferensi pers KSSK, Senin, 3 Agustus 2026.
Baca juga: KSSK: Stabilitas Keuangan RI Kuartal II 2026 Terjaga di Tengah Gejolak Global
Destry mengklaim bahwa dengan kenaikan suku bunga tersebut mendorong inflow ke domestik di Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) di kuartal II 2026.
Destry mencatat inflow yang masuk ke pasar keuangan domestik mencapai USD8,5 hingga USD9 miliar. Menurutnya, inflow tersebut telah menambah cadangan devisa Indonesia.
“Dampaknya kita lihat yang pertama tentu inflow. Inflow masuk ke memang saat ini baru di SBN dan SRBI. Sehingga di kuartal II kenaikannya cukup signifikan. Sehingga totalnya sudah terjadi inflow sekitar USD8,5 sampai USD9 miliar. Jadi itu tentunya akan menambah cadev (cadangan devisa) kita,” jelasnya.
Baca juga: Cadangan Devisa Indonesia Juni 2026 Naik Tipis, Ini Faktor Pendorongnya
Selain itu, dampaknya juga terasa terhadap terjaganya laju inflasi. Terutama pada inflasi volatile food (harga bergejolak) di level 2,52 persen yoy di Juli 2026 dibandingkan bulan lalu di atas 5 persen.
Pun demikian dengan inflasi inti yang berada di level stabil sebesar 2,76 persen yoy dan inflasi inti atau IHK sebesar 2,88 persen turun dibandingkan bulan lalu yang sekitar 3 persen.
“Jadi itu dampak kita bisa lihat stabilitas bisa terjaga sehingga kalau kita lihat juga pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir ini cukup terkendali,” ungkapnya. (*)
Editor: Galih Pratama


