Poin Penting
- Bank Mega menilai kepercayaan nasabah menjadi faktor utama keberhasilan adopsi AI di industri perbankan.
- Implementasi AI harus didukung akurasi model, keamanan sistem, privasi data, kepatuhan regulasi, dan prinsip etika.
- Kecepatan adopsi AI diperkirakan menjadi penentu daya saing bank dalam beberapa tahun ke depan.
Jakarta – Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diperkirakan akan menjadi faktor penting dalam menentukan daya saing industri perbankan di masa depan. Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi tersebut, aspek kepercayaan tetap menjadi fondasi utama yang tidak boleh diabaikan.
Direktur Information Technology (IT) dan Operations PT Bank Mega Tbk, Y.B. Hariantono, mengungkapkan, mengatakan nilai utama industri perbankan adalah kepercayaan masyarakat. Karena itu, penerapan AI harus dilakukan secara bertanggung jawab agar kepercayaan nasabah tetap terjaga.
“Nilai sebuah bank pada dasarnya adalah kepercayaan masyarakat untuk melakukan aktivitas perbankan bersama kami. Karena itu, ketika mengadopsi AI, kita harus melakukannya secara bertanggung jawab untuk memastikan bahwa kepercayaan tersebut tetap terjaga,” ujar Hariantono dalam acara bertajuk International Conference Perbanas Institute 2026 di Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026.
Baca juga: Bank Swasta Terimbas DHE SDA Wajib di Himbara? Ini Penjelasan OJK
Menurutnya, ada beberapa komponen utama yang perlu diperhatikan dalam membangun kepercayaan terhadap AI. Pertama, model AI yang dipergunakan harus akurat dan tidak menimbulkan sisi bias.
Kedua, kata dia, perlindungan privasi data nasabah menjadi prioritas. Tak hanya itu, aspek keamanan sistem, kemampuan menjelaskan alasan di balik rekomendasi AI (explainability), kepatuhan terhadap regulasi, serta penerapan prinsip etika juga menjadi faktor penting.
“Ke depan, persaingan dalam penerapan AI tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknologinya, tetapi juga oleh unsur kepercayaan yang menjadi bagian penting dalam lanskap persaingan tersebut,” jelasnya.
AI Perbankan Dimulai dari Fondasi Data
Ia menjelaskan, perjalanan transformasi menuju AI perlu diawali dengan pembangunan fondasi data yang kuat. Tahapan tersebut, terdiri dari pengembangan platform data terintegrasi, pemanfaatan advanced analytics, hingga implementasi AI di tingkat perusahaan (Enterprise AI).
Ia bilang, pengembangan Large Language Model (LLM) juga harus mempertimbangkan aspek kedaulatan data. Di mana, perbankan harus memastikan bahwa data tetap berada dalam lingkungan yang bisa dikendalikan perusahaan.
Baca juga: Seskab Teddy Ungkap Biaya Tambahan Perjalanan Luar Negeri Prabowo
“Jika hanya mengandalkan platform seperti Google atau Microsoft, maka pada dasarnya data kita ditempatkan di luar infrastruktur yang kita miliki. Karena itu, kita perlu membangun kemampuan AI perusahaan sendiri (Enterprise AI). Setelah itu, implementasinya dapat diperluas ke layanan dan operasional perbankan secara menyeluruh (Enterprise Banking),” bebernya.
Adopsi AI Bukan Lagi Pilihan
Ia pun memperkirakan, bank-bank yang tergolong fast adopter membutuhkan waktu sekitar 3-5 tahun untuk mencapai kematangan implementasi AI. Namun, ia menilai kecepatan adopsi akan menjadi faktor pembeda dalam persaingan industri ke depan.
“Yang tercepat akan menjadi pemenangnya. Karena itu, kita harus mengadopsi AI secepat mungkin dan memperoleh manfaatnya sedini mungkin,” katanya.
Ia menambahkan, keberhasilan implementasi AI juga bisa diukur melalui beberapa indikator, seperti kecepatan layanan, lebih sederhana, lebih aman, lebih personal, dan lebih produktif.
Dari sisi nasabah, AI harus mampu menghadirkan pengalaman layanan yang lebih mudah dan personal.
Sementara bagi karyawan, teknologi tersebut harus membantu meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Adapun bagi pemegang saham, keberhasilan AI harus tercermin dalam peningkatan return on investment (ROI) dan penciptaan nilai bisnis yang lebih besar. (*)
Editor: Yulian Saputra


