Poin Penting
- Bank Saqu kembali menggelar Solopreneur Society 2026 untuk memperkuat ekosistem dan mendukung pertumbuhan solopreneur di Indonesia.
- Solopreneur dapat mengakses Saku Kredit hingga Rp30 juta serta pembiayaan lebih besar melalui relationship manager.
- Program tahun ini menghadirkan industry insights, networking, dan business matchmaking untuk membuka peluang kerja sama dan akses pasar.
Jakarta – Bank Saqu kembali menggelar Solopreneur Series melalui Bank Saqu Solopreneur Society: The Founders Club 2026 untuk memperluas dukungan bagi pertumbuhan solopreneur di Indonesia.
Program yang sebelumnya dikenal sebagai Solopreneur Academy tersebut telah melibatkan lebih dari 1.000 solopreneur dari berbagai industri sejak 2024. Tahun ini, program dikembangkan dari ruang pembelajaran menjadi growth ecosystem yang menghubungkan founder dengan pengetahuan, jaringan bisnis, dan solusi finansial.
Relationship Banking Director Bank Saqu, Hendrik Komandangi, mengatakan pihaknya menargetkan lebih banyak solopreneur dari sektor coffeepreneur, MICE, F&B, dan bisnis berbasis AI.
“Jadi, kita seperti tahun-tahun sebelumnya kita juga sudah reach out lebih dari seribu potensi founder-founder untuk bisa hadir,” ujar Hendrik pada acara konferensi pers Kick Off Bank Saqu Solopreneur Society 2026 di Jakarta, Kamis, 3 September 2026.
Baca juga: Bank Saqu Perkuat Engagement Komunitas Lewat Footgolf Fun Match
Menurut Hendrik, Bank Saqu akan lebih berfokus pada penguatan ekosistem bisnis bagi solopreneur dari sektor MICE, F&B, dan bisnis berbasis AI yang bergabung dalam program pada akhir September 2026.
“Kerja sama dengan IDN, tentunya, untuk bisa networking dan ekosistemnya. Nah, itu kita harapkan relevansinya itu bisa mendukung perkembangan lebih jauh,” jelasnya.
Solopreneur Butuh Dukungan Ekosistem
Hendrik menjelaskan, perkembangan bisnis tidak hanya membutuhkan kemampuan founder dalam mengelola usaha, tetapi juga dukungan ekosistem yang tepat.
Laporan Striving to Thrive: The State of Indonesian Micro and Small Enterprises 2024/25 menunjukkan lebih dari 50 persen usaha mikro dan kecil yang mengakses satu atau lebih bentuk dukungan bisnis dalam 12 bulan terakhir melaporkan peningkatan pendapatan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan 37 persen usaha yang tidak mendapatkan dukungan.
Dukungan tersebut antara lain berupa pendampingan, pelatihan finansial, pemasaran digital, dan peer networking.
Baca juga: Semester I 2026, Kredit Bank Saqu Melonjak 37,4 Persen Jadi Rp8,6 Triliun
Bank Saqu memulai program tersebut melalui Solopreneur Academy 2024. Program ini menjadi ruang bagi solopreneur yang baru merintis usaha untuk belajar, berbagi pengalaman, dan memperkuat fondasi bisnis.
Pada 2025, program tersebut berkembang dengan mempertemukan lebih banyak solopreneur dari berbagai industri untuk memperluas pengetahuan dan membangun jaringan.
Kini, melalui Solopreneur Society: The Founders Club, Bank Saqu mempertemukan berbagai pihak dalam ekosistem bisnis, mulai dari sesama founder, pemilik brand, supplier, strategic partner, hingga ecosystem buyer.
Ada Akses Pembiayaan
Dari sisi pembiayaan, Bank Saqu menyediakan dua jenis produk yang dapat diakses para peserta Solopreneur.
Pertama, Saku Kredit yang ditujukan bagi nasabah atau solopreneur dengan kebutuhan modal hingga Rp30 juta pada tahap awal.
“Nanti tentunya sesudah dia semakin bertumbuh, 30 juta itu bisa bertumbuh sampai 300 juta dan 500 juta,” kata Hendrik.
Kedua, untuk kebutuhan modal di atas Rp30 juta, nasabah dapat dilayani oleh tenaga penjual atau relationship manager. Layanan tersebut membantu solopreneur mengakses modal kerja maupun mengelola investasi untuk mendukung pertumbuhan usaha.
Baca juga: Momentum Hari Kartini, Bank Saqu Tegaskan Peran Perempuan di Ekonomi Kreatif
Selain Saku Kredit, Bank Saqu juga menyediakan Kredit Modal Kerja untuk memenuhi kebutuhan modal dan aktivitas operasional usaha.
Buka Peluang lewat Business Matchmaking
Berbeda dari Solopreneur Academy yang lebih berfokus pada pembelajaran dan penguatan fundamental bisnis, Solopreneur Society: The Founders Club 2026 menghadirkan tiga bagian utama, yakni industry insights, networking, dan business matchmaking.
Para founder akan mendapatkan perspektif langsung dari praktisi dan ahli mengenai tantangan serta peluang di empat kategori bisnis, yaitu coffeepreneur, food & beverage (F&B), MICE, dan AI.
Baca juga: Solopreneur Academy 2025 Kembali Digelar, Dukung Kreator Lokal Tumbuh Berkelanjutan
Rangkaian sesi tersebut dirancang untuk memberikan wawasan yang relevan dan dapat diterapkan sesuai karakteristik serta kebutuhan masing-masing industri.
Setelah mendapatkan wawasan, para founder dapat mengikuti business matchmaking. Dalam sesi ini, mereka dipertemukan dengan pelaku bisnis yang relevan berdasarkan kebutuhan dan potensi usaha masing-masing.
Pertemuan tersebut diharapkan dapat membuka peluang kerja sama, akses pasar, hingga bisnis baru. (*) Steven Widjaja


